Selling My Virginity (Menjual Keperawanan Ku)

Selling My Virginity (Menjual Keperawanan Ku)
Selling My Virginity Ch 90.


__ADS_3

Seminggu sudah berlalu. Sejak malam itu Beby tidak. isa menghubungi Agil. Dia juga mencoba menghubungi kakaknya Bagas. Tapi kedua pria itu tidak ada yang mengabarinya.


Beby merasa dirinya hampir gila. Kini dia terjebak di Amsterdam dirumah Nenek nya selama semingguan penuh. Ditambah dengan mual-mual dipagi hari yang sedikit menyiksanya.


Kini Beby tengah duduk di taman belakang rumah. Ia melamun sampai-sampai tidak menyadari Freeya sang adik berdiri di sebelahnya.


“Kak,” ucap Freeya menyentuh pundak Beby.


“Eh, kamu.” Beby tersenyum paksa sekilas lalu kembali murung menatap lurus ke depan.


“Apakah pacar kakak masih belum bisa dihubungi?”


Beby mengangguk dengan tatapan yang masih kosong. “Entah dia pergi kemana, seperti nya dia benar-benar sudah meninggalkan ku,” lirih Beby dengan suara bergetar.


Matanya sudah sangat bengkak, karena hampir setiap malam dalam seminggu ini dia menangis. Karena itu air matanya tidak lagi menetes, jika dia paksa mungkin darah yang akan keluar. “Apa yang harus aku lakukan sekarang?” batin Beby.

__ADS_1


“Yang sabar yah kak, itu nenek memanggil kakak. Ayo masuk,” ajak Freeya.


“Pergilah duluan, aku akan menyusul.”


Freeya pun pergi meninggalkan nya sendiri. Beby meringkuk diatas bangku. Duduk memeluk kedua lutut dan menenggelamkan wajah di kedua lututnya itu.


“Agil, kenapa kamu menghilang seperti ini?”


Beby benar-benar merasa putus asa. Ia kembali merasa ditinggalkan. Ia bingung harus berbuat apa. Frustasi sekali. Jika biasanya jika dia merasa bingung dan tidak tahu harus berbuat apa. Ada Agil yang selalu membuatnya tenang dan menemaninya di saat ada masalah. Tapi sekarang apa? Agil menghilang tanpa kabar selama seminggu, membuat Beby ingin berteriak memaki pria itu dengan kasar.


Di dalam ruang keluarga. Langkah Beby terhenti. Dia sangat terkejut, sampai-sampai ponsel yang ada ditangan nya terlepas jatuh ke lantai.


Beby berdecak kesal tanpa sadar air mata nya menetes. Tidak mengerti dengan pemikiran sang nenek. Bagaimana bisa dirinya yang baru saja seminggu tinggal ditempat ini. Sudah mau dijodohkan dengan seseorang.


“Pokoknya Beby gak mau! Kalau nenek bersikeras Beby akan pergi dari rumah ini dan kembali ke kota J.”

__ADS_1


“Beby, sayang dengarkan dulu perkataan nenek mu,” ucap Linda yang ikut berdiri memegangi lengan Beby untuk tenang.


“Nenek sudah mengatur pertemuan siang ini, Beby kamu sudah cukup dewasa untuk menikah,” ucap Nenek nya dengan penuh penekanan.


“Bunda, kenapa diam saja? Bunda tau kan Beby sudah punya pacar,” decak Beby kepada Linda.


Linda ikut menangis. “Sayang, ku lihat sekarang dia tidak ada disini, dan dia juga sudah menghilang tidak mengabari mu semingguan ini.”


“Enggak, pokoknya Beby gak mau, hiks hiks bunda nenek plis,” ucap Beby memohon dengan tangisannya.


“Nenek tidak mau tahu, siang ini kamu harus bersikap baik kepada tamu kita. ”


Beby melangkah pergi dengan kasar dia menutup pintu kamarnya dengan hempasan kuat. Dia menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur. Lalu mulai menangis terisak-isak hingga dadanya terasa sesak.


“Agil ... brengsek kamu dimana! Hiks hiks.”

__ADS_1


“Kamu menghilang gitu aja, apa kamu tau aku disini tersiksa! Bajingan kamu sama saja seperti Dewa, aku membencimu!”


Beby tidak memperdulikan lagi ponselnya yang rusak karena terjatuh. Dia mengurung diri di dalam kamar, tidak mau makan atau beranjak dari tempat tidur. Beby hanya ingin menangis terus menerus.


__ADS_2