
Dian masuk kedalam ruang kerja Bagas. Membawa berkas data milik Nina. Karena Bagas meminta Dian mencarikan data pribadi Nina. Dian merasa aneh, meskipun wajar jika seorang atasan hendak mengetahui data karyawan nya. Tapi tetap saja Dian merasa jika ada sesuatu antara Bagas dan Nina.
“Ini Tuan,” kata Dian seraya menaruh berkas tersebut di depan Bagas yang sibuk dengan laptopnya.
Bagas meraih berkas tersebut dan mulai membaca setiap rinci data milik Nina. Bagas tersenyum dan hampir tertawa. Ketika melihat foto Nina yang tersenyum lebar. Tapi ditahan nya karena berada di depan Dian.
“Dasar culun ... tersenyum pun dia sangat jelek,” batin Bagas.
Akan tetapi mata Bagas menangkap sesuatu yang aneh. Yaitu pada kolom nama, disitu tertulis bukan nama Nina. Melainkan,
“Frederica Mochini?” Bagas mendongak menatap Dian.
“Benar Tuan, itu nama Nona Nina yang sebenarnya ... dia merasa aneh dengan nama itu. Karena itu dia meminta bagian personalia untuk memberikan nya kartu karyawan dengan nama ‘Nina’,” jelas Dian.
Bagas terkekeh sambil geleng-geleng kepala. “Si culun ini ada-ada saja ... Frederica Mochini?”
“Dia yatim piatu?” Kembali Bagas menatap Dian meminta penjelasan.
“Benar Tuan, dia yatim piatu sejak kecil dan tinggal bersama paman, bibi, dan kakak sepupu perempuan nya.”
“Oohh.”
Sudah cukup Bagas pun mengembalikan berkas itu kepada Dian. “Kau boleh pergi,” titah nya kemudian.
Sebelum keluar dari ruangan itu, Dian kembali menoleh ke arah Bagas. Semakin penasaran melihat Bagas yang senyum-senyum sendiri menatap langit-langit ruangan sambil memutar-mutar kursinya ke kiri dan kanan.
Sedangkan diluar ruangan. Nina terus menatap layar ponselnya. Dan sesekali menempelkan benda pipih itu di telinga nya.
“Bagaimana caranya aku mengabari Gio jika aku akan pulang sedikit malam ... kenapa juga Kak Gery tidak mengangkat panggilan ku sih?” decak Nina tidak tenang.
🌺🌺🌺
Bagas melirik arloji di tangan kirinya. Waktu sudah menunjukkan pukul 4 sore. Ia pun beranjak dari kursinya. Nampak sebuah senyuman tergambar diwajah tampan nya. Meskipun tidak jelas apa yang membuat dirinya sendiri tersenyum.
Bagas merapikan lengan kemeja putihnya, melipatnya setengah lengan. Lalu mengacak sedikit rambutnya yang tersisir rapi sejak pagi. Ia pun berjalan ke arah pintu dan tidak lupa membawa jas nya yang kotor di dalam sebuah totebag berwarna hitam.
“Apa kau sudah menyiapkan mobil?” tanya Bagas menghampiri meja kerja Dian yang ada di depan ruang kerjanya.
“Sudah Tuan. Silahkan,” jawab Dian sigap. Dia mempersilahkan Bagas berjalan di depan nya.
Bagas mengedarkan pandangan nya ke arah meja kerja Nina. Wanita itu sedang sibuk dengan komputernya. Hingga tidak memperhatikan Bagas yang sedang melintas. Langkah Bagas terhenti dia pun memanggil Nina. Membuat para karyawan menatap ke arah nya.
“Nona Nina.”
__ADS_1
Nina tersentak kaget dan langsung menatap ke arah sumber suara. Dia berdiri tegap layaknya kepada atasan.
“Sudah waktunya,” ucap Bagas menunjuk arlojinya.
“Baik Tuan, saya akan segera bersiap-siap,” jawab Nina. Wanita itu langsung merapikan meja kerjanya dan mematikan komputer.
Semua para karyawan berbisik-bisik menatap Bagas dan Nina. Ada yang berdecak kagum dengan ketampanan Bagas. Ada juga yang menyindir tentang Nina yang katanya sengaja mendekati bos baru. Tapi perkataan-perkataan itu lewat begitu saja ditelinga Nina. Dia tidak memperdulikan nya.
***
Di perjalanan di dalam mobil. Bagas dan Nina duduk bersebelahan di kursi belakang. Wanita itu hanya diam menatap keluar jendela. Membuat Bagas kembali teringat saat mereka berada di Paris. Saat itu Nina yang juga hanya diam tanpa berkata-kata duduk di dalam mobilnya.
“Eehmm.”
Sontak Nina menoleh ke arah Bagas. “Ada apa?”
“Dian berhenti di sebuah toko sepatu,” titah Bagas kepada Dian. Nina mengerinyit kan dahinya.
“Baik, Tuan.”
Dian pun memberhentikan mobil di depan sebuah toko sepatu. Dari luarnya saja, sepertinya toko tersebut menjual sepatu-sepatu mahal.
Bagas tersenyum dia menatap Nina yang masih menatapnya penuh tanya. “Turunlah,” ucap nya.
“Banyak tanya, ayo keluar.” Bagas membuka pintu mobil di sebelahnya kemudian menarik Nina keluar dari mobil.
Mereka bertiga masuk ke dalam toko tersebut. Dua pelayan wanita langsung menyambut hangat dan ramah.
“Silahkan Tuan, Nona. Mau cari sepatu buat pria atau wanita?” ucap salah satu pelayan tersebut.
“Sepatu kerja wanita kantoran,” ucap Bagas seraya menatap sekeliling toko itu.
“Berikan desain terbaru, masalah harga tidak masalah.”
“Baik, Tuan. Nona mari silahkan duduk disini,” ucap pelayan itu lagi seraya mempersilahkan Nina untuk duduk di salah satu sofa. Dengan Bagas yang duduk tepat disebelahnya. Mereka berdua sudah seperti sepasang kekasih dimata Dian.
“Apa yang kau lakukan?” bisik Nina mendekat pada Bagas.
“Tentu saja membelikan mu sepatu,” jawab Bagas santai.
“Bukan itu maksudku, tapi-”
Nina melirik Dian yang berdiri dibelakang Bagas. Bagas pun ikut melirik Dian. Dia mengerti dengan yang di rasakan oleh Nina. Pasti dia merasa tidak enak.
__ADS_1
“Tadi aku tidak sengaja merusak sepatu milik Nona Nina. Karena itu aku ingin menggantinya dengan yang baru. Sebagai kompensasi sudah merusaknya, Dian apa kau tidak keberatan menunggu di mobil saja?”
“Baik Tuan, tidak masalah. Saya akan menunggu dimobil.”
Ia pun berjalan meninggalkan toko. Kembali ke dalam mobil menunggu Bagas dan Nina sampai selesai.
“Bisa-bisanya aku disuruh tunggu dimobil. Aku semakin penasaran dengan hubungan mereka. Kenapa mereka terlihat akrab sekali?” gerutu Dian di dalam mobil.
Sedangkan masih di dalam toko sepatu itu. Sudah kesekian kalinya sepatu yang di coba Nina. Namun Bagas menolak nya. Nina merasa tidak tenang karena sudah terlalu la membuang waktu di toko sepatu itu.
“Bagas!” decak Nina kesal.
Bagas menajamkan tatapan nya. Dia melirik dua pelayan itu, mereka mengerti dan langsung meninggalkan keduanya.
“Ada apa?” tanya Bagas ketus.
“Kau bilang aku hanya perlu ikut dengan mu karena masalah jas ... tapi ini apa? Kita sudah membuang waktu terlalu lama disini?”
Bagas menatap arloji ditangan kirinya. Memang benar jam sudah menunjuk kan pukul lima sore. Satu jam sudah berlalu, tapi kenapa waktu begitu cepat berlalu. Pikir Bagas.
“Pilih terserah saja yang mana, lalu kita akan pergi!” ucap Bagas dingin. Karena kesal dengan sikap Nina yang marah-marah.
Ia pun beranjak dan meninggalkan Nina sendiri. Dan pergi melihat-lihat sekeliling. Nina pun memandang punggung tegap Bagas yang menjauh. Dia sadar jika perkataan nya sedikit kasar. Namun mau bagaimana lagi, dia tidak mau berlama-lama ada di toko itu.
“Mba, tolong sepatu yang kedua tadi saja,” ucap Nina kepasa pelayan.
“Baik Nona, silahkan bayar di kasir.”
Pelayan itu membungkus rapi sepatu pilihan Nina di dalam kotak nya. Bersamaan dengan pelayan yang lain, berbicara kepada Bagas di meja kasir. Bagas memperhatikan Nina yang menjauh.
“Kenapa masih tidak bisa dihubungi sih? Kak Gery, ayolah jawab telpon ku?” decak Nina kesal menatap ponselnya.
“Apa yang kau lakukan disini?”
Nina terkejut sontak dia langsung berbalik. Menatap Bagas dengan wajah gugup nya. Sejak kapan pria itu ada di belakang nya.
“Aku tidak sedang apa-apa ... apakah sepatunya sudah dibungkus? Ayo kita pergi dari sini,” ucap Nina tersenyum sumbang dan meninggalkan Bagas.
Bagas menatap heran kepergian Nina. Dia memandangi Nina yang berjalan ke arah kasir mengambil totebag berisi kotak sepatu dan keluar dari toko.
“Sebenarnya apa yang membuatnya tidak tenang?” pikir Bagas.
TBC.
__ADS_1