
Setelah dipasangkan selang infus, Kaisar dipindahkan ke ruang VIP. Untuk dirawat beberapa hari di rumah sakit. Freeya meminta Daniel untuk ikut ke dalam ruangan nya.
Daniel dengan ditemani oleh Dion, mengikuti Freeya keruangan nya. Di dalam ruangan nya, Freeya mempersilahkan Daniel untuk duduk tepat di kursi yang sudah disiapkan. Tepat berhadapan dengan nya.
“Tuan, Daniel Adichandra,” ucap Freeya membaca berkas milik Kaisar.
“Jadi ada apa dengan anak saya?” tanya Daniel.
Daniel tidak mengalihkan pandangan nya dari Freeya. Tatapan nya seperti mengisyaratkan bukan hanya tentang keadaan Kaisar saja yang ingin dia ketahui. Tapi ada hal lain juga yang ingin dia ketahui dari Freeya. Dan Freeya menyadari hal itu.
“Apa-apaan, pria ini! Kenapa dia menatapku seperti itu?” batin Freeya.
“Anak anda hanya mengalami kelelahan, dan beberapa hari di rumah sakit akan membantunya pulih ... selama disini saya juga akan memantau terus perkembangan nya, jadi anda tidak perlu khawatir,” jelas Freeya.
“Kamu memberikan nya obat apa?” tanya Daniel.
Sontak Freeya terkejut dan mengerinyit. Freeya menatap Daniel dan menatap Dion secara bergantian. “Maksud, Tuan apa? Tentu saja saya akan memberikan obat-”
“Aku pikir kamu akan memberikan anak ku sebuah racun,” cetus Daniel.
Membuat Freeya semakin tidak mengerti. Freeya tersenyum paksa dengan tatapan yang tajam. “Hahaha, tentu saja tidak, Tuan Daniel Adichandra ... bagaimana bisa anda berpikiran seperti itu,” jawab nya.
__ADS_1
“Karena tatapan mu padaku, seperti tidak suka ... aku takut jika kamu akan meracuni Kaisar.”
Freeya menelan salivanya, dia menghela nafas sembari menyelipkan helaian rambutnya di belakang telinga. Dia tersenyum pada Dion yang hanya diam.
“Pria ini! Apa-apaan, kenapa dia bicara seperti itu ... menyebalkan!" gerutu Freeya di dalam hati.
Daniel tersenyum tipis, masih dengan tatapan yang intens kepada Freeya. “Akhirnya kita bertemu lagi!”
“Dion, kamu bisa meninggalkan kami sebentar ... periksa Kaisar, pastikan ruangan yang akan dia tempati, tidak kekurangan apapun,” perintah Daniel pada Dion.
“Baik, Tuan.” Dion pun pergi.
Kaisar beranjak dari kursinya. Dia berjalan mendekati Freeya yang duduk kaku di kursi kerjanya. “Dokter Freeya,” ucapnya seraya menyentuh ID CARD yang tergantung di jas putih milik Freeya.
Daniel merogoh sesuatu didalam saku celananya. Lalu menempelkan sebuah kertas ke dahi Freeya. Membuat wanita itu tersentak kaget.
“Kamu pikir aku ini pria apaan?” ucap nya seraya mundur selangkah.
Freeya meraih kertas yang tertempel di dahinya. Lalu menengadah menatap Daniel yang berdiri tepat dihadapan nya.
“Membayar ku dengan cek receh seperti itu ... kamu pikir bisa menghilang gitu aja? Kamu harus tanggung jawab!”
__ADS_1
“Tanggung jawab?” Freeya melotot. “Memangnya kamu merasa dirugikan? Seharusnya aku yang bicara seperti itu padamu!”
Freeya berdiri dan berkacak pinggang di depan Daniel. Pria itu tersenyum sambil geleng-geleng kepala. Freeya semakin kesal terhadap pria yang ada di hadapan nya itu.
“Bodoh!” Daniel menonjol dahi Freeya dengan telunjuknya. “Kalau sudah tahu seperti itu ... kenapa kamu meninggalkan cek ini untuk ku?”
Bibir Freeya berkedut ingin menjawab. Namun diurungkan nya, dia memilih membuang muka ke arah lain.
“Dasar pria aneh!” desis nya pelan.
“Aku bisa mendengarnya!” ucap Daniel.
Tiba-tiba saja seorang perawat masuk ke dalam ruangan Freeya. Membuat keduanya sama-sama terkejut.
“Dokter Freeya-” Perawat itu mematung melihat Freeya dan juga Daniel yang saling berdekatan.
“Rani, hmm ... ada apa?” Freeya mendorong Daniel dan segera menghampiri perawat bernama Rani itu.
“Be-begini Dok, mengenai pasien atas nama Kaisar,” ucap Rani menjelaskan dengan terbata-bata.
“Baiklah Ran, ayo kita lihat keadaan nya...” Freeya ikutan gugup dia menggandeng Rani keluar dari ruangan nya itu. Meninggalkan Daniel sendirian.
__ADS_1
To be continued...