
Dian membukakan pintu untuk nya. Ia pun segera turun dari mobil. Menjajakan langkah pertamanya di perusahaan tersebut. Namun ponselnya tertinggal di dalam mobil.
Matanya membulat, dengan gerak cepat ia langsung berlari mengejar seseorang yang tidak sengaja dia lihat. Dian terkejut melihat bos nya yang tiba-tiba berlari ke arah jalan raya.
“Tuan,” teriak Dian mengejar langkah Bagas.
“Tuan,, awas!”
Dian menarik Bagas tepat pada waktunya. Jika tidak sedikit saja Bagas akan terserempet truk tangki pembawa bahan bakar minyak.
Bagas diam terpaku, dia sangat terkejut. Hampir saja nyawanya melayang. Hanya gara-gara mengejar pria brengsek yang selama ini dia cari bersama Agil.
“Tuan, apa anda baik-baik saja?” tanya Dian cemas, seraya mengecek tubuh Bagas jika ada yang lecet.
Bagas menepis tangan Dian. Lalu memperbaiki jas nya sendiri. “Aku baik-baik saja.”
“Ada apa Tuan? Apa seseorang yang anda kenal lewat sini?” tanya Dian penasaran dengan alasan sang bos berlari tanpa memikirkan keselamatan nya.
“Tidak ada ... ayo kita masuk!”
Bagas berjalan memasuki lobby. Dengan disusul Fian di belakang nya. Menuju lift khusus CEO, naik ke lantai 10. Dimana ruangan kerja Bagas berada.
Sesampainya di lantai tersebut. Bagas dan Dian melewati departemen keuangan yang juga ada di lantai tersebut. Para karyawan masih sedikit, karena sebagian masih belum masuk.
Bagas memperhatikan dengan seksama. Ia melirik arloji di tangan kirinya. Sambil geleng-geleng kepala. Tepat pukul sembilan pagi.
“Perusahaan ini benar-benar banyak yang harus diperbaiki ... jam segini seharusnya para karyawan sudah berada di meja mereka dan mengerjakan tugas masing-masing. Tapi, lihatlah sekarang ... bahkan banyak kursi yang masih kosong!”
Bagas membanting pintu ruangan nya. Dian sangat terkejut. Dia bisa merasakan suasana di dalam ruangan tersebut menjadi dingin mencekam.
“Perusahaan ini apa tidak ada peraturan bahwa jam 9 pagi, semua karyawan sudah berada di kantor!” bentak Bagas seraya duduk di kursi kerjanya. Tatapan nya tajam menatap Dian yang berdiri sigap di depan nya.
“Maaf, Tuan. Kami disini memberikan waktu dispensasi untuk karyawan untuk sarapan di kantin perusahaan sebelum jam kerja dimulai.” Dian menjelaskan dengan membawakan beberapa dokumen dan memberikan nya untuk Bagas baca.
“Bullshit!” Bagas melempar kertas-kertas itu ke udara.
“Enak sekali mereka! Mulai sekarang tidak ada waktu dispensasi untuk sarapan atau yang lain nya. Keluarkan peraturan baru, jam delapan pagi semua karyawan harus berada di meja masing-masing. Jika terlambat satu detik saja suruh dia pulang dan berikan surat peringatan 1. Tiga kali mendapat surat peringatan, langsung keluarkan!”
Dian menelan salivanya mendengar perintah dari Bagas. Sungguh kejam dan tidak berperasaan. Dian menundukkan pandangan nya, ketika bagas menatap nya tajam.
“Kenapa menatap ku seperti itu? Cepat lakukan sekarang!”
“Baik Tuan. Peraturan ini akan di berlakukan minggu depan atau minggu depan nya lagi?”
Bagas menautkan sebelah alisnya menatap aneh Dian. “Apa maksudmu minggu depan? Tentu saja peraturan itu berlaku mulai besok! Cetak dan tempel di papan pengumuman, biar semua karyawan melihatnya.
__ADS_1
“Baik, Tuan. Akan segera saya laksanakan."
Dian bergegas keluar dari dalam ruangan Bagas. Dia memperhatikan sekelilingnya. Memang benar yang dikatakan Bagas. Tidak sedap di pandang jika keadaan kantor di jam segini, masih kosong seperti ini.
“Aku yakin, Tuan Prayoga bisa membuat perubahan besar untuk perusahaan ini,” gumam Dian.
***
Disisi lain pagi itu.
Nina yang baru saja turun dari mobil seorang pria. Tersenyum dan melambai kepada pria tersebut dan seorang anak kecil laki-laki yang usianya sekitar empat tahun.
“Mommy, cium Gio duyu ... puyang nya jangan mayam-mayam yah,” rengek anak tersebut dengan kepala yang keluar dari jendela mobil.
Nina tersenyum dan kembali mendekat ke mobil. Dia mencium pucuk kepala anak tersebut dengan penuh kasih.
“Iya sayang, Mommy pulang nya gak malam kok. Gio yang pintar yah sama Papah.”
Anak kecil tersebut pun mengangguk dengan wajah imut nya dia kembali duduk dengan tenang. Nina pun berdalih menatap pria yang duduk di kursi kemudi.
“Kak, aku titip Gio ya ... nanti sore aku jemput dia di rumah kakak,” ucap Nina.
“Aku pasti jaga Gio dengan baik kok, Nin. Kan Gio juga anak aku,” ucap pria itu tersenyum kepada Nina.
Nina pun masuk ke lobby perusahaan nya. Sebelum nya ia terlebih dulu absen dengan finger print yang sudah disediakan. Kemudian naik ke lantai tempat departemen keuangan dimana dia tempatkan.
Langkah Nina terhenti ketika melewati lift khusus CEO. Saat itu pintu lift sudah hampir tertutup. Tak sengaja memperlihatkan sekilas dua orang pria di dalam nya. Salah satu pria itu sangat familiar.
“Akhh, tidak mungkin itu dia. Sepertinya karena begadang menemani Gio semalam, membuat mataku kurang jernih pagi ini.”
Nina pun masuk ke dalam lift karyawan dan menekan tombol lantai 10. Sesampainya di lantai tersebut ia segera keluar dari lift. Dia menatap ruangan CEO yang tidak jauh dari meja nya.
Dahi nya mengkerut ketika melihat pintu itu di tutup dengan sangat keras. Saking kerasnya sampai suaranya menggema di seluruh koridor.
“Sepertinya akan ada pemimpin baru untuk perusahaan ini ... bagus lah, mungkin saja pemimpin itu bisa membangkitkan lagi perusahaan ini dari ancaman kebangkrutan.”
Nina mulai mengatur meja kerjanya. Dia melihat pintu ruangan CEO kembali terbuka. Pak Dian Kusuma keluar, Nina mengenalinya. Siapa yang tidak mengenal Dian di perusahaan itu. Karena sebelum nya saat pemimpin yang terakhir dipecat. Dian mengambil alih semua pekerjaan nya. Dan alhasil karena kinerja Dian yang bagus. Perusahaan sedikit demi sedikit naik kembali.
“Ada apa? Kenapa wajah Pak Dian lusuh begitu? Seperti nya pemimpin baru ini sangat pemarah.”
Entah kenapa Nina jadi merasa penasaran dengan pemimpin baru itu. Meja nya yang tidak jauh dan berhadapan jelas dengan pintu ruangan CEO. Membuat Nina semakin penasaran dengan sosok baru tersebut.
***
Pagi pun berganti siang dengan cepat. Sudah waktunya makan siang. Nina yang baru kembali dari kantin. Membawa segelas cup kopi di tangan nya. Dia melihat bagian papan pengumuman yang ramai di kelilingi para karyawan. Mereka semua berwajah cemberut dan terlihat kesal.
__ADS_1
Karena penasaran Nina pun mendekat dan bertanya kepada salah satu teman nya.
“Ada apa itu?”
“Ada peraturan baru yang di tempel oleh Pak Dian ... katanya sih dari pemimpin baru.” Teman tersebut menatap sinis bagian kantor CEO di ujung sana.
Nina mengikuti arah mata teman nya itu lalu kembali memalingkan pandangan dari kantor CEO itu.
“Memang nya peraturan nya apa?”
“Tidak ada jam untuk sarapan lagi, jam delapan pagi semua karyawan sudah harus berada di kantor!”
“Benarkah?”
“Baguslah, akhirnya ada pemimpin yang berotak waras juga,” batin Nina.
“Kau ini! Kenapa malah tersenyum?”
Nina tersentak kaget ketika lengan nya disikut. Ia pun jadi kikuk. “Hahaha, memang nya kenapa jika aku tertawa. Sudahlah tidak perlu diambil pusing, namanya juga peraturan perusahaan. Jika kalian masih ingin bekerja disini, maka ikuti saja peraturan itu,” ucap Nina.
Ia pun berbalik badan dan hendak meninggalkan kerumunan tersebut. Tapi saat berbalik matanya tidak melihat jika ada orang yang berdiri di belakang nya.
BYUR.
Dia menabrak pria tersebut dan mengotori jas mahal nya dengan kopi. Mata Nina membulat melihat jas mahal itu menjadi kotor. Dia menunduk dan meminta maaf kepada pemilik jas itu.
“Maafkan saya, maaf.”
Suara langkah kaki berlari mendekati mereka berdua. Yang ternyata adalah Dian. “Tuan, apa anda baik-baik saja?"
“Apa menurutmu aku baik-baik saja sekarang?” ucap pria itu dengan suara pelan namun penuh penekanan.
Deg.
Tiba-tiba saja jantungnya berdegup sangat cepat. Mendengar suara yang sangat familiar. Dengan penuh rasa takut perlahan ia menegakkan kepalanya. Melihat pria yang sudah dia tabrak itu.
“Bagas?”
Keduanya saling menatap dengan wajah yang sama-sama terkejut bukan main. Bibir Nina bergetar ingin berkata namun tidak bisa. Begitu pun juga dengan Bagas yang hanya bisa mengerutkan dahi menatap wanita cantik di depan nya itu.
“Tanpa kaca mata, dia memang si culun,” batin Bagas.
“Apa yang dia lakukan disini? Tidak mungkin, jangan-jangan dia adalah pemimpin baru itu?” batin Nina.
TBC.
__ADS_1