Selling My Virginity (Menjual Keperawanan Ku)

Selling My Virginity (Menjual Keperawanan Ku)
Selling My Virginity Ch 44.


__ADS_3

Sesampainya di restauran yang sudah dijanjikan. Restauran bintang lima dengan pelayanan yang memuaskan dan pemandangan alam yang menakjubkan. Tempat para pejabat tinggi dan orang-orang kelas atas seperti keluarga Ganendra melakukan jamuan makan malam.


Di dalam mobil yang terasa sangat dingin itu. Kedua orang di kursi belakang tidak mau bicara satu sama lain. Bagas merasa bingung harus berbuat apa.


"Tuan, Nyonya silahkan ... kita sudah sampai," ucap Bagas.


Agil menoleh ke arah Amanda atau ibu tirinya itu. "Apa kau mau terus berada di dalam mobil atau turun masuk kedalam. Agar acara ini cepat selesai," seloroh Agil dengan ketusnya.


"Kau turun duluan dan bukakan aku pintu mobil, aku ini ibu tiri mu! Kau harus sopan padaku, apa kau mau nenek mu marah?" ucap Amanda.


"Huft!" Agil menghela nafas kasar. Dengan kesal dia turun dari mobil dan membukakan pintu untuk Amanda.


"Terima kasih," ucap Amanda keluar dari mobil. Saat Agil hendak melangkah, dia meraih lengan pria itu. Lalu menggandengnya.


"Apa yang kau lakukan?" Agil merasa risih. Bagas yang masih di dalam mobil. Tertawa geli melihat Agil yang sangat kesal terhadap Amanda. "Rasain kau, ckckck."


"Kenapa? Aku hanya menggandeng anak ku, memangnya tidak boleh! Berhenti marah-marah tidak jelas, ayo cepat kita masuk!" ucap Amanda.

__ADS_1


Mau tidak mau Agil pun menuruti perkataan Amanda. Mereka berdua berjalan memasuki restauran tersebut. Menuju ruangan VIP yang sudah dipesan khusus oleh keluarganya.


🌺🌺🌺


Masuk kedalam ruangan VIP. Semua pandangan mata tertuju pada Amanda yang menggandeng tangan anak sambungnya itu.


Di meja bundar yang besar dan mewah itu, sudah berkumpul keluarganya. Nenek nya, Tante dan Om nya, serta anak-anak dari Tante dan Om nya.


Nenek Agil tersenyum dengan wajah keriputnya dia memangil Agil untuk duduk di sampingnya. Sedangkan Tante Laras mencibir dengan bola mata yang berputar. Jengah dengan Agil dan Amanda.


Mereka pun memulai acara makan malam itu.


"Agil, bagaimana pekerjaan mu? Apa kau sudah terbiasa dengan jabatan mu?" tanya Nenek nya.


"Baik-baik saja, nenek tidak tidak perlu cemas!" jawab Agil sambil memotong daging di piring nya, lalu memakannya.


"Baguslah sayang," ucap sang Nenek mengelus bahu Agil dengan lembutnya. Agil tersenyum paksa di depan semua orang. Jika bukan karena nenek nya dia tidak mau berkumpul seperti ini.

__ADS_1


"Oh iya, Agil perkenalkan ini Om Lucas dan istrinya, dia teman Om," ucap Om Bima suami Tante Laras. Dia memperkenalkan sepasang suami istri asing yang duduk bersama mereka.


"Hmm," jawab Agil tersenyum dan mengangguk.


"Dan ini perkenalkan Melanie anak Om Lucas, kalian satu kampus kan!" celetuk Tante Laras sambil merangkul wanita muda yang duduk di sebelahnya.


"Hai," sapa Melanie tersenyum kikuk kepada Agil. Sedangkan Agil hanya tersenyum biasa, lalu kembali menyantap makanan nya.


"Melanie, kau cantik sekali sayang, sudah lama Tante gak ketemu kamu, sekarang kamu sudah secantik ini," puji Tante Laras kepada Melanie.


Agil tidak memperdulikan nya. Sedangkan Amanda menatap Melanie dengan tatapan menyelidik. Dia merasa ada sesuatu yang tidak beres dari awal masuk. Karena ada orang asing di tengah-tengah acara makan malam keluarga ini.


Dia menggelengkan kepalanya. Berusaha menepis tebakan nya di dalam hati. "Tidak mungkin," gumam nya.


"Oh iya Agil!" seru Tante Laras. Agil mendongak menatap Tante Laras, lalu kembali ke makanan nya.


"Jadi sebenarnya, Tante dan Om mu mau menjodohkan mu dengan Melanie, kau tidak perlu menyelesaikan kuliah mu, segeralah menikah dan punya anak! Karena sekarang kau--"

__ADS_1


__ADS_2