
Dian mengantar Bagas dan Nina ke apartemen bos nya itu. Di perjalanan, Dian hanya bisa merasakan aura-aura permusuhan di antara keduanya.
“Apa mereka berdua ini dulunya pernah jadi musuh?” batin Dian. Tidak berani melirik ke belakang, karena ia takut dimarahi lagi oleh Bagas seperti tadi pagi.
“Apa mobil ku sudah dikirim kemari?” tanya Bagas ketika Dian memberhentikan mobil di depan lobby apartemen.
“Sudah, Tuan. Tadi pagi, ini kuncinya.”
Dian memberikan kunci mobil kepada Bagas. Dian memperhatikan Nina yang hanya diam menatap keluar jendela. Seakan ada yang membuat hatinya tidak tenang sedari tadi.
Bagas pun mengajak Nina masuk ke dalam lobby apartemen. Mereka naik bersama menggunakan lift menuju lantai tempat unit milik Bagas berada. Dian menatapi kepergian mereka berdua dengan penuh tanda tanya.
“Gila ... Tuan Prayoga tidak bisa ditebak, hanya karena sebuah jas yang kotor. Dia membawa seorang wanita ke apartemen nya.” Pikiran Dian melayang kemana-mana, menerka-nerka apa yang akan terjadi di sana.
***
Bagas membukakan pintu unit apartemen nya. Mempersilahkan Nina untuk masuk. Wanita itu berjalan perlahan sambil memperhatikan keseluruhan isi di dalam apartemen Bagas.
“Kau tinggal sendirian disini?” tanya Nina yang kini berada di dekat sebuah bufet. Memperhatikan bingkai-bingkai foto yang berjejer rapi.
Senyuman tercipta di wajah Nina. Melihat gambar seorang bayi yang tengah tertawa bersama seorang wanita yang dia kenal. Tentu saja itu Beby dan anak nya Baby Rey.
Bagas mendekati Nina. Sadar jika di dekati. Nina pun sontak memutar badan nya. Dia terkejut karena Bagas sudah berada di belakang nya.
“Kenapa memang nya jika aku tinggal sendiri disini? Apa kau mau menemaniku?”
Nina merapat pada bufet, merasa dadanya berdebar hebat. Ketika pria itu semakin dekat dan bahkan tangan nya melingkari tubuh Nina.
“A-apa maksudmu?” Nina menjadi gugup dan sedikit panik. Tangan nya menggenggam erat ujung tok span yang dia pakai. Sambil memalingkan wajahnya yang berjarak sangat dekat dengan wajah Bagas.
“Dasar otak mesum!” Bagas menjentikkan jarinya di jidat Nina. Membuat Nina terkejut dan meringis memegangi jidatnya yang memerah.
“Sakit tau!”
__ADS_1
“Kau pikir aku akan mencium mu? Aku cuman mau ambil ini,” ucap Bagas memperlihatkan remote AC di tangan nya. Yang ia ambil di bufet tadi.
Nina menghela nafas nya, entah kenapa malah menjadi kesal. “Dimana aku harus mencuci jas mu! Aku tidak punya banyak waktu!”
“Hmm, disana. Hati-hati jangan sampai kau merusak nya,” ucap Bagas menunjuk ruangan laundry.
“Dasar menyebalkan,” gerutu Nina seraya melangkah kan kakinya menuju ruangan tersebut. Dia sempat menoleh menatap Bagas yang masuk ke dalam kamar nya.
“Dia benar-benar tidak berubah, masih saja menyebalkan. Hanya seperti ini saja, dia kan bisa mencucinya sendiri ... tidak perlu membawa ku sampai kesini?”
Sambil mengucek sedikit demi sedikit bagian jas Bagas yang kotor. Dia terus menggerutu dan berdecak kesal kepada Bagas pria yang paling menyebalkan.
Tanpa Nina sadari. Bagas ternyata berdiri di balik tembok yang menghubungkan dapur dengan ruangan tersebut. Dia tersenyum mendengarkan Nina yang terus menggerutui dirinya.
“Dasar culun, dia selalu mengomel seperti ibu-ibu rempong,” gumam Bagas pelan.
Sekitar dua puluh menit Nina keluar dari ruang laundry itu. Dia melihat Bagas yang tengah menerima panggilan di balkon. Ia pun beralih ke arah lemari es. Mengambil sebotol air mineral, lalu meneguk nya habis.
Nina merogoh ponsel di saku rok nya. Mencoba menghubungi nomor telpon Gerry. Pria yang tadi pagi mengantarnya kerja bersama seorang anak kecil berusia empat tahun, bernama Gio.
“Ada apa Nin? Tadi aku dan Gio ketiduran, kau belum pulang kerja? Apa mau aku jemput?”
“Tidak apa-apa kak, aku ada sedikit pekerjaan. Mungkin akan pulang sedikit terlambat. Bisa kah kau mengantar Gio langsung pulang kerumah Bibi dan Paman?”
“Hmm, kau baik-baik saja?”
“Yah, aku baik-baik saja kak. Kalau begitu aku harus kembali bekerja, terima kasih untuk waktumu buat Gio hari ini.”
“Hmm, tentu saja. Aku tidak mau Gio menganggap aku ini Papah yang jahat, jika tidak memiliki waktu untuk nya.”
“Ya, aku tahu itu. Bye.”
“Bye, hati-hati ya Nin. Jangan sungkan katakan padaku, jika kau memerlukan bantuan.”
__ADS_1
Nina pun memutuskan panggilan. Dia tersenyum mengingat perkataan Gerry tadi di panggilan. Nina berharap jika Gerry akan selalu bersikap hangat kepada Gio. Karena dia adalah ayah kandung anak laki-laki berusia empat tahun itu.
Singkat cerita, sekitar lima tahun yang lalu. Saat itu Nina berusia 20 tahun. Dia mengalami kecelakaan tragis dengan kedua orang tua nya di kota B. Hingga menyebabkan kedua orang tua nya meninggal. Dan yang lebih mirisnya lagi, Nina sampai mengalami kebutaan.
Dia dirawat oleh Paman dan Bibi nya. Selama hampir setahun lama nya dia tidak bisa melihat. Nina merasa hidupnya sudah benar-benar hancur. Kehilangan orang tua dan kehilangan penglihatan. Bahkan dia harus menumpu beban dari kebencian Paman dan Bibinya. Yang merasa sangat di repot kan oleh nya. Hampir membuat Nina nekat untuk bunuh diri.
Tapi untung saja ada Naina. Kakak sepupu yang sangat menyayanginya seperti adik kandung. Naina baru pulang dari kuliah nya di luar negeri. Dia menyelamatkan Nina yang mencoba menusuk perutnya sendiri menggunakan pisau. Nina memeluk erat tubuh Naina yang penuh kehangatan dan kasih sayang seorang kakak.
Hingga suatu hari. Nina mendengar Naina yang terus muntah-muntah di pagi hari. Dia juga bertengkar dengan Paman dan Bibi nya. Ternyata Naina, sudah hamil selama dua bulan sejak kepulangan nya satu bulan lalu. Naina pergi lagi dari rumah membuat Nina kembali merasa kesepian.
Nina tidak bisa melihat tapi dia bisa mendengar dengan jelas apa yang sudah terjadi. Sebulan kemudian, Naina datang membawa seorang pria. Yang ternyata adalah ayah dari anak yang dia kandung. Pria itu adalah Gerry.
Penuh dengan perdebatan. Akhirnya Paman dan Bibi, bersedia menikahkan Naina dengan Gerry. Mengingat saat itu Gerry adalah anak dari keluarga berada.
Nina ikut senang atas kebahagiaan Naina. Hingga suatu hari. Naina mengalami kontraksi hebat akibat terjatuh di kamar mandi. Usia kehamilan nya baru masuk tujuh bulan.
Naina dilarikan kerumah sakit di kota B. Berhari-hari Nina ditinggal di rumah sendirian. Dia sangat ingin berada di samping Naina. Tapi apa boleh buat, Paman dan Bibinya tidak mau membawanya kerumah sakit.
Sampai pada akhirnya. Nina begitu terpukul ketika mendapat kabar bahwa Naina sudah meninggal. Satu-satunya kakak yang baik padanya dan menyayanginya kini sudah tiada. Nina merasa sangat sendirian.
Akan tetapi, ternyata Naina tidak benar-benar pergi. Sebelum dia meninggal, dia sudah berpesan kepada Paman dan Bibi. Untuk mendonorkan matanya kepada Nina adik yang dia sayangi. Nina pun mendapat donor mata tersebut, sekitar dua bulan dia menetap di rumah sakit. Sampai pada waktu perban dimatanya dibuka.
Nina tak berhenti bersyukur bisa melihat kembali. Bahkan dia sangat menyayangi mata barunya itu. Karena itu adalah salah satu kenangan dari Naina untuknya. Juga seorang anak laki-laki yang lahir prematur bernama Giovanni Battista. Giovanni adalah nama pilihan Naina sebelum dia meninggal, sedangkan Battista adalah marga keluarga ayah dari bayi itu, yaitu Gerry Batista.
Satu tahun umur Gio, anak tersebut mengalami kelainan pada darah nya. Dokter berkata bahwa itu terjadi akibat persalinan Naina yang diakibatkan sebuah kecelakaan. Gio harus lahir prematur sebelum waktunya. Akan tetapi, Gio berhasil diselamatkan karena donor darah dari ayah kandungnya yaitu Gerry.
Sejak itu Nina selalu bercita-cita untuk belajar dengan giat, agar bisa bekerja di perusahaan besar. Mendapat gaji sepadan, untuk membahagiakan Gio juga Paman dan Bibinya. Sebagai balas budi pada hidupnya.
Ketika dia belajar dan kuliah di kota J pun terkadang Gerry membawa Gio untuk menemui Nina di akhir pekan. Tidak ada hal buruk yang ia nilai tentang Gerry. Dimata Nina, Gerry adalah ayah yang baik untuk Gio. Meskipun Naina sudah meninggal tapi Gerry tidak pernah lepas tangan terhadap Gio.
Hanya saja, terkadang tatapan Gerry kepadanya. Membuat dirinya sedikit risih. Karena itu Nina tidak mau terlalu berlama-lama jika berada di dekat Gerry. Dia juga tidak tahu bagaimana kehidupan Gerry, yang dia tahu bahwa Gerry selalu baik kepada Gio. Itu saja.
TBC.
__ADS_1
Note : Maaf ya, author cuman bisa up 1 episode. Karena bos lagi libur, jadi mesti ngurus rumah dulu, biar gak kena omel🤭
Oh iya, mau tanya ada yang merasa familiar gak dengan nama Gerry? Hayoo siapa, kalau ada yang tau komen dibawah yah? Sepertinya udah banyak yang lupa🤭