
Beby menatap kagum deretan tas mahal di rak berwarna putih susu itu. Dengan model yang sangat bervariasi, dia sangat menyukai nya. Mata Beby menajam, dan tidak bisa berpaling. Langkah kaki membawanya mendekati salah satu tas.
“Kamu,” ucap nya dengan tatapan tajam.
Ketika tangannya baru saja meraih tas tersebut, ada tangan seorang wanita juga yang meraihnya. Sontak keduanya saling menatap tajam dan sinis.
“Ini milik ku.” Beby menarik tas tersebut hingga terlepas dari tangan Melanie.
“Aku duluan yang memegang nya,” ucap Melanie tidak terima. Dia kembali merampas tas itu dari tangan Beby.
Beby memutar bola matanya dan terkekeh. “Terserah lah.”
“Ambil saja tas itu ... lagi pula itu memang sudah tabiat mu, mengambil barang milik orang lain. Kok ada yah orang yang suka iri dan tidak tahu diri sepertimu,” sindir Beby dengan kata-kata pedasnya.
Terlihat Melanie mendengus kesal, matanya melotot tidak terima. “Jaga yah ucapan mu, jika tidak ingin-”
“Tidak ingin apa?”-Beby maju satu langkah mendekati Melanie dengan berkacak pinggang-“kamu pikir aku takut, dengan ancaman mu?”
“Jangan mimpi, jalang! Minggir sana ... jangan menghalangi jalanku!” Beby menunjuk bahu kanan Melanie, hingga wanita itu termundur satu langkah.
__ADS_1
Melanie menarik nafas panjang dan menghembuskan nya dengan kasar. Menatap kepergian Beby, yang berjalan dengan angkuhnya. Setelah habis-habisan menghina dirinya, ingin sekali ia menjambak dan menampar wajah Beby saat itu juga.
Setelah selesai memilih beberapa gaun, tas,dan sepatu. Beby pun kembali menghampiri Agil di ruang tunggu. Langkah nya terhenti ketika berpapasan dengan Dewa yang tengah berdiri di bagian tempat jam-jam tangan mewah terpajang. Pria itu nampak sedang mencoba beberapa jam di tangan nya.
Beby memutar bola matanya, malas sekali untuk bertemu Dewa, pikirnya. Ia pun berjalan tanpa memperdulikan jika pria itu ada.
Serrtt.
Ia terkejut saat tangan nya tiba-tiba ditarik. Dengan tubuh yang terhuyung Beby memegangi ujung rak, menahan tubuhnya agar tidak terjatuh apalagi sampai bertabrakan dengan tubuh Dewa.
“Apa-apaan kau ini!” teriak Beby menarik tangan nya dengan kasar dari genggaman Dewa.
“Itu untuk mu, By.” Dewa menjulurkan tangan nya hendak menyentuh wajah Beby.
“Jauhkan tangan kotor mu dari ku,” ucap Beby ketus dengan menepis tangan Dewa secara kasar.
Dewa tertawa sambil mengusap wajahnya. “Ayolah, By. Bukan kah kamu menyukai jam tangan seperti ini, aku masih ingat jam tangan ini adalah favorit mu,” tuturnya.
“Cih,”-Beby tertawa dan geleng-geleng kepala-“telat! Selama ini kamu kemana saja? Kenapa baru sekarang kamu berniat untuk membelikan ku sesuatu?”
__ADS_1
Ia melepaskan jam tangan itu dan menaruhnya kembali di tempatnya. Kemudian berbalik badan pergi, karena begitu jengah dengan sikap Dewa. Rasanya sesuatu didalam dadanya seperti terbakar setiap kali bertemu dengan Dewa.
Beby kembali ke ruang tunggu, dimana Agil berada. Ia tersenyum menatap pria itu yang tengah memainkan ponselnya dan duduk memangku kaki di sofa. Dengan manja nya Beby langsung menjatuhkan diri di atas pangkuan Agil. Melingkarkan tangan nya di leher pria itu.
“Sayang, ayo kita balik ke resort,” ucap Beby dengan cemberut.
“Apakah kamu sudah selesai?” tanya Agil tersenyum. Ia mendekatkan wajahnya dengan wajah Beby, berniat untuk mengecup bibir merahnya. Tapi wanita itu lebih dulu menggelengkan kepalanya dan menutup bibir dengan rapat.
“Aku sudah selesai, lagi pula disini rasanya sangat panas ... gerah, aku tidak bisa bernafas,” ucap Beby.
“Hahaha, ada apa? Apakah kamu sudah bertemu dengan tikus-tikus got itu?”Agil tergelak.
“Tikus got?” Beby mengerinyit.
“Maksudmu ... mereka?”
Agil mengangguk dan mereka berdua kembali tertawa bersamaan. “Yasudah, kalau begitu kamu tunggu disini ... aku mau ke toilet sebentar,” ucap Agil.
Pria itu mendudukkan Beby di sofa. Membelai kepalanya sebelum beranjak dan pergi ke toilet. Beby tersenyum dengan penuh bahagia. Menatap punggung tegap Agil yang berjalan semakin jauh.
__ADS_1
TBC.