
Pagi harinya.
Nina bangun dari tidurnya ketika jam alarm berbunyi di atas nakas, tepat pukul 6 pagi. Dia segera beranjak dari tempat tidur dan pergi ke kamar mandi.
Setelah mandi Nina bersiap-siap memakai pakaian kerjanya. Namun ada yang aneh. Nina menatap kesana kemari, mencari ponsel yang semalam dia tidak ingat.
“Dimana ponselku?”
Ia melangkah ke arah keranjang pakaian kotor di belakang pintu. Menyibak kantong kemeja dan jas yang dia pakai kemarin. Namun hasilnya nihil. Nina menggaruk-garuk kepalanya kebingungan.
“Apa jangan-jangan ketinggalan di mobilnya Bagas?”
“Astaga, kenapa aku bisa ceroboh begini sih?”
Nina mengacak-acak rambutnya yang masih basah. Menggerutu tentang kecerobohan nya.
“Hmm, Mommy ... Mommy dimana?”
Nina langsung menoleh ke arah ranjang. Dilihatnya Gio yang menangis memanggil dirinya. Nina pun segera menghampiri Gio.
“Sayang, anak Mommy udah bangun ... sini Mommy gendong,” ucap Nina seraya menggendong Gio turun dari ranjang.
“Mommy, mau kelja ya?” Tangan Gio menyentuh pipi Nina yang memar.
“Iya sayang, hari ini Gio tinggal di rumah sama kakek dan nenek ya.” Nina mengecup pipi Gio dan tersenyum.
“Mommy, jangan puyang mayam-mayam lagi yah ... Gio gak mau Mommy di malahin cama Nenek lagi.” Wajah Gio berubah sendu.
Matanya berkaca-kaca, seakan dia mengerti dengan perasaan Nina saat ini. Nina mengusap wajah Gio dengan lembut.
“Iya sayang, Mommy janji pulang nya gak malam-malam. Hari ini kami jangan nakal yah, turutin semua perkataan Nenek dan Kakek.”
“Iya Mommy Gio janji.” Gio mendekat dan mencium pipi Nina. Membuat Nina merasa begitu bahagia, dia memeluk tubuh Gio dengan erat.
Diruang tamu. Nina merasa aneh ketika melihat Gerry. Untuk apa pria itu pagi-pagi ada dirumah nya. Nina pun memberikan Gio kepada paman nya. Untuk diajak mandi dan sarapan di ruang makan.
Jadi sebenarnya bibi Nina bernama Fitriani dan paman nya bernama Bambang Kurniawan. Sedangkan kakak sepupu yang mendonorkan kornea mata untuk nya, atau ibu kandung Gio adalah Naina Kurniawan.
Nina berjalan melewati Gerry dan Bibinya yang tengah berbincang santai, sambil meminum teh hangat. Nina enggan untuk menatap bibinya karena hal semalam.
__ADS_1
“Nina, apa kau mau pergi kerja?” tanya Gerry.
Nina menoleh dan tersenyum. “Iya, Kak.”
“Kalau begitu aku antar yah.”
“Terima kasih, Kak. Tapi aku bisa berangkat sendiri.” Nina menolak halus tawaran Gerry dengan senyuman manis.
“Ternyata ini niatnya sudah pagi-pagi sekali ada disini,” batin Nina.
“Kau ini tidak tahu diri yah ... Nak Gerry ini baik sekali menawarkan tumpangan untuk mu. Tapi kau sombong dan menolak nya,” cibir wanita paruh baya itu dengan sinis nya.
Nina mengepalkan tangan nya. Menahan amarah nya yang meluap. “Aku bisa berangkat sendiri, Bi. Lagi pula bukan kah Kak Gerry masih ada urusan lain?”
“Tidak, Nin. Aku tidak sedang buru-buru. Aku masih bisa mengantarmu bekerja,” ucap Gerry beranjak dan mendekat ke arah Nina.
“Pergi sana bersama Gerry. Aku muak sekali mendengar bantahan dari mu setiap hari,” ucap Fitriani.
“Selama ini aku tidak pernah membantah mu, melainkan aku selalu menuruti perkataan mu. Meskipun terkadang aku tidak sudi melakukan nya,” ucap Nina yang hanya bisa dia ucapkan dalam hati.
“Baiklah, terserah bibi saja.” Nina berlalu begitu saja keluar pintu. Membuat Fitriani merasa begitu geram.
“Sudah, Bibi. Tidak apa-apa yang terpenting Nina mau diantar oleh ku.”
“Gerry, kau itu memang pria bertanggung jawab sekali. Kau bukan hanya perduli terhadap Gio, tapi kau juga perduli pada keluarga ini.”
Fitriani menggenggam tangan Gerry dengan tatapan bangga terhadap laki-laki itu.
“Ah, Bibi bisa saja. Aku sudah menganggap keluarga ini seperti keluarga ku sendiri.”
“Kau memang anak yang baik, tidak salah Naina memiliki suami seperti mu.”
“Hmm, kalau begitu saya pergi dulu Bi.”
“Hati-hati yah.”
Gerry pun menyusul Nina keluar. Wanita itu sudah menunggu di dekat mobil Gerry yang terparkir di depan pagar rumah.
“Nina.” Gerry menyentuh pundak Nina. Membuatnya terlonjak kaget.
__ADS_1
“Masuklah,” ucap Gerry seraya menuntun Nina masuk ke dalam mobil.
Nina yang disentuh merasa sangat risih. Sesekali dia mengusap pundaknya yang disentuh oleh Gerry. Tidak bisa kan pria itu bersikap sopan. Karena menurut Nina menyentuh seorang wanita tanpa izin itu sangat tidak sopan.
“Kenapa aku merasa sangat risih di dekatnya. Tapi tadi malam-” Nina menggeleng-geleng kan kepalanya. Menepis pikiran nya yang melayang memikirkan perlakuan Bagas semalam.
“Apa yang sudah aku pikirkan! Sepertinya Bagas sudah benar-benar tidak waras.”
Setibanya di kantor. Ketika dia hendak keluar dari mobil. Gerry menarik tangan nya. Nina segera melepaskan tangan Gerry dari tangan nya.
“Ada apa, Kak?” tanya Nina.
Wanita itu mulai merasa sangat tidak nyaman. Apalagi tatapan Gerry yang seakan-akan hendak menerkam nya.
“Nina aku mencintaimu, mau kah kamu menjadi istriku? Menjadi ibu untuk Gio,” ucap Gerry yang langsung menggenggam erat tangan Nina.
Nina berusaha menarik kembali tangan nya. Tapi Gerry malah semakin mengeratkan genggaman nya. “Maksud Kak Gerry apa?”
“Kau pasti mengerti maksudku apa ... aku tahu mungkin kau sangat terkejut. Tapi aku yakin, kau pasti memiliki perasaan yang sama bukan dengan ku? Karena kita sudah sering bersama mengurus Gio-”
“Cukup! Berhenti membawa-bawa Gio! Tanpa aku menjadi istri Kak Gerry, aku juga tetap akan menjadi Mommy untuk Gio. Dan asal Kak Gerry tau, aku tidak memiliki perasaan apapun padamu!”
Nina segera keluar dari dalam mobil Gerry. Dia berjalan cepat menuju lobby kantor. Tidak memperdulikan Gerry yang keluar dari mobil dan berusaha memanggil-manggil namanya.
Sesampainya di lantai tempat dia bekerja. Nina menatap ke arah ruangan kerja Bagas. Suasana kantor masih sangat sepi. Nina melirik arloji di tangan kirinya. Ternyata baru pukul setengah delapan pagi.
Nina melangkah kan kakinya menuju ruangan tersebut. Kemudian mengetuk nya tiga kali dan masuk. “Oh ternyata dia belum datang juga. Apa sebaiknya aku menunggu nya disini?”
Nina memutuskan untuk menunggu Bagas datang. Ia mendudukkan tubuhnya di sofa empuk berwarna merah yang ada diruangan itu. Dia kembali teringat dengan kejadian di dalam mobil tadi. Tanpa sadar tangan nya mengepal kuat.
“Bisa-bisanya dia mengatakan bahwa dia mencintaiku? Lalu dimana perasaan cintanya kepada Kak Naina? Dasar pria brengsek! Mungkin kah selama ini dia hanya bersandiwara sebagai ayah dan menantu yang baik di depan kami semua? Aku benar-benar tidak percaya.”
Tidak lama kemudian. Pintu terbuka, Bagas dan Dian masuk kedalam ruangan itu. Mereka sama-sama terkejut melihat Nina yang duduk di sofa. Seketika Nina langsung berdiri dan membungkuk sopan.
“Selamat pagi, Tuan Prayoga dan Pak Dian.” Nina menyapa dengan senyuman manis.
Bagas memicingkan matanya. Tanpa menjawab dan tersenyum dia malah memalingkan wajahnya. Lalu berjalan melewati Nina begitu saja. Sontak membuat Nina merasa aneh dengan sikap dingin Bagas padanya.
TBC.
__ADS_1