
“Kok aku jadi deg-degan gini sih? Tenanglah Nina,” gumam Nina menyemangati dirinya sendiri.
Kini ia berada di dalam sebuah kamar hotel mewah. Ia mengedar memandang sekitarnya. Tempat tidur besar yang ditaburi kelopak mawar merah yang diukir secantik mungkin. Terdapat juga lilin-lilin kecil yang berada di atas bufet. Cantik sekali, pikirnya.
Tanpa sadar senyuman terukir diwajahnya. Ia berjalan sambil memegangi rok gaun yang dia angkat sedikit. Untuk memudahkan nya berjalan. Malam ini, diruangan ini, akan menjadi saksi awal yang baru untuk dirinya fan juga Bagas.
“Nina, aku pergi dulu ya ... tadi Kak Bagas pesan suruh kamu mandi duluan aja. Dia masih dibawah bersama Agil dan teman-teman nya,” ucap Beby menyentuh pundak Nina.
“Eh, i-iya,” jawab Nina gugup.
Beby tersenyum, dia mendekat dan meraih wajah Nina. “Santai lah, malam ini kalian berdua akan semakin dekat...”
“Apa-apaan sih, By. Sudah pergi sana, jangan menggodaku terus menerus ... aku tidak bisa berhenti gugup jadinya,” ucap Nina dengan wajah merah merona.
“Hahaha, lihatlah wajahmu kini merah. Selamat main bola,” goda Beby lagi sambil tertawa. Lalu dia berlari kecil keluar dari kamar mewah tersebut.
Nina geleng-geleng kepala melihat tingkah sahabat sekaligus adik iparnya itu. “Sebaiknya aku mandi dan ganti baju saja lebih dulu, mungkin Bagas masih lama datangnya.”
Ia pun membuka resleting gaun pengantin nya. Menurunkan nya dan pergi ke kamar mandi. Mengguyur tubuhnya dibawah siraman air hangat shower. Setelah selesai mandi Nina berdiri di depan cermin wastafel. Menatap pantulan dirinya yang polos dari cermin.
“Bagaimana jika dia tidak puas dengan diriku?” gumam nya.
Nina menggosok rambutnya dengan handuk kecil. Membiarkan nya setengah basah. Kemudian membuka laci bufet yang ada disampingnya.
“Oh my god, apa aku harus mengenakan gaun ini?” pekik Nina dengan dahinya yang mengkerut. Mendapati sebuah lingerie hijau selutut, dengan kain yang sangat tipis dan menerawang.
“Beby, aku yakin ini adalah ulah mu! Akhh, bagaimana ini? Tidak ada baju yang lain, semuanya gaun yang seperti ini,” gerutu Nina kebingungan sambil menggaruk-garuk kepalanya.
Mau tidak mau Nina pun mengenakan lingerie hijau itu. Tanpa pakaian dalam, kemolekan tubuhnya nampak samar-samar terlihat. Nina keluar dari kamar mandi dengan cepat lalu berlari dan melompat ke atas tempat tidur. Menutupi tubuhnya dengan selimut tebal.
“Apakah itu dia?” Mata Nina melotot ke arah pintu yang terbuka pelan. Jantungnya berdebar-debar melihat pria tampan yang sudah menjadi suaminya itu masuk.
__ADS_1
“Hai,” sapa nya tersenyum pada Nina.
“Ha-hai juga, kau sudah selesai?” tanya Nina gugup seraya mengalihkan pandangan nya dari tatapan Bagas.
Bagas mengangguk, dan merasa aneh melihat Nina yang duduk menutupi tubuhnya dengan selimut. “Ada apa? Apa kau sakit? Atau demam?”
Bagas berjalan mendekati sang istri. Lalu duduk tepat disebelahnya. Tangan Bagas bergerak menyentuh kening Nina.
“Oh ayolah, kenapa dadaku terus berdebar gini sih?” batin Nina.
Nina tertegun menatap lekat wajah Bagas yang begitu dekat dengan wajahnya. Netra coklat dengan bulu mata lentik, serta alis yang tebal. Hidungnya yang tinggi dan bibir yang seksi. Kenapa dia terlihat sangat menawan dan menggoda. Nina menggelengkan kepala untuk menyadarkan nya.
“Aku tidak apa-apa, sana pergi mandi!” Panik Nina, ketika Bagas hendak membuka selimut yang menutupi tubuhnya.
“Kenapa ditahan?” tanya Bagas bingung menatap heran wajah Nina.
Wanita itu menelan salivanya semakin gugup. “A-aku dingin! Kau sangat bau, sebaiknya kau mandi sekarang.”
Pria itu mencium baju nya dan menatap kembali wajah Nina. Wajah cantik Nina yang merah merona, membuat Bagas tertegun.
“Yasudah, aku mandi sekarang! Tapi aku tidak bau,” gerutu Bagas seraya berdiri. Membuka kemeja nya di depan Nina lalu melemparkan nya kepada wanita itu. “Cium tuh, orang suaminya wangi gini dibilang bau!”
“Bagas!” teriak Nina kesal.
Pria itu tertawa dan berlari masuk ke dalam kamar mandi meninggalkan nya yang terus mengomel.
Nina mengusap jari-jarinya yang basah karena keringat dingin. Peluh juga membasahi keningnya. Dia sangat gugup. Menatap ke arah kamar mandi.
Aroma wangi yang semerbak menyeruak keluar dari dalam kamar mandi. Nina semakin berdebar-debar. Dia terus memikirkan hal apa yang akan dia lakukan saat melakukan hubungan intim. Karena ini adalah pertama kali untuknya.
Ia terkejut dan langsung memalingkan pandangan nya. Ketika pintu kamar mandi terbuka. Bagas yang hanya mengenakan handuk yang melilit di pinggangnya. Mengibas-ngibas rambutnya yang setengah basah. Bagian atas tubuhnya yang berbentuk roti-roti empuk itu, berhasil membuat Nina menelan salivanya.
__ADS_1
Bagas tersenyum pada Nina. Dia berjalan ke arah salah satu bufet. Meraih sebotol anggur dan menuangkan nya ke dua gelas kaca yang di siapkan. Lalu membawa gelas-gelas tersebut mendekati Nina.
“Ini,” ucap Bagas menyodorkan salah satu gelas pada Nina. Dia duduk tepat disebelah wanita itu.
Nina mengeluarkan satu tangan nya dari dalam selimut. Dengan ragu-ragu dia meraih gelas tersebut. “Kau tidak masalah? Aku minum ini?”
“Kenapa tidak? Bukan kah kau juga pernah minum ini? Waktu di club malam di Paris?” Bagas tersenyum mengusap pucuk kepala Nina dengan lembut. “Tapi...”
Nina hendak meneguk isi gelasnya, namun terhenti. “Tapi apa?” Ia menatap wajah Bagas dengan serius.
Bagas mendekat dan berbisik di telinga Nina. “Sekarang kau hanya boleh minum jika bersamaku, dikamar seperti ini...”
“Cheers...” Bagas tersenyum lalu mendentingkan gelasnya dan gelas milik Nina. Kemudian meneguk isi gelas nya sedikit.
Nina tersenyum dan meneguk isi gelasnya juga. Bagas memperhatikan ekspresi Nina sesaat setelah meneguk anggur miliknya. Tangan nya tergerak meraih helaian rambut yang menutupi sebagian wajah Nina.
“Kau cantik sekali malam ini,” ucap nya pelan. Menatap sayu mata Nina.
Nina tersenyum kikuk dia tidak sadar jika selimut yang menutupi tubuhnya kini sudah terbuka. “Kau juga sangat menawan malam ini,” ucap Nina pelan dengan wajah merah merona.
Mata Bagas membulat, melihat lingerie yang Nina kenakan. Sudut bibirnya tertarik sedikit, ketika dua bongkahan kembar milik istrinya jelas terlihat. Terlebih ada sesuatu yang kecil menimbul disana. Membuat Bagas menelan salivanya.
Nina yang sadar dengan tatapan Bagas ke arah dadanya. Sontak terkejut dan langsung menutupi dadanya dengan kedua tangan.
“Apa yang kau lihat?”
“Hahaha, kenapa harus malu? Aku ini kan suami mu,” ucap Bagas seraya meraih tangan Nina dan membiarkan dadanya kembali terekspos.
Bagas kembali mendekat dan berbisik. “Apa kau sengaja mengenakan nya untuk menggodaku?”
“Ti-tidak, aku tidak sengaja ... karena tidak ada baju lain yang Beby siapkan,” jawab Nina pelan dan gugup.
__ADS_1