
Setelah mengalami tabrakan hebat dengan mobil Bagas. Mobil yang Melanie kendarai masuk ke dalam jurang yang tidak terlalu dalam. Mobil nya hancur menabrak pohon besar.
Dengan begitu mirisnya, ia keluar dari mobil segera. Sebelum semua orang melihatnya. Ia berlari ke arah hutan. Dengan luka di kepala dan tangan nya.
“Sial!”
Sembari berlari dengan langkah lunglai, kaki kanan nya yang pincang. Melanie terus mengumpat dengan kasar. Rencananya untuk melenyapkan Agil dan Beby, gagal total.
Satu tempat yang terpikirkan oleh Melanie. Ketika dia sudah mulai lelah berlari dengan kaki telanjang. Ranting-ranting pepohonan membuat telapak kakinya berdarah.
Hari semakin gelap. Melanie menyelinap masuk ke dalam apartemen Dewa. Bersembunyi di dalam kamar mandi yang ada di dalam kamar.
Wajah Melanie memucat. Dia meringsut di lantai kamar mandi. Menahan sakit di bagian kaki nya. Kepalanya juga terasa berdenyut-denyut, mengeluarkan darah segar.
Dia termenung memikirkan semua yang telah terjadi. Papah nya yang dipenjara, Mamah nya yang gila, dan hidupnya yang layak seperti pelacur. Melanie merasa begitu hancur. Dia memukul-mukul kuat kakinya yang terasa begitu sakit.
Sampai pada saat, dia terdiam. Mendengar seseorang membuka pintu kamar dan masuk. Melanie pun berusaha untuk bangun. Dia menyeret kakinya untuk mengintip di pintu.
Mata Melanie membulat. “Dewa? Amanda? Kalian benar-benar,” ucap nya geram.
Diluar sana, Dewa dan Amanda baru saja pulang dari berbelanja bulanan. Terlihat perut Amanda yang juga sudah mulai membuncit. Keduanya terlihat begitu bahagia, sambil bergandengan tangan.
“Sayang, tolong ambil kan aku air minum. Lelah sekali,” ucap Amanda manja kepada Dewa.
Ia menjatuhkan tubuhnya di atas sofa karena lelah habis berbelanja. Dewa yang terlihat bahagia, tidak menolak disuruh ambil kan air minum oleh Amanda. Setelah memutuskan untuk menikah, keduanya benar-benar menjalani kehidupan layak nya suami dan istri.
Dewa sudah jatuh cinta kepada Amanda, begitu pun sebaliknya. Terlebih mereka berdua juga memutuskan untuk menjauh dari kehidupan Agil dan Beby. Begitu pun juga dengan Dewa, yang tidak pernah mendengar kabar dari Melanie.
Dewa menuntun Amanda masuk ke dalam kamar. Mereka belum sadar jika Melanie menyelinap masuk ke sana. Di dalam kamar, Dewa mencium mesra Amanda. Mereka bercumbu layaknya sepasang suami istri.
Tanpa menyadari ada sepasang mata yang panas melihat tingkah mereka. Melanie mendengus kesal dan begitu geram. Dia langsung menerobos masuk ke dalam kamar Dewa.
“Bajingan kamu, Dewa!”
__ADS_1
Melanie menarik Dewa dari pagutan nya bersama Amanda. “Awwwhh,” ringis Amanda kesakitan di bagian perutnya.
“Melanie,” teriak Dewa ketika melihat wanita itu menyerang Amanda dengan membabi buta.
“Melanie, lepaskan. Kamu menyakiti Amanda,” ucap Dewa berusaha menarik Melanie. Wanita itu pun terhempas ke lantai.
“Sayang, perutku sakit sekali,” ucap Amanda menggenggam erat tangan Dewa.
Melanie tertawa dengan keras. “Sayang? Menjijikan! Kalian berdua sangat menjijikkan!”
Melanie kembali ingin menyerang Amanda. Namun Dewa lagi-lagi mendorong Melanie hingga terjatuh ke lantai. Membuat Melanie semakin geram.
Ia meraih guci dan langsung memukulkan nya ke kepala Dewa hingga pecah. Dewa tersungkur ke lantai. Melanie menjambak rambut Amanda dan menarik nya paksa keluar dari kamar. Amanda terus menjerit kesakitan. Darah mulai mengalir di ************ nya.
“Melanie, akhhh.” Dewa berusaha berdiri sambil memegangi kepalanya yang berdarah, kemudian berlari menyusul kedua wanita itu.
Melihat darah dari kaki anda, Dewa semakin panik. Dia mendorong Melanie yang mencekik Amanda. Melanie terjatuh membentur ujung meja. Membuat kepalanya semakin sakit.
Melanie kalap mata, ia meraih pisau dapur yang terletak diatas meja makan. Kemudian berlari ke arah Dewa yang membantu Amanda untuk berdiri.
Amanda berteriak dan langsung mendorong tubuh Dewa. Untuk menghindari Melanie yang memegang pisau. Alhasil, pisau itu malah mengenainya. Menancap dalam di perutnya. Amanda sampai memuntahkan darah dari mulutnya. Merasakan sakit di perutnya.
Melanie terkejut, dia langsung melepaskan pisau tersebut. Dia melihat darah yang ada di tangan nya. Melanie terduduk di lantai, menatap Amanda yang bersimbah darah.
“Amanda!” Dewa berteriak dan langsung menghampiri Amanda yang terkujur lemas di sofa.
“Sayang, bertahan lah ... aku mohon plis, bertahan lah.”
Dewa langsung menggendong Amanda keluar dari apartemen nya untuk meminta bantuan. Sambil berlari tanpa sadar air matanya menetes melihat keadaan Amanda yang begitu mengenaskan.
Baru kali ini dia merasakan apa yang namanya cinta, dan bahagia itu sangat sederhana. Dewa mulai terbiasa dengan kehidupan nya bersama Amanda. Menunggu kelahiran buah hati mereka berdua.
Tapi, hari ini. Melanie datang tanpa diundang. Mengamuk seperti orang gila dengan keadaan yang tidak meyakinkan. Menyerang dirinya juga Amanda. Hingga membuat Amanda terluka.
__ADS_1
Dewa terduduk di lantai depan ruang operasi rumah sakit. Ia mengacak rambutnya dan menangis seperti anak kecil. Di dalam sana Amanda tengah berjuang antara hidup dan mati. Dewa tidak tahu harus berbuat apa.
Jika terjadi sesuatu kepada Amanda dan bayi di dalam kandungan nya. Dewa merasa hidupnya sudah tidak ada gunanya lagi. Amanda adalah hidupnya sekarang.
“Amanda, plis bertahan lah ... aku mohon, hiks hiks.”
Setengah jam kemudian. Dokter keluar dengan wajah lesu. Dewa langsung berdiri dan menghampiri dokter itu. “Bagaimana keadaan istri saya, Dok?”
“Maafkan saya Tuan, dengan berat hati saya mengucapkan bela sungkawa. Nyawa istri anda dan janinnya, tidak bisa diselamatkan ... sekali lagi maafkan kami,” tutur sang dokter.
Dewa terkulai lemas. Dia tidak sanggup berkata-kata lagi. Wanita yang dia cintai beserta calon anak nya kini sudah meninggal dunia. Dewa berteriak sekencangnya, dia menangis menerobos masuk ke dalam ruang operasi. Memeluk tubuh kaku Amanda yang pucat pasi. Hawa dingin tubuhnya sudah menandakan bahwa sudah tidak ada kehidupan lagi dalam tubuh itu. Amanda sudah benar-benar pergi dari dunia ini.
***
Keesokan paginya. Polisi berhasil mengamankan Melanie beserta barang bukti pisau yang ada di dalam apartemen Dewa. Melanie diringkus ke kantor polisi setempat.
Dewa datang ke kantor polisi untuk menemui Melanie. Dia menampar wajah Melanie yang sedang diminta keterangan oleh polisi.
“Dasar wanita jalang! Kamu sudah membunuh istri dan anak ku! Aku tidak akan memaafkan mu, Melanie!”
Dewa mencengkram leher Melanie dengan kuat. Dia sangat marah, dan kalut akan pikiran nya. Wajah nya pucat karena semalaman dia menangisi kepergian Amanda dan calon anak nya.
“Kamu juga harus mati!”
Semakin kuat dia mencekik leher Melanie. Semua petugas membantu untuk melepaskan cengkraman Dewa. Melanie memucat karena tidak bisa bernafas. Dewa berhasil di tenang kan.
“Bajingan! Kamu pantas menerima ini semua, Dewa! Apa kamu lupa, bagaimana kamu menipu Beby? Tuhan tidak tidur, ini karma buat mu. Dia tidak akan membuat hidup mu bahagia, hahaha.”
Melanie tertawa begitu keras. Membuat Dewa tertegun, dia langsung teringat kepada Beby. Bagaimana selama ini dia berusaha menyakiti Beby. Karma memang selalu berlaku. Tuhan, sudah membuat kebahagiaan yang baru saja dia rasakan seketika lenyap.
Dewa kembali terduduk di sudut ruangan. Menangisi tragisnya hidup Amanda yang harus mati demi melindunginya semalam. Dewa tidak bisa mengendalikan diri lagi. Akhirnya dia pingsan, karena terlalu lelah memikirkan tentang Amanda. Dia belum rela ditinggal oleh istri dan calon anak nya.
Sedangkan Melanie, ia malah tertawa bahagia. Seperti orang yang tidak waras. Melanie mengakui semua perbuatan nya. Begitu pun juga perbuatan nya yang hendak mencelakakan Beby dan Agil. Dia sudah tidak waras.
__ADS_1
TBC.