Selling My Virginity (Menjual Keperawanan Ku)

Selling My Virginity (Menjual Keperawanan Ku)
Selling My Virginity Ch 120.


__ADS_3

“Dian, tolong buatkan aku kopi dan bawakan sesuatu untuk aku sarapan,” titah Bagas kepada Dian.


Dian pun mengangguk. “Baik, Tuan.”


Asisten pribadi itu pun pergi meninggalkan Bagas dan Nina berdua di dalam ruangan itu. Nina tidak melepaskan pandangan nya terhadap Bagas. Pria itu nampak begitu dingin, menatap dirinya saja tidak.


Ia pun memberanikan diri mendekati meja kerja Bagas. “Hmm, ponselku...”


Bagas menjentikkan jarinya mengisyaratkan Nina untuk mendekat. Tanpa berpikir panjang Nina pun mendekat ke arah Bagas. Pria itu memutar kursinya menghadap Nina.


Bagas berdiri dan menyodorkan ponsel Nina tepat didepan wajah nya. Nina terkejut ketika Bagas menarik tubuhnya, hingga terduduk di meja kerja.


“Bagas, apa yang kau lakukan?” Nina menjadi panik. Wajahnya memerah dan menjadi gugup.


Bagas mendekat ke wajah Nina di tatap nya dengan lekat wajah wanita itu. Dari mata, turun ke hidung, dan berakhir di bibir ranum berwarna merah jambu yang menggoda.


“Ada apa dengan pipi mu?” Bagas memegang dagu Nina memiringkan sedikit untuk melihat jelas memar di pipi kiri Nina.


“Hmm, aku-” Belum selesai Nina bicara Bagas sudah memotong nya.


“Apa ini perbuatan suami mu?”


Nina terkejut dia langsung melepaskan tangan Bagas dari dagunya. “Suami? Apakah kau mengikuti ku semalam?”


“Aku hanya ingin mengembalikan ponselmu yang tertinggal ... tapi, aku tidak sengaja melihat mu bersama seorang pria dan anak kecil yang memanggil mu Mommy.”


Nina memperhatikan raut wajah Bagas yang berubah kecewa. “Kau benar, anak itu memanggil ku dengan sebutan Mommy. Tapi-”


Bagas kembali memotong ucapan Nina. “Ternyata benar! Laki-laki itu, beraninya dia membuat mu terluka seperti ini!”


Bagas marah dan seketika langsung berdiri. Nina menarik tangan Bagas untuk kembali duduk. Kemudian dia menutup mulut Bagas menggunakan tangan nya.


“Kau ini, langsung saja main emosi! Dengarkan dulu perkataan ku baru lah marah!”


“Dia itu bukan suami ku! Dan ini bukan karena dia, pria itu adalah mantan suami kakak ku. Ayah dari anak kecil yang memanggil ku Mommy.”


Nina menjelaskan kepada Bagas mengenai Gio dan juga Gerry. Entah kenapa dia tidak mau Bagas salah paham terhadap hubungan nya dengan Gerry yang tidak lebih dari seorang kakak ipar saja.


“Lalu, dari mana memar ini kau dapatkan?” Tangan nya tergerak mengelus lembut memar itu. Entah kenapa perasaan nya begitu sakit melihat Nina terluka.


“Apa kau sedang mengkhawatirkan ku?” Nina menatap lekat mata Bagas, nampak jelas kecemasan di mata itu.


“Aku siap mendengarkan nya,” ucap nya sembari mengembangkan senyuman. Yang berhasil membuat jantung Nina berdetak sangat kencang.


Entah kenapa tanpa rasa ragu, Nina mulai menceritakan kisah hidup nya kepada Bagas. Dimulai dari kecelakaan, kebutaan yang dia rasakan, lalu kedatangan kakak sepupu nya yang meninggal, kelahiran Gio, hingga donor mata dari kakak sepupunya itu. Membuat Paman dan Bibinya semakin membencinya. Nina juga menceritakan mengenai hal semalam.


“Maafkan aku, gara-gara aku. Kau jadi di marahi pulang larut,” lirih Bagas.


Bagas mengusap pipi Nina dengan lembut. Nina menggelengkan kepalanya. “Itu bukan salahmu, karena memang dari awal aku yang salah sudah menumpahkan kopi di jas mu.”


Tiba-tiba pintu terbuka. Masuklah Dian dengan membawa nampan berisi roti lapis dan segelas kopi untuk Bagas. Mata Dian membulat, sempat melihat kedekatan Nina dan juga Bagas. Namun, dia langsung menunduk dan berbalik badan.


“Dian.”


“Maafkan saya, Tuan. Ini dia kopi dan roti lapis anda.”

__ADS_1


Perlahan dengan pasti Dian menaruh nampan tersebut diatas meja sofa. Lalu dia berjalan kembali hendak keluar namun di panggil oleh Bagas.


“Tunggu!”


“Apa ada yang bisa saya bantu lagi?” Dian berbalik menatap Bagas yang sekarang sudah berdiri dari duduk nya.


“Pergilah bekerja, ini ponselmu.” Bagas mengembalikan ponsel Nina.


“Terima kasih, Tuan Prayoga. Kalau begitu saya pamit,” ucap Nina sopan.


“Berikan kompres untuk Nona Nina, Dian.”


Dian terkejut mendengar ucapan Bagas. Sontak dia langsung menatap kearah Nina. Memang nya apa yang harus dikompres oleh wanita itu.


Nina yang ditatapi oleh Dian, merasa risih. Dia menunduk dan segera keluar dari ruangan Bagas. “Untuk apa dia meminta Pak Dian memberikan Kompres padaku? Entah apa yang sedang Pak Dian pikirkan, Bagas kau ini selalu saja seperti ini,” gerutu Nina.


🌺🌺🌺


Siang itu di kota J. Agil dan Beby duduk bersama di ruang santai. Menonton Tv sambil menemani Baby Rey yang tengah bermain. Agil menatap ke arah Beby yang tengah bercanda ria bersama Baby Rey di lantai yang dilapisi karpet. Agar membuat Baby Rey nyaman bermain di lantai.


“Sayang, bisa ambilkan buah-buahan segar yang ada di meja makan gak?”


“Gak mau,” jawab Agil menatap lurus ke depan.


Beby berdecak kesal menatap Agil dengan sengit. Ia oun berdiri dan menghampiri Agil. Agil terkejut ketika Beby tiba-tiba duduk dipangkuan nya.


“Moe, apa yang kamu lakukan?”


Cups.


Agil memegangi bibirnya yang dikecup oleh Beby. Agil menatap ke kiri dan kanan. Lalu menatap Baby Rey yang masih asik dengan mainan nya.


Agil semakin panik ketika Beby menggerakkan tubuhnya. Mata Agil membulat dan wajahnya merah merona. Ia menelan salivanya merasakan sesuatu dibawah sana yang mulai bangun.


“Moe! Berhenti bergerak-gerak ... kamu membangunkan sesuatu, sadar gak?”


“Hmm, apa Ganendra junior sudah bangun?” Beby menahan tawanya. Ia pun beranjak dan kembali duduk bersama Baby Rey di bawah. Menatap Agil dengan penuh ejekan.


“Ambilkan buahnya, sayang. Jika tidak malam ini kamu tidur di kamar Baby Rey aja,” kata Beby sembari menjulurkan lidahnya mengejek Agil.


“Moe-”


Agil menggigit bibir bawahnya dan menatap gemas kearah istrinya itu. “Kau sudah membangunkan nya ... ingat nanti malam aku akan memakan mu, hingga kamu berteriak meminta maaf.”


Agil beranjak dan tersenyum miring. Tatapan nya berubah menjadi sendu. Seakan ingin mencengkram Beby saat itu juga. Ia berjalan ke arah dapur untuk mengambilkan piring buah-buahan segar yang Beby minta.


“Huh, dari dulu sampai sekarang tatapan nya selalu membuat jantungku berdegup kencang.” Beby memegangi dadanya yang berdebar. Menatap punggung tegap suaminya yang menuju dapur.


Diruang makan. Agil mengambil piring buah-buahan di atas meja makan setelah itu kembali ke ruang santai. Namun ditengah jalan tiba-tiba ponselnya berbunyi. Sebuah pesan masuk sebuah email.


“Ternyata benar, pria itu adalah Gerry,” gumam Agil seraya membawa piring tersebut. Menaruhnya diatas meja sofa.


Kemudian dia berjalan ke arah balkon sambil tatapan nya terus tertuju pada ponselnya. Beby yang melihat raut wajah suaminya berubah serius. Mengikuti langkah sang suami di belakangnya.


“Sayang, ada apa?” tanya nya cemas.

__ADS_1


Agil berbalik tersenyum dan mengelus kepala Beby dengan lembut. “Tidak apa-apa, Moe. Aku mau menelpon Bagas dulu, kamu temani Rey di dalam yah. Kasihan dia sendirian,” ucap Agil.


“Yakin gak ada apa-apa? Kok wajah mu seperti itu?” Beby masih menatap Bagas dengan menyelidik.


“Ada apa dengan wajahku? Aku memang sudah tampan dari lahir, Moe.”


“Cih, ya ya ya terserah lah ... kalau begitu aku masuk kembali ke dalam menemani Rey.”


Sebelum Beby melangkah masuk kembali, Agil terlebih dulu mengecup kening Beby dengan mesranya. Beby tersenyum dan membalas mengecup pipi Agil.


Setelah Beby benar-benar sudah tidak ada. Agil menghubungi Bagas saat itu juga. Karena sesuatu yang sangat penting, yang harus Bagas ketahui.


“Halo, Gas,” ucap Agil ketika panggilan sudah terhubung.


“Ada apa?” tanya Bagas di seberang panggilan.


“Kau benar, sepertinya kau tidak salah lihat ... pria itu si brengsek Gerry memang ada di kota B.”


“Heh, kau tenang saja. Aku akan meminta seseorang untuk mencari alamat rumah nya disini.”


“Hmm, baiklah. Kabari aku jika kamu sudah mendapatkan kabar tentang si brengsek itu. Karena rasanya aku sudah tidak tahan ingin mematahkan kaki dan tangan nya. Dia sudah membuat susah Beby selama ini, Brengsek!”


Karena begitu geram, tanpa sadar Agil memukul sebuah pot tanaman hias yang tergantung. Hingga pecah dan membuat tangan nya berdarah. Beby yang terkejut langsung berlari ke arah Agil.


“Sayang, kamu kenapa? Kok bisa sampai berdarah gini?” tanya Beby cemas. Sembari memperhatikan tangan Agil yang berdarah.


“Apa Kak Bagas membuat mu kesal?” tanya nya lagi dengan wajah kesal merampas ponsel yang masih menempel di telinga suaminya.


“Kakak, kenapa membuat Agil kesal? Sampai-sampai tangan nya berdarah,” omel Beby kepada Bagas.


“Hei, kau itu adik nya siapa sih? Kenapa tidak pernah membela kakak mu ini?”


“Hmm, habis nya ... kakak selalu mengerjai Agil hingga kesal,” ucap Beby.


“Aku banyak kerjaan, sudah dulu yah, By.”


“Hmm, baiklah kak.”


Panggilan pun terputus. Beby menarik Agil masuk kembali ke dalam ruang santai. Agil duduk di sofa, menatap istrinya yang sibuk kesana kemari mencari sesuatu.


Tidak lama kemudian Beby kembali dengan membawa kotak P3K. Telaten dan penuh kelembutan Beby membersihkan luka di tangan Agil.


Agil terus memperhatikan setiap gerak-gerik sang istri. Sampai akhirnya dia tidak sadar memeluk istrinya itu dengan erat. Dan mengelus-elus kepala nya.


“Moe, aku janji akan selalu membahagiakan mu ... dan aku tidak akan pernah berpaling, aku akan tetap mencintaimu sampai maut yang memisahkan kita,” tutur Agil.


Beby mengerinyit merasa keheranan. Ia pun melepaskan pelukan sang suami. Menatap lekat kedua bola mata indah milik Agil.


“Hmm, tepati lah janjimu itu Sayang.” Beby mengecup punggung tangan Agil yang tadi terluka.


“Tapi, aku tidak mau kamu berbuat kejahatan hanya karena demi aku ... aku tidak mau kehilangan mu, Agil,” lanjutnya tersenyum sendu.


“Aku pasti menepati janji ku itu, Moe. Asal kamu bersedia mendampingiku selamanya,” ucap Agil lirih.


Dia mendekat dan mengecup kening Beby dengan sedikit lama. Bersyukur jika dirinya menemukan wanita seperti Beby. Agil berjanji tidak akan pernah melepaskan Beby. Apapun yang terjadi, Beby berhak mendapatkan kebahagiaannya.

__ADS_1


TBC.


Note : Mohon pengertian nya untuk slow update ini🙏🏻. Sekali lagi terima kasih untuk readers yang setia menunggu.


__ADS_2