
Malam harinya. Setelah makan malam bersama. Semua mahasiswa dan mahasiswi yang lain tengah melakukan kegiatan mereka masing-masing. Ada yang berjalan-jalan, berenang, bermain biliar, bowling, pergi ke club malam, bahkan ada juga yang memilih kembali tidur ke kamar mereka masih-masing.
Tapi tidak dengan Agil, Beby, dan Nina. Mereka bertiga, tengah bersiap-siap untuk pergi ke club malam. Merasakan sensasi club malam Paris yang ada di resort mewah tersebut.
“By,” panggil Nina seraya menarik tangan Beby ketika mereka baru mau masuk kedalam club tersebut.
“Ada apa, Nin?” tanya Beby.
“Aku tidak bisa ikut, By. A-aku-”
“Ayolah, untuk malam ini saja. Tenang ada aku, lagi pula kamu sangat cantik malam ini, Nina.” Beby merangkul Nina masuk ke dalam club tersebut. Mengikuti langkah Agil.
Beby sengaja meminta Agil untuk membelikan Nina gaun juga. Lalu ia merias wajah Nina dengan sedikit sentuhan, membiarkan rambut Nina terurai, kaca mata yang biasa ia pakai juga tidak terlihat. Nina tidak makainya, kini dia terlihat seperti orang lain.
BRUK.
Bahu Beby bertabrakan oleh seorang pria. Di dalam club yang pencahayaan nya sangat redup dengan lampu kerlap-kerlip yang berputar, membuat Beby tidak terlalu melihat pria tersebut. Beby hanya merasakan tangan nya sudah tidak bergandengan dengan Nina.
“Nina,” panggil Beby mencoba mencari-cari dimana Nina berada.
“Beby, aku disini bersama Agil,” teriak Nina.
Beby menoleh ke arah sumber suara yang tidak begitu jelas terdengar, karena suara dentuman musik yang begitu keras. Tapi ia yakin jika itu adalah suara Nina.
“Kamu cantik sekali malam ini, By,” bisik seseorang ditelinga Beby.
Membuat Beby terlonjak, apalagi saat pinggulnya yang terasa di rangkul. Sontak Beby langsung menampar pipi pria tersebut. “Brengsek ... menjauh dariku, Dewa,” hardik Beby.
Samar-samar dia melihat Dewa yang berdiri sangat dekat dengan nya. Terlebih di tengah-tengah kerumunan orang yang sedang berjoget dan berdesak-desakan.
“Ayolah, By ... aku sangat merindukanmu,” bisik Dewa kembali. Pria brengsek itu memegang dagu Beby.
“Menjauh dari kekasihku!” Agil datang dan langsung mendorong Dewa menjauh dari Beby. Kemudian ia merangkul Beby pergi.
“Apa dia menyentuh mu?” tanya Agil.
Agil membawa Beby duduk di sofa VIP bersama dengan Nina. “Dia memegang pinggul dan daguku,” ucap Beby.
“Brengsek!”
Agil sangat marah, dia berdiri. Tapi ditahan oleh Beby
“Sudah ... aku baik-baik saja, jangan memukulnya lagi,” ucap Beby.
“Kau yakin baik-baik saja, Moe.” Agil meraih wajah Beby menatap lekat mata kekasihnya itu.
“Aku baik-baik saja, sayang.” Beby mengecup bibir Agil sekilas.
Sedangkan disisi lain, ada seorang wanita yang tengah memakai gaun berwarna ungu diatas lutut, dengan rambut terurai, serta riasan yang begitu tajam, bibir merah, eyeshadow hitam, dan eyeliner. Berjalan mendekati meja VIP tempat ketiganya berada.
__ADS_1
“Hai,”sapa wanita tersebut, tersenyum ramah kepada Beby dan Nina.
“Amanda,”-Agil mengerutkan dahinya-“apa yang kamu lakukan disini?”
“Apa aku boleh duduk disini? Beautiful ladies?” Amanda tidak menghiraukan ucapan Agil, dia malah bicara kepada Beby dan juga Nina.
“Tentu saja,” ucap Beby.
Agil menghela nafasnya dan meneguk minuman di dalam gelas nya dengan kasar. Jengah melihat tingkah Amanda ,yang dinilai nya tidak bermoral. Sebagai nyonya besar keluarga Ganendra, tidak sepantasnya Amanda berpakaian seperti itu. Meskipun umurnya masih terbilang muda, baru saja dia berulang tahun yang ke dua puluh tujuh. Tapi tetap saja, itu tidak sopan.
Amanda mengangkat tangan nya, pelayan pun datang membawakan nya minuman. Amanda mengangkat gelas mengajak Beby dan Nina untuk cheers bersamaan.
“Iya ... silahkan,” ucap Beby. Amanda pun segera meneguk habis isi gelas nya.
Nina yang duduk disebelah Agil menyikut tangan Agil pelan. “Siapa dia?”
“Ibu tiri ku,” jawab Agil.
Mata Nina membulat, dia terkejut dengan perkataan Agil. Minuman yang ia teguk juga hampir tersedak dari mulutnya. Ia menatap Amanda dan Beby yang duduk bersebelahan secara bergantian.
“Hai, perkenalkan aku Amanda,” ucap Amanda sambil menjulurkan tangan nya kepada Beby.
“Beby.” Beby meraih tangan Amanda dan tersenyum. Begitu pun juga dengan Nina.
“Rendahan,” cerca Agil pelan sambil meneguk minuman nya lagi. Amanda yang mendengarnya malah tersenyum miring.
“Baiklah ... tidak masalah,” ucap Beby seraya ingin beranjak.
Agil menarik Beby kembali duduk di pangkuan nya. “Moe, kamu tetap disini,”ucap Agil dengan tatapan dingin nya kepada Amanda. Membuat Amanda geram dengan sikap Agil.
“Agil, aku ingin membicarakan masalah keluarga ... apa kamu yakin orang asing tidak masalah mendengarnya?” Amanda menatap Nina dan Beby secara bergantian.
“Sepertinya ada yang memanggilku disana, aku pergi dulu,” ucap Nina seraya beranjak dan pergi.
“Nina, hati-hati,” teriak Beby. Beby menatap Amanda dengan tajam. Dia tidak lagi memperlihatkan tatapan bersahabat. Karena menurut Beby wanita dihadapan nya itu sangat kurang ajar. Dibilang sebagai orang asing, entah kenapa Beby merasa tersinggung.
“Apa kamu tidak mengikuti teman mu itu? Siapa nama mu tadi? Babi? Oh ... maaf maksudku Beby,”ucap Amanda tersenyum miring.
Agil hendak menyahut, tapi tangan nya dipegang oleh Beby. Ia menatap Beby, wanita itu mengangguk. Agil pun membiarkan Beby yang bicara.
“Agil sayang, katakan pada ibu tiri mu ini bahwa aku bukan lah orang asing,” ucap Beby dengan manjanya kemudian mengecup bibir Agil. Dihadapan Amanda, membuat wanita itu mengepal geram.
Agil tersenyum dengan kelakuan Beby. “Dia kekasih ku, dan sebentar lagi akan menjadi istriku ... jadi dia bukan lagi orang asing,”ucap Agil.
“Tapi-” Amanda tercekat. Saat Beby kembali mengecup mesra bibir Agil di depan nya.
Beby melepaskan pagutan bibirnya dengan bibir Agil. Kemudian mengusap bibirnya yang basah di depan Amanda. “Kamu dengar sendiri kan, bahwa aku bukan orang asing ... ibu, ibu mertua maksudku,”sindir Beby tersenyum miring.
“Dasar jalang ... kamu pasti hanya menginginkan harta keluarga Ganendra, sebaiknya kamu menyerah dan pergi dari kehidupan Agil. Sebelum Nenek Diana membuat kehidupan mu semakin hancur,” ucap Amanda dengan tatapan tajam nya.
__ADS_1
Beby terdiam, dia memang takut dengan Nenek Diana. Agil yang melihat Beby tidak bisa berkata-kata, menyahuti perkataan Amanda.
“Tutup mulutmu Amanda,”-Agil masih berbicara dengan pelan, meskipun giginya sudah bergemeletuk karena begitu geram-“harus berapa kali aku kata-”
“Jangan jalang teriak jalang,” tangkas Beby dengan pedasnya.
Amanda membulatkan matanya dengan tangan yang mengepal. Tanpa sadar ia mengangkat tangan dan melayangkan tamparan di wajah Beby. Namun belum sempat mengenai wajah Beby. Pipinya duluan yang ditampar dengan kuat oleh Beby.
“Kamu! Beraninya kamu menamparku,” teriak Amanda tidak terima. Dia hendak mendekati Beby kembali, ingin menjambak dan mencakar wajah Beby. Tapi tangan nya ditahan oleh Daniel yang tiba-tiba sudah ada disana.
“Amanda, apa-apaan kamu ini ... kenapa kamu menyerang Beby seperti itu? Ingat kamu itu adalah bagian dari keluarga Ganendra, jaga martabat mu!”ucap Daniel.
“Lepaskan tanganku, kalian berdua sama saja! Sudah terhasut oleh jalang ini,” ucap Amanda tidak terima.
“Hei, jaga mulutmu! Apa kamu mau aku tampar lagi," ucap Beby hendak beranjak mendekati Amanda.
“Apa?” Amanda tidak mah kalah.
Kedua wanita itu ditahan oleh Agil dan Daniel. Sampai akhirnya Amanda pergi dari tempat itu, setelah meneguk habis botol wine milik Agil.
“Hai, Bro, Beby,” sapa Daniel tersenyum dan ikut duduk bersama mereka.
“Baru datang?” tanya Agil seraya berjabatan dengan Daniel.
“Hai Daniel,” sapa Beby.
“Biasa, banyak banget kerjaan di kantor,” jawab Daniel.
Agil pun memanggil pelayan untuk membawakan Daniel minuman. Tidak lama kemudian minuman Daniel datang. “Dimana Nina? Biasanya kamu pasti berdua dengan nya?” tanya Daniel.
“Entahlah, tadi dia pergi kesana,” jawab Beby menunjuk ke arah tempat Nina pergi.
“Agil, maafkan aku,” Beby menatap mata Agil dengan lekat. Ia masih duduk di atas pangkuan Agil.
“Maafkan kenapa?”
“Karena sudah berkata kasar kepada Amanda.” Wajah Beby sedikit merasa bersalah. Agil mengecup kening Beby dengan penuh kasih sayang. Saat ia ingin menjawab Daniel memotongnya.
“Kenapa kamu minta maaf? Amanda, memang pantas mendapatkan nya.” Daniel meneguk habis isi gelasnya.
TBC.
Ragilio Ganendra.
Beby Moelinda Endrawira.
__ADS_1