
Langkah kaki tanpa sadar membawanya menuju tempat yang tak pernah terpikirkan oleh nya. Tapi entah kenapa dia malah datang ketempat itu.
Disisi lain. Malam itu Bagas baru saja keluar dari kamar mandi. Tanpa mengeringkan rambut dia duduk di ruang santai. Menatapi layar ponselnya terus menerus. Ingin menghubungi Nina, namun ragu karena takut mengganggu wanita itu.
Namun tiba-tiba saja terdengar suara bel. Sontak membuat Bagas menoleh ke arah pintu masuk. Siapa yang mengunjungi nya malam-malam seperti ini.
“Siapa yang datang malam seperti ini? Apa mungkin itu Dian?” gumam Bagas bertanya pada dirinya sendiri.
Ia pun berdiri dan berjalan ke arah pintu masuk. Tanpa menunggu lama dia langsung membuka pintu itu. Alangkah terkejutnya dia melihat wanita yang berdiri tepat di balik pintu yang dia buka.
“Nina?”
“Apa yang terjadi? Kenapa kau seperti ini?” Bagas memegangi kedua pundak Nina. Bertanya dengan cemasnya.
Bagaimana tidak dia tidak kaget dan cemas. Jika keadaan Nina begitu miris dan memprihatinkan. Baju kerja yang dia pakai tadi masih melekat ditubuhnya, namun keadaan nya kucel dan kotor penuh tanah. Sedangkan wajah nya penuh luka lebam. Terlebih rambut Nina yang yang tidak beraturan. Wanita itu nampak sangat kacau dan berantakan.
Nina langsung memeluk Bagas dan menangis. Bagas yang terkejut langsung membawa Nina masuk ke dalam apartemen nya.
“Hei, jangan menangis terus ... katakan padaku apa yang terjadi?” Bagas bingung harus apa. Nina tidak mau bicara, wanita itu terus menangis di dadanya. Bagas menuntun Nina perlahan menuju ruang santai kemudian mengajaknya duduk disofa.
Bagas melepaskan pelukan Nina dengan perlahan. Ditatapnya wajah Nina dengan lekat. Tangan Bagas bergerak menyibak helaian rambut yang menutupi wajah wanita itu.
“Apa yang terjadi? Siapa yang melakukan ini padamu?” Bagas merasa teriris di hatinya. Melihat keadaan Nina. Namun disela-sela itu ada rasa amarah yang ditahan nya.
“Hiks hiks, Bagas...” Nina kembali memeluk Bagas. Menangis dan menumpahkan perih yang ditahan nya sejak tadi. Didalam dekapan pria itu sungguh membuat dirinya merasa nyaman dan juga aman.
Bagas pun memilih untuk diam. Dia memeluk Nina dengan erat sambil mengelus-elus kepala nya. Mungkin hal itu bisa membuat Nina tenang, pikirnya.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian. Setelah merasa Nina sudah mulai tenang. Ia pun melepaskan pelukan dan beranjak dari duduk nya. Melangkah ke arah dapur, menuang air dingin ke dalam gelas. Sambil terus menatap Nina yang masih terisak-isak, namun tidak seperti sebelumnya.
“Minumlah dulu,” kata Bagas.
Bagas memberikan gelas berisi air itu kepada Nina. Wanita itu menatap ke arah Bagas dan meraih gelas tersebut. Meminum isi nya hingga habis.
Saat itu lah, Bagas mulai bertanya. Dia duduk kembali disebelah Nina. Tangan nya bergerak meraih tangan Nina yang masih bergetar.
“Apa kau sudah merasa lebih baik?” tanya Bagas.
Ia menatap wajah sembab Nina, akibat menangis. Wanita itu mengangguk dan menarik nafas nya panjang. Bagas mengelus kembali kepala Nina, dan mengusapkan sisa air mata di pipinya.
“Kak Gerry mengambil Gio dan membawanya jauh dariku, hiks hiks. Kau tahu aku tidak bisa hidup tanpa Gio, Gas. Aku sudah menganggap Gio seperti anak ku sendiri, tapi sekarang dia tidak ada,” tutur Nina.
Suaranya bergetar dan sangat lirih. Wajah nya nampak begitu sedih dan tidak tenang. Tapi tangan nya, mengepal dengan kuat. Bagas yang melihatnya, bisa mengerti bahwa Nina sangat marah. Namun, wanita itu tidak menampakan keseluruhan rasa amarah nya. Malah memilih menyimpan nya untuk dirinya sendiri.
Mata Nina membulat dia menatap Bagas dengan bingung. “Bukan kah ini? Melanie dan pria ini adalah Kak Gerry? Ada hubungan apa mereka berdua?”
“Ternyata benar, brengsek sekali kau Gerry.”
“Bagas, jawab aku. Sebenarnya ada apa? Apa kau mengenal Kak Gerry?”
Bagas menatap wajah wanita yang ada di hadapan nya itu. Sungguh malang nasib nya. Gerry brengsek bukan hanya menyusahkan adiknya tapi dia juga menyusahkan Nina. Dengan cara memisahkan nya dari Gio.
“Apakah dia yang melakukan ini padamu? Jawab aku dengan sejujurnya, Nina. Aku tidak bisa melihatmu seperti ini.” Bagas meraih kedua pundak Nina. Menatap lekat mata Nina, menunggu jawaban dari pertanyaan nya.
Nina menggeleng dengan air mata yang setetes demi tetes terjatuh. Mengingat perlakuan Fitriani tadi padanya.
__ADS_1
“Bibi ingin aku menikah dengan Kak Gerry, dan mereka mengancam ku. Jika aku tidak mau menikah dengan nya, dia akan membawa Gio jauh dariku. Hiks hiks, aku gak mau itu terjadi, Gas. Aku takut, tapi aku juga gak mau menikah dengan nya. Aku harus apa?”
Bagas menggeleng dan menangkup wajah Nina. Dia tidak tega melihat Nina yang kembali bergetar, mengingat kejadian tadi. Bagas mengusap air mata Nina untuk kesekian kalinya. Tanpa sadar dia mendekat mengecup kening Nina dan kembali mendekapnya erat.
“Dasar bajingan, aku tidak akan pernah memaafkan mu. Kau sudah membuat orang-orang yang aku sayangi menderita, jangan harap kau akan hidup dengan tenang!” batin Bagas geram.
“Tenanglah, aku pasti akan membantu mu. Aku tidak akan membiarkan mu menikah dengan nya.”
Deg.
Dada Nina seketika berdebar kencang. Apakah dia sangat penting untuk Bagas. Hingga pria itu bersedia membantunya dan tidak membiarkan dirinya menikahi Gerry.
Nina melonggarkan pelukan Bagas, dia mendongak menatap wajah pria itu. Dari tatapan nya Nina seperti merasa ketulusan begitu besar disana. Apakah yang dia rasakan selama ini, sama dengan yang Bagas juga rasakan kepadanya. Nina tidak mau terlalu berharap. Dia kembali memeluk Bagas dengan erat. Paling tidak sekarang ini dia memiliki seseorang untuk bersandar.
***
Di dalam kamar Bagas. Nina yang selesai membersihkan diri di dalam kamar mandi. Keluar dengan mengenakan piyama tidur milik Bagas. Karena baju-baju nya sudah tidak ada yang bisa dipakai, karena terdapat bekas guntingan yang dilakukan oleh Fitriani.
Langkah Nina terhenti ketika melihat Bagas yang berada di dekat ranjang. Pria itu sedang merapikan bantal dan guling diatas ranjang. Dia berbalik dan melemparkan senyuman.
Nina panik, dia memalingkan pandangan nya. Dan berusaha mencari topik lain untuk bicara. Wajahnya kini semerah tomat. Nina berjalan mendekati Bagas.
Sedangkan Bagas sendiri mematung, memperhatikan wanita yang tengah berjalan ke arah nya. Ada perasaan sedih melihat wanita itu yang sangat miris. Meskipun sudah selesai mandi. Tetap saja luka lebam di wajahnya tidak hilang. Begitu pun dengan rambutnya yang tidak karuan, digunting sembarangan.
“Bukan kah rambut adalah mahkota yang juga sangat berharga untuk wanita. Aku sangat kagum dengan ketabahan dan kekuatan mu, Nina. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana hancurnya hatimu, ketika rambutmu yang indah menjadi seperti ini,” batin Bagas.
TBC.
__ADS_1