
“Entahlah, apakah ini nyata atau hanya sebuah mimpi. Baru saja kita membicarakan mengenai hidupmu waktu diperjalanan. Dan sekarang malah terbukti bahwa ternyata aku ada didalam kisah itu,” sahut Beby.
“Kau benar, ini seperti mimpi. Terlebih saat kenyataan membawa kebenaran bahwa kau adalah adik yang selama ini aku cari-cari,” ucap Bagas.
Ia mulai terbawa suasana. Tanpa menyadari sudut bibirnya tertarik, mengingat kenangan masa kecilnya bersama Beby. Adiknya itu kini tumbuh menjadi wanita yang sangat cantik.
“Ayahku bukanlah pria brengsek seperti yang katakan tadi, dia tidak pernah membuang mu atau tidak menginginkan kehadiran mu, Beby.”
“Aku tahu ... aku tidak menganggap dia seperti itu.”
“ Lalu, mengapa kau pergi begitu saja. Membuat mereka berdua sedih, dan berpikiran bahwa kau sangat membenci mereka?”
“Entahlah, aku hanya merasa sesak saat itu. Maafkan aku, kehidupan pahit yang baru-baru ini aku jalani, membuatku sering merasakan sesak didada.”
Deg.
__ADS_1
Seperti tersambar petir disiang bolong. Bagas tercekat, salivanya seperti kerasnya batu. Ia sangat tahu kehidupan pahit apa yang Beby jalani selama beberapa bulan terakhir.
“Maafkan aku, Beby,” lirih Bagas dengan suara bergetar menahan tangis.
“Untuk apa?” tanya Beby yang masih enggan untuk berpaling.
“Maafkan kakak yang terlambat untuk menemukan mu, sampai-sampai kamu harus menjalani kehidupan pahit itu. Ini semua salahku, jika saja aku cepat menyadarinya. Aku tidak akan membiarkan mu merusak masa depan mu itu untuk menyambung hidup. Aku memang kakak yang tidak berguna, maafkan aku.”
Bagas tertunduk, ia menahan air matanya yang hendak terjatuh. Tapi sekuat apapun itu, dia tidak bisa menahan nya. Akhirnya dia menangis, mengingat pahitnya hidup Beby. Ia merasa tidak berguna, karena tidak bisa mencegah Beby menghancurkan masa depan nya sendiri. Adik nya yang malang, harus menjual diri untuk menyambung hidup. Itu adalah kenyataan yang sangat miris, membuat hati Bagas sakit.
Bagas terus menyalahkan dirinya sendiri. Sedangkan disisi lain, ternyata Beby juga sudah menangis mendengar perkataan Bagas. Ia pun segera membalikkan badannya. Dengan tangan bergetar Beby meraih wajah Bagas yang tertunduk dan menegakkan nya.
“Jangan menyalahkan dirimu sendiri, kau tidak salah, Kakak,” ucap Beby.
Bagas terdiam saat Beby memanggilnya dengan sebutan kakak. Untuk yang kedua kalinya. Ia pun langsung memeluk adiknya itu dengan sangat erat. Mengusap kepalanya dan menghujam pucuk kepalanya dengan kecupan penuh kasih.
__ADS_1
“Maafkan aku, Beby.”
“Ini bukan salah mu, Kak. Melainkan ini memang sudah jalan nya. Jika ini semua tidak terjadi, kita mungkin tidak akan pernah bertemu. Sekarang, aku sangatlah bahagia, karena kini aku sudah memiliki mu dan juga Agil.”
“Aku janji tidak akan membuat mu bersedih lagi, Beby. Aku tidak akan membiarkan orang-orang yang sudah menyakiti mu hidup dengan tenang. Mereka semua harus merasakan bagaimana sakit yang kamu rasakan saat mereka berulah.”
Beby tersenyum dan semakin mengeratkan pelukan nya kepada Bagas. Karena dia begitu bahagia, ternyata memiliki seorang kakak yang sangat menyayanginya. Beby merasa kebahagiaan nya sudah lengkap. Dengan adanya Bagas dan Agil di sampingnya. Terlebih Bunda dan Ayah kandungnya Prayoga yang dipertemukan kembali.
Beby hanya bisa berharap bahwa kebahagiaan yang sebenarnya akan segera dirasakan dirinya dan juga orang-orang yang dia sayangi.
TBC.
Note : Terima kasih untuk yang selalu setia menunggu update terbaru novel ini, sekali lagi author ucapkan terima kasih.
Boleh tanya gak, sebenarnya menurut kalian cerita ini membosankan gak sih?
__ADS_1
Jangan segan untuk mengkritik yah readers-readers ku, karena kritikan yang membangun dari kalian sangat berarti untuk aku.☺️☺️