
Bagas memperhatikan Nina yang sedari tadi berdiri di dekat lemari es. Sambil memegang botol air mineral, dia terlihat sedang berbicara dengan seseorang di ponselnya. Bagas pun mengakhiri panggilan nya bersama Agil. Dia langsung berjalan menghampiri Nina.
“Pacar mu? Atau suami mu?” ucap Bagas.
Sontak berhasil membuat Nina tersentak kaget dan menoleh ke arah nya. Gugup dan jadi kikuk sendiri. Nina berjalan melewati Bagas tanpa menjawab. Bagas kesal dan dia menarik tangan Nina.
“Jawab pertanyaan ku? Kenapa kau malah menghindar.”
Wanita itu pun terhuyung jatuh di pelukan Bagas. Keduanya saling menatap lama. Nina memutuskan tatapan itu dan menarik tubuhnya menjauh dari Bagas.
“Jas mu sudah bersih, aku juga sudah memasukkan nya ke dalam mesin pengering ... sekarang aku boleh pulang bukan?”
Bagas diam tidak menjawab. Dia hanya memperhatikan Nina yang tengah bersiap-siap untuk pergi. Bagas pun masuk ke dalam kamar nya untuk mengambil kunci mobil dan jaket.
“Hmm, kenapa aku selalu berdebar karena nya?” gumam Nina seraya menatap kepergian Bagas.
Tok tok tok.
Nina mengetuk pintu kamar Bagas. “Aku pulang ya,” ucap nya.
Pintu pun terbuka. Bagas sudah rapi dengan jaketnya. Nina terkejut dia mundur. Bagas keluar dan tersenyum. “Aku akan mengantarmu.”
“Apa? Tidak-tidak perlu, aku bisa pulang sendiri.”
“Keras kepala sekali sih, sudah tidak usah membantah. Ingat aku ini bos mu, turuti perintah ku.”
“Kau ini menyebalkan sekali ... ini kan bukan jam kerja, kenapa aku harus menuruti per-”
Cups.
Mata Nina membulat tak percaya ketika bibir nya dan bibir Bagas menyatu. Ia memegangi bibir nya. “Apa yang kau lakukan?”
“Itu hukuman karena kau begitu cerewet ... telinga ku sakit sekali mendengar omelan mu setiap waktu,” ucap Bagas seraya pergi meninggalkan Nina yang terpaku.
“Sial, apa yang sudah kau lakukan Bagas? Sangat memalukan, seharusnya kau bisa menahan diri,” batin Bagas.
***
Di dalam mobil. Suasana nampak begitu canggung. Nina tidak bisa melupakan kejadian barusan. Sebelum nya dia tidak pernah merasakan yang namanya ciuman. Meskipun tadi hanya kecupan, tetap saja itu bukan hal biasa untuk nya.
Begitu pun juga dengan Bagas. Dia tidak konsen menyetir. Sesekali dia melirik ke arah Nina yang hanya diam. Ia merasa sedikit kikuk atas apa yang dia lakukan tadi.
“Ayolah Bagas ... jangan jadi laki-laki pengecut, cairkan suasana canggung ini,” Bagas membatin.
Bagas memutar setir kemudinya dan berhenti di pinggir jalan. Nina merasa aneh dia langsung menatap kearah Bagas dan bertanya.
“Kenapa berhenti? Rumahku masih jauh?”
Bagas melepaskan sabuk pengaman nya dan memiringkan sedikit posisi duduk nya menatap Nina. Nina menelan salivanya dan memegangi dadanya yang berdebar-debar.
“Apa lagi? Apa yang ingin dia lakukan?” batin Nina kacau.
“Soal tadi-” ucap keduanya bersamaan.
“Kamu duluan,” ucap Nina.
“Tidak ... kau saja duluan,” ucap Bagas.
“Kau saja.” Nina kembali menimpali. Bagas pun menarik nafas panjang dan menghembuskan nya.
“Soal tadi, maafkan aku ... aku tidak bermaksud membuat mu terkejut,” lirih Bagas.
Bagas menunduk menyembunyikan rasa malu yang begitu dalam. Nina tersenyum melihat tingkah Bagas. Dia pun mengacak-acak rambut Bagas.
__ADS_1
“Hei ... apa yang kau lakukan?” decak Bagas kesal dan terkejut.
“Aku kira kau ingin mengatakan apa ... ternyata hanya itu. Sudah cepat antar aku pulang, rumah ku masih jauh dari sini,” ucap Nina tersenyum.
Dengan wajah cemberut Bagas kembali memasang sabuk pengaman dan menancap gas. Setengah jam kemudian sampailah mereka di sebuah daerah.
“Berhenti disini saja,” ucap Nina.
Bagas menatap ke arah Nina dengan heran. “Disini? Dimana rumah mu yang sebenarnya?”
“Maafkan aku, tapi paman dan bibiku bisa marah jika melihat aku pulang malam di antar oleh seorang pria asing,” jelas Nina. Nampak jelas jika dia merasa tidak enak kepada Bagas.
“Hei, aku ini bukan orang asing,” sahut Bagas tidak terima dikatakan sebagai orang asing.
Nina tertawa pelan melihat wajah Bagas yang cemberut. “Hahaha, sudah gak usah bawel deh. Turunkan aku disini saja.”
“Baiklah,” ucap Bagas malas seraya menepikan mobilnya.
“Terima kasih untuk tumpangan nya.” Nina tersenyum kepada Bagas.
Bagas membalas senyuman itu. “Sama-sama ... kau yakin hanya sampai disini?”
“Aku yakin,” ucap Nina meyakinkan Bagas.
Ketika Nina membuka pintu mobil dan hendak keluar. Dia kembali menoleh ke arah Bagas. Bagas terkejut lantas dia menatap Nina dengan bingung.
“Ada apa?”
“Selamat ulang tahun.”
Deg.
Bagas terdiam, merasakan jantungnya yang berdetak tak menentu. Menadapat ucapan selamat dari Nina, yang secara tiba-tiba. Tentu membuat dia sangat terkejut. Wanita itu ingat dengan ulang tahun nya.
“Tentu saja aku mengingatnya dengan jelas ... sudah malam pulang lah.”
“Cih, tanpa kau suruh aku juga akan pulang. Pergilah lebih dulu, jalanan sepi aku akan menerangi jalanan itu dengan lampu mobil ku,” ucap Bagas.
Nina pun menutup pintu mobil Bagas. Ia berjalan kearah depan sana di jalanan sepi yang sedikit gelap. Ketika Nina sudah menghilang dari pandangan nya. Bagas memutar mobil dan segera pergi.
Akan tetapi Bagas tidak benar-benar pergi. Tidak jauh dari jalan itu, Bagas menepi dan keluar dari mobil. Dia berjalan ke arah yang dituju Nina tadi.
“Dasar culun, dia meninggalkan ponsel nya.”
Langkah Bagas terhenti ketika berhenti di depan sebuah rumah. Sontak dia langsung bersembunyi dibalik tembok. Melihat Nina yang di memeluk seorang anak kecil di halaman sebuah rumah.
“Siapa anak itu? Kenapa dia memanggil si culun dengan sebutan Mommy? Apakah benar si culun sudah punya anak? Tidak mungkin,” ucap Bagas.
Ia lebih memperjelas lagi penglihatan nya. “Pria itu? Apa itu suaminya? Aku tidak bisa melihat wajah nya dengan jelas,” gerutu Bagas.
“Sial! Kenapa aku jadi kesal begini sih ... apa salahnya jika dia sudah menikah dan punya anak? Itu bukan urusan ku.”
Bagas merasa aneh dengan perasaan nya sendiri. Ia pun memilih pergi tanpa bertemu dengan Nina. Di dalam mobil dia memukul setir kemudi dengan kuat sambil memaki-maki. Ia melempar ponsel Nina di kursi sebelahnya.
“Biarkan saja, aku tidak perduli. Dia bisa mengambil ponselnya besok di kantor!”
Bagas menyalakan mesin mobil dan menancap gas. Pergi dari tempat itu. Di perjalanan dia tidak bisa tenang selalu terpikirkan mengenai apa yang dia lihat tadi.
“Sial! Kenapa aku seperti ini sih? Bagas lupakan itu, lagipula culun bukan siapa-siapa mu. Dia berhak dengan kehidupan nya sendiri.”
“Akkhh, aku merasa tidak terima! Sepertinya aku sudah gila!”
***
__ADS_1
Disisi lain. Nina memeluk Gio dengan begitu erat di depan sebuah rumah sederhana tidak besar dan juga tidak kecil.
Saat itu Gerry juga baru saja sampai mengantar Gio. Karena sudah di hubungi oleh Nina sebelum nya. Bahwa dia akan pulang. Dan waktunya sangat tepat saat Nina baru sampai rumah Gerry dan Gio juga sampai.
“Sayang, maafkan Mommy ya ... Mommy banyak pekerjaan tadi,” ucap Nina memeluk erat Gio dengan penuh kasih sayang.
“Tidak apa-apa, Mommy. Yang penting sekayang Mommy udah puyang jadi Gio bisa bobok ama Mommy,” ucap Gio dengan gemas nya. Nina mengecup pipi Gio berulangkali.
“Kak, maaf ya. Aku sudah ngerepotin.”
Gerry tersenyum dan memegang pundak Nina. “Tidak usah minta maaf, Nin. Gio kan juga anak aku.”
Nina menatap tangan Gerry yang berada di pundak nya. Nina memundurkan tubuhnya agar tangan Gerry terlepas dari pundak nya. “Makasih kak.”
“Aku benci kak, sangat benci jika kau bersikap lancang seperti itu.”
Kata-kata itu hanya bisa terucap di dalam hatinya. Nina tidak mau menampakan ketidaksukaan nya terhadap Gerry secara terang-terangan.
“Ayo, sayang nya Mommy. Kita masuk, nenek dan kakek pasti sudah menunggu.” Nina menggandeng Gio masuk ke dalam rumah. Diikuti oleh Gerry di belakang mereka.
PLAK.
Nina memegangi pipinya yang terasa panas. Ketika baru saja masuk sudah mendapatkan tamparan keras. Ia menatap ke arah bibinya yang melotot dengan wajah merah menahan amarah.
“Dasar tidak tahu malu! Bisa-bisanya kamu pulang malam seperti ini ... dan merepotkan Gerry menjaga Gio!”
Nina menahan air matanya yang hampir terjatuh. Dia meminta Gio untuk masuk ke dalam kamarnya. Gio pun nurut dan masuk ke dalam kamar bersama dengan paman nya.
“Bibi, jangan salahkan Nina. Aku tidak masalah jika menjaga Gio selama seharian atau pun seminggu.” Gerry mencoba membela Nina.
“Dasar kamu itu memang tidak tahu di untung, Nina. Ingat jika tidak ada kami disini kamu tidak akan bisa hidup sampai sekarang! Aku rela-rela mendonorkan mata anak ku sendiri untuk mu, seharusnya kamu itu bisa membuat keluarga ini tidak susah! Tapi apa? Selama ini kami kesusahan untuk membiayai kuliahmu saja!”
Tangan Nina bergetar dan mengepal. Tanpa sadar air mata nya menetes. Dia mengusap air mata itu dengan kasar.
“Hentikan, Bibi. Jangan menyalahkan kuliah ku, sekarang aku ada disini untuk membantu kalian. Masalah biaya kuliah, apa bibi lupa jika aku kuliah karena beasiswa!”
PLAK.
Bibinya kembali menampar wajah nya dengan keras. Hingga Nina hampir terjatuh kelantai tapi di tangkap oleh Gerry. Nina melepaskan diri dari Gerry dengan cepat.
“Anak kurang ajar! Bisa-bisanya kamu meneriaki ku!”
“Apa Bibi belum puas untuk memukuli ku? Silahkan Bi, pukul lagi!” Nina hilang kendali dia menantang bibinya untuk kembali menamparnya.
Namun tiba-tiba terdengar suara Gio yang berteriak memanggilnya sambil menangis. Nina pun meninggalkan Gerry dan bibinya. Pergi menyusul Gio ke dalam kamar.
Di dalam kamar. Nina meminta paman nya untuk meninggalkan mereka berdua. Dengan sayang Nina mengajak Gio untuk mengganti baju dan bersiap untuk tidur.
Diatas tempat tidur. Nina memeluk Gio dengan begitu erat. Sambil mengelus-elus kepala Gio. Dia menangis tanpa suara, dan sesekali mengecup pucuk kepala Gio dengan penuh kasih.
“Maafkan Mommy sayang.”
“Hiks hiks, kak kenapa kau pergi meninggalkan ku. Jika bukan karena Gio, mungkin sudah lama aku menyerah dengan hidup ini.”
Nina terus menangis hingga Gio tertidur. Dia perlahan turun dari ranjang dan masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah mandi dia mengintip kearah luar, melihat Gerry dan bibinya yang berbicara di depan rumah.
Mereka nampak akrab dengan senyum dan tawa. Tidak kah mereka memikirkan perasaan Nina saat ini. Dengan gampang nya tersenyum seperti itu. Tidak sengaja pandangan nya dan Gerry bertemu. Lelaki itu tersenyum ke arah nya. Nina membuang muka dan menutup gorden jendelanya.
“Aku membenci kehidupan ini, hanya kau sayang yang membuat Mommy bertahan disini,” lirih Nina meneteskan air matanya. Mengecup kening Gio yang tertidur dengan lelapnya.
Nina pun merebahkan tubuhnya di samping Gio. Sambil memeluk tubuh Gio, dia akhirnya ikut tertidur. Nina tidak sadar jika memar di pipinya semakin memerah. Akibat tamparan tangan bibinya yang begitu keras.
Karena drama keluarga yang barusan di alaminya. Nina sampai melupakan ponselnya yang tertinggal di dalam mobil Bagas.
__ADS_1
TBC.