Selling My Virginity (Menjual Keperawanan Ku)

Selling My Virginity (Menjual Keperawanan Ku)
Selling My Virginity Ch 88.


__ADS_3

Di perjalanan. Beby yang duduk disebelah Agil yang tengah menyetir. Terus menyandarkan kepalanya di bahu sang kekasih. Sesekali ia juga mengusap-usap bahu tegap itu, karena merasa begitu bahagia.


“Ada apa?” tanya Agil yang merasa aneh dengan sikap Beby.


Beby tersenyum dan menggeleng. “Tidak apa-apa, aku hanya ingin bersandar seperti ini. Kenapa? Kamu gak suka?”


“Hahaha, tentu saja aku suka. Bersandar lah sepuas mu, karena bahu ini adalah milikmu. Ketika suasana hatimu sedang sedih atau pun senang, aku akan selalu ada padamu, Moe.” Agil tertawa pelan dan mengusap kepala Beby dengan lembut.


Linda terus memperhatikan gerak-gerik dari Agil. Pria itu bersikap begitu manis kepada anak nya. Tentu saja, ia bertanya-tanya ada hubungan apa Agil dengan Beby. Tapi Linda memilih untuk diam dan menyimpan pertanyaan itu untuk nanti.


Tiga puluh menit berlalu. Kini mereka sudah sampai. Rumah klasik ala Amerika, yang sederhana tidak besar dan juga tidak kecil.


“Beby, bunda masuk duluan yah,” ucap Linda.


“Baiklah, Beby akan masuk sebentar lagi,” sahut Beby.


“Tuan Ragilio, terima kasih untuk tumpangan nya,” ucap Linda kepada Agil.


“Sama-sama, Nyonya Linda.” sahut Agil.


Linda pun membuka pintu mobil dan berjalan masuk ke dalam rumah tersebut. Meninggalkan Beby dan Agil yang masih ada di dalam mobil.


“Moe, apa kau bahagia bisa bertemu dengan ayah kandung mu?” Agil mengelus kepala Beby.


“Tentu saja, aku sangat bahagia. Terlebih memiliki kakak yang juga sangat menyayangi ku.”


“Aku juga sangat menyayangi mu, bahkan juga sangat mencintaimu. Apakah kau tidak mau memberikan ku hadiah, untuk kerja keras ini?” ucap Agil menatap lekat wajah Beby.


Beby menyipitkan matanya dan berkata, “Hadiah? Kau mau hadiah seperti apa?”

__ADS_1


“Hmm ... bagaimana kalau kiss.” Agil tersenyum menggoda.


“Baiklah, tapi tutup matamu,” ucap Beby.


“Yes.” Agil segera menutup matanya.


Ia tidak sabar untuk mendapat hadiah dari Beby. Pasti wanita itu akan mencium bibirnya, pikir Agil. Tapi tidak tahunya, Agil malah merasakan sesuatu yang basah menyentuh pipinya. Ia pun segera membuka matanya.


Wajah Beby tengah berada sangat dekat dengan wajahnya. Bahkan hembusan nafas dari hidung nya terasa begitu jelas di wajah Agil. Ia menatap lekat netra mata Beby, dan beralih ke arah bibirnya yang sensual.


“Aku mau yang ini,” ucap Agil seraya menarik tengkuk leher Beby.


Memperdalam ciuman nya di bibir Beby. Ciuman yang awalnya ringan kini memanas, Beby melingkarkan tangan nya di leher Agil dan naik ke atas pangkuan nya.


Agil melepaskan ciuman nya dan menyatukan kening mereka berdua. Dengan nafas yang terengah-engah, Agil tersenyum mengecup kening Beby. “Aku sangat mencintaimu, Moe.” Memeluk erat tubuh Beby yang begitu hangat.


“Kalau begitu, menikahlah dengan ku.” Agil melepaskan pelukan nya. Ia menatap lekat Beby dan mengelus wajah cantiknya.


“Bukan kah sudah sering kau mengatakan nya? Dan aku juga sudah menjawab nya.”


“Aku tahu, tapi kali ini aku bersungguh-sungguh. Dan aku mau kita menikah dalam waktu dekat.”


“Apa?” Beby terkejut mendengar perkataan Agil. “Kau bahkan belum bertemu dengan ibu dan keluarga ku, Agil.”


“Percayalah padaku, Moe.” Agil mendekat dan mengecup kening Beby untuk yang kesekian kalinya. Tapi kali ini dia mengecupnya sedikit lama dengan mata tertutup.


“Hmm, aku selalu percaya kepada mu.” Beby mengangguk dan tersenyum.


Tapi tiba-tiba saja dia merasa kepalanya berdenyut-denyut, dan perutnya seperti di aduk-aduk. Mual sekali yang ia rasa.

__ADS_1


“Ada apa?” tanya Agil yang menyadari perubahan air diwajah Beby. Ia pun mengangkat Beby dan mendudukkan nya kembali ke tempat semula di sebelahnya.


“Apa perutmu sakit?” Agil menyentuh perut Beby.


“Entahlah, aku merasa sedikit pusing dan mual.”


“Bagaimana kalau kita kerumah sakit?” Agil semakin panik, dia takut terjadi sesuatu terhadap Beby.


“Gak usah, aku gak apa-apa kok. Mungkin hanya sedikit lelah, karena penerbangan selama berjam-jam,”tolak Beby.


“Baiklah, aku akan mengantarmu sampai depan pintu.” Agil hendak keluar dari mobilnya tapi tangan nya ditahan oleh Beby.


“Aku bisa kok, kamu sebaiknya kembali ke hotel dan istirahat.”


“Kamu yakin,Moe? Tidak apa-apa? Aku tidak mau kamu kenapa-kenapa, sayang.” Agil mengelus kepala Beby.


Beby mengangguk dan tersenyum meskipun sedikit lemas. Tapi dia berusaha kuat, agar kekasih nya itu berhenti cemas.


“Besok jangan lupa untuk menjemput ku, Ok!” ucap Beby seraya turun dari mobil. Agil pun ikut keluar dan berdiri disisi pintu mobilnya. Menatap kekasihnya itu yang berjalan menuju pintu rumah tersebut.


Beby berbalik badan sebelum dia masuk ke dalam rumah itu. “Pergilah, hati-hati dijalan.” Ia melambai sambil tersenyum.


“Aku pergi.”


Dengan berat hati Agil pun masuk kembali kedalam mobil. Dan menancap gas pergi dari sana. Menuju hotel tempat dia menginap.


Sedangkan Beby masuk ke dalam rumah, setelah mobil Agil benar-benar sudah tidak terlihat lagi dari pandangan nya


TBC.

__ADS_1


__ADS_2