
“Sayang, bagaimana dengan paket yang datang tadi siang? Memangnya itu dari siapa?”
Beby bertanya kepada sang suami. Mengenai paket misterius tanpa nama yang datang tadi siang. Tentu saja dia takut, jika isinya hal-hal yang tidak diinginkan.
“Daniel,” sahut Bagas di sela santapan nya, dengan wajah tidak perduli.
Sontak Beby langsung menatap Bagas dan Agil secara bergantian. “Sayang, apa itu dari Daniel?”
“Iya, itu dari Daniel.”
“Kalau begitu dimana dia sekarang? Dia menghilang begitu saja tanpa kabar, dia juga tidak datang ke pernikahan kita.”
Agil dan Bagas saling bertatapan. Bagas pun memalingkan wajahnya. “Dia patah hati.”
“Patah hati?” Beby kebingungan.
“Bagas!” Agil melototi Bagas.
“Apa? Kenapa kamu menatap ku seperti itu?” ucap Bagas tidak terima ditatap seperti itu oleh adik iparnya itu.
“Moe, habiskan dulu makanan mu. Baru kita buka paket itu,” ucap Agil kepada Beby.
Beby pun mengangguk dan menuruti perkataan suaminya. Setelah menghabiskan makanan masing-masing. Mereka bertiga beralih ke ruang santai. Dimana terdapat kotak berukuran 2x2 meter. Terbungkus rapi layaknya sebuah kado yang dililit pita berwarna merah.
“Sayang, ayo buka,” ucap Beby yang sudah tidak sabar ingin melihat isi didalam nya.
Pelayan pun membantu untuk membuka kotak tersebut. Agil terus memperhatikan raut wajah sang istri. Dia terlihat begitu senang.
“Sayang? Bagaimana dia tahu bahwa aku sedang hamil?”
Agil tidak bisa berkata-kata lagi. Melihat betapa cantiknya kereta bayi berwarna biru muda, yang di desain begitu elegan. Agil melihat rajutan nama di bagian belakang nya. Tertulis nama Agil dan Beby, serta nama pengirimnya, yang tak lain Daniel.
Sang istri menariknya mendekati kereta bayi tersebut. Agil menyentuh nya, dia benar-benar merindukan sahabatnya itu. Ia menatap Bagas yang juga terlihat tertegun dengan hadiah tersebut.
Kini Agil dan Bagas sedang berdiri di balkon. Menikmati indahnya kota J di malam hari. Mereke menatap ke arah dalam ruang santai, dengan gelas berisi wine ditangan masing-masing.
“Dia terlihat sangat senang dengan hadiah itu,” ucap Bagas.
Agil pun tersenyum, ikut memandangi raut wajah Beby yang bahagia. Ia tidak berhenti menyibukkan dirinya, pada kereta bayi tersebut.
“Ya, kau benar. Daniel adalah yang pertama dia kenal, mereka berteman sejak lama. Tentu saja, Beby begitu senang mendapat hadiah itu dari Daniel.”
“Terkadang, aku merasa dia sudah banyak berubah,” ucap Bagas sembari meneguk isi gelas nya.
“Daniel, sudah berubah sejak dia mulai bekerja di perusahaan ayahnya. Paling tidak dia lebih dewasa darimu,” ejek Agil terkekeh.
Keduanya pun tertawa bersamaan. Bersulang dan meneguk minuman masing-masing. Setelah malam semakin larut, Bagas berpamitan pulang. Karena tidak ingin menganggu pengantin baru tersebut.
***
Keesokan paginya.
Diruangan kerjanya. Agil memanggil Reyhan untuk masuk. Asisten pribadi itu pun dengan sigap datang ke dalam ruangan Agil.
“Rey, bagaimana dengan kasus Tuan Endrawira?” tanya Agil seraya terus memandangi layar komputernya.
__ADS_1
“Saya sudah menyiapkan semua nya, Tuan.”
“Kapan sidang perdana nya dilangsungkan,” tanya Agil lagi. Kini menatap Reyhan dengan intens. Manik mata Agil seperti menajam. Karena dia tidak sabar untuk membuktikan bahwa Arsyad Endrawira tidak bersalah dalam kasus suap yang melibatkan nya.
“Besok Tuan,” jawab Reyhan sembari menaruh sebuah amplop kulit coklat di atas meja Agil. “Semua berkas nya ada di dalam itu, Tuan.”
“Kerja bagus, jangan lupa untuk terus memantau apa yang dilakukan Amanda dan Dewa.”
“Siap Tuan, kalau begitu saya permisi.” Reyhan berlalu keluar dari ruangan kerja Agil.
“Moe, aku sudah berjanji untuk membantu Tuan Arsyad. Jadi aku pasti akan menepati janji itu,” ucap Agil tersenyum. Menatap bingkai foto Beby yang ada di atas meja kerjanya.
Dengan cepat pagi berganti sore. Agil tidak sabar untuk pulang. Ia sudah berjanji untuk mengajak sang istri periksa ke dokter kandungan. Ia ingin melihat dan mengetahui langsung saran dari dokter mengenai kandungan sang istri.
“Moe, aku pulang.”
Seperti biasa setelah memasuki apartemen nya. Agil pasti berteriak memanggil istri nya. Berjalan mengitari satu persatu ruangan menuju kamar nya.
“Moe, apa kamu sudah bersiap?”
Agil mengetuk pintu kamar mandi. Karena tidak menemukan Beby di dalam kamar. “Bentar sayang, aku lagi gosok gigi.”
Agil tersenyum mendengar suara teriakan Beby dari dalam kamar mandi. Ia pun berjalan ke arah tempat tidur dan menjatuhkan tubuhnya yang lelah. Akibat bekerja seharian.
“Pelan-pelan saja, ingat jangan berlari ... nanti kamu terpeleset,” teriak Agil.
“Iya, bawel ah ... orang lagi sikat gigi juga, malah diajak ngomong,” omel Beby dengan suara menggema.
Agil hanya tersenyum mendengar omelan dari istrinya itu. Dia pun merogoh sakunya, mengeluarkan ponsel. Mengetikkan sebuah pesan kepada Daniel.
...‘Sebenarnya, kamu dimana bro? Sekarang ini aku sedang menunggu Beby, bersiap akan pergi ke dokter kandungan. Pertama kalinya untuk kami melihatnya, jika kamu ada disini, kita bisa merayakan kebahagiaan ini bersama. Kamu, Aku, Bagas, dan Beby. Tapi sekarang, entah kamu berada dimana, hubungi aku jika kamu membaca pesan ini.’...
Agil tersentak kaget. Melihat sang istri yang ternyata sudah keluar dari kamar mandi, dan sekarang tengah menatap nya dengan tatapan menyelidik.
“Cih, kemari lah.”
Agil malah tertawa, dan memanggil Beby. Wanita itu berjalan dengan wajah cemberutnya mendekati Agil. Agil bangun dari rebahan dan duduk di pinggiran tempat tidur.
Ia memeluk erat sang istri yang berdiri dihadapan nya. Menempelkan telinganya di perut Beby yang masih belum membuncit itu.
“Sayang, nanti kalau sudah lahir. Jangan ikuti Bunda mu yang suka mengomel dan marah-marah, yah.”
Seakan-akan dia berbicara kepada bayi yang ada di dalam perut istrinya itu. Agil mendongak menatap wajah sang istri yang tersenyum.
“Baiklah, tidak masalah. Yang terpenting jangan ikuti Ayahmu yang berotak mesum,” balas Beby yang tak mau kalah meledek.
“Sudah siap?” tanya Agil.
“Sudah, sayang kamu gak mau mandi atau ganti baju dulu?”
“Nanti aja, pas pulang nya.”
“Ya sudah kalau begitu, ayo.”
Agil pun menggandeng Beby keluar. Ia mengendarai mobil dengan sangat hati-hati, karena tidak mau membahayakan istrinya yang sedang hamil.
__ADS_1
Alhasil, sekita tiga puluh menit kemudian. Mereka sudah sampai di sebuah klinik dokter kandungan. Klinik itu adalah rekomendasi dari Nenek Diana. Dia bilang klinik tersebut adalah milik teman nya.
“Silahkan ditunggu, Tuan Nyonya,” ucap salah satu perawat di bagian pendaftaran. Meminta Agil dan Beby untuk menunggu sebelum giliran nya di panggil.
“Dewa, Amanda, apa yang kalian lakukan disini?”
Beby sangat terkejut ketika berpapasan dengan kedua orang itu. Raut wajah Dewa dan Amanda nampak gugup. Agil tersenyum bahagia melihat sikap tahu malu dari kedua tikus got itu.
“Dimana Melanie?” Beby menatap kesana kemari. “Bukan kah ini klinik kandungan, apa yang kalian lakukan disini?”
“Oh my god, jangan bilang?”
Beby menatap Amanda dan beralih ke perutnya. “Tidak mungkin kan, apa kalian berdua juga akan menjadi orang tua? Kalian sudah menikah?”
Suara Beby yang keras serta nada bicaranya yang menyindir. Membuat mereka jadi bahan pembicaraan orang-orang disana. Amanda merasa sangat malu, dia mencengkram lengan kemeja Dewa dengan kuat.
“Lakukan sesuatu, aku malu sekali.”
Dewa pun mendekati Beby. Tapi di tahan oleh Agil. “Mau apa? Jangan dekat-dekat dengan istriku.”
Agil dorong satu kali hentakan tubuh Dewa termundur. “Beritahu istrimu untuk menutup mulutnya itu!” ucap Dewa.
“Kenapa? Kamu tidak terima? Yang aku omongin benar kan? Apa kalian berbuat zina? Hingga dia hamil?” sahut Beby, dengan pedasnya. Membuat mereka semakin menjadi bahan gunjingan orang-orang.
“Ish, awas kamu ya. Sudah, ayo pergi dari sini!” Amanda menggandeng Dewa keluar dari klinik itu dengan rasa malu yang besar.
Agil pun mengajak Beby untuk duduk di salah satu kursi tunggu. Dia terus memandangi wajah sang istri yang berbinar.
“Dasar cewek licik! Apa kamu senang sudah membuat mereka malu?” ucap Agil tersenyum mengusap kepala sang istri.
“Hahaha, tentu saja. Aku sangat membenci mereka berdua!”
Agil mendekat di telinga Beby.
“Lucu sekali, apa kamu tidak sadar ... bahwa kita juga melakukan hal yang sama seperti mereka?” bisik Agil ditelinga Beby.
“Ishh, tentu saja beda!” Beby menyikut pelan perut Agil.
“Apa yang membuat itu berbeda?” Agil menatap lekat wajah Beby. Istrinya itu terlihat sedang memikirkan sesuatu.
“Yah, pokoknya berbeda!” decak Beby kesal.
“Oh, iya ... sayang, kok kamu tidak kaget melihat mereka berdua disini?”
“Aku sudah tahu jika Amanda hamil.”
“Kok kamu gak kasih tahu aku?”
“Untuk apa? Lagian itu gak penting, mereka sudah dapat karma karena telah menyakitimu, Moe. Aku sungguh puas, melihat kehancuran mereka satu persatu,” ucap Agil.
Tanpa sadar tangan nya mengepal dengan erat. Mengingat betapa bejat nya kelakuan Dewa, Amanda, dan Melanie. Yang tidak bisa dimaafkan begitu saja, karena sudah berani menyakiti hati wanita yang paling dia cintai.
“Tuan, Nyonya, silahkan,” ucap seorang perawat.
Agil dan Beby pun segera masuk ke dalam ruangan dokter. Dimana tempat mereka akan mengetahui perkembangan janin yang ada di dalam kandungan Beby. Agil sudah sangat tidak sabar, dia menggenggam erat tangan sang istri. Ketika memasuki ruangan tersebut. Rasa gugup menghampirinya secara tiba-tiba.
__ADS_1
TBC.
Note : Mohon pengertiannya yah, untuk slow update sementara dalam beberapa hari ini🙏🏻