
Drrt drrt drrt.
Freeya merasakan sesuatu bergetar di dalam saku celananya. Dia pun mengambil ponsel yang terus bergetar itu. Matanya menajam ketika membaca nama pemanggil yang tertera.
“Ayah?”
Entah kenapa dia menoleh dan menatap pria di sebelahnya itu. Seperti sedang meminta izin atau menunggu perintah yang keluar dari mulutnya.
“Angkat lah, ayah mu sedang menelpon mu. Kenapa malah menatapku seperti itu,” celetuk Daniel dengan wajah datarnya. Berpaling dari wajah cantik Freeya.
“Siapa yang sedang menatapmu, isshh...”
Dia menggerutu kesal dan segera menerima panggilan tersebut.
“Freeya,” ucap seorang pria bersuara berat di seberang panggilan.
Hening sejenak. Freeya menghela nafas pelan dan mengangguk. “Ada apa, Ayah? Tumben sekali kamu menelpon ku?”
“Kamu ini! Ayahnya menelpon bukannya menyambut dengan sapaan tapi malah seperti ini! Apa sang ayah tidak boleh menelpon putrinya sendiri? Kamu jangan jadi anak kurang ajar seperti kakakmu-”
“AYAH! HENTIKAN!”
Tiba-tiba Freeya membentak membuat Daniel dan Asisten Dion yang berada di dalam mobil tersentak kaget. Daniel menoleh dan memperhatikan wajah Freeya yang memerah dan tangan nya mencengkram kuat ujung jasnya.
“Jika ayah marah padaku, silahkan... aku tidak masalah. Tapi jangan ayah membawa-bawa kak Beby, dia tidak salah apapun! Ayah tidak mengenal dia dengan baik, karena selama hidupnya ayah sudah seperti orang asing, tidak ada kasih sayang dan perhatian yang ayah berikan untuknya. Dan sekarang dia sudah bahagia, jangan menyangkut pautkan dirinya lagi, dia sudah banyak menderita karena ayah.”
Dengan gemetaran Freeya mengusap air mata yang hampir terjatuh dari kelopak matanya. Meskipun dia berpaling namun Daniel masih bisa melihat kesedihannya. Dari suara nya yang bergetar dan mulai lirih.
Dia mengambil sapu tangan dari dalam saku kemeja, lalu memberikan nya di depan wajah Freeya. Wanita itu menoleh dan menatap lirih dirinya. Tapi dia memilih untuk pura-pura tidak perduli. Karena dia mulai mengerti bahwa wanita ini tidak suka jika ada seseorang yang bersimpati padanya.
__ADS_1
“Dion, putar balik mobil menuju kediaman Tuan Arsyad Endrawira!” perintah Daniel dengan wajah dingin nya.
Freeya yang masih berbicara pada ayahnya di panggilan, tidak mendengar perintah Daniel pada Asisten Dion. “Baik, Tuan.”
“Kamu ini! Sudah pintar melawan ucapan Ayah, sekarang juga kamu pulang ke rumah ayah, karena ada yang harus ayah bicarakan padamu!”
“Mau membicarakan tentang apa? Tentang Si brengsek Dion Handoko?”
“FREEYA!”
Tuan Arsyad berteriak dengan keras. Freeya semakin kesal, tangan nya menggenggam erat ponsel. Lalu tiba-tiba saja ponselnya di rampas oleh Daniel. Freeya terkejut dia menatap Daniel yang mendekatkan layar ponsel di telinganya.
“Baiklah Tuan Arsyad, sekarang juga saya akan mengantar Freeya ke rumah anda,” ucap Daniel.
“Apa yang kamu lakukan?” bisik Freeya sembari hendak mengambil kembali ponselnya. Namun mulutnya malah di tutup dengan tangan besar Daniel hingga dia tidak bisa bicara.
“Kamu? Siapa Kamu? Dimana Freeya?”
“Saya Daniel Adichandra, sampai bertemu Tuan Arsyad....”
Dia langsung mematikan ponsel milik Freeya dan menaruh nya di kursi sebelah Asisten Dion. Freeya mengerutkan keningnya, menatap penuh dengan pertanyaan.
“Apa yang kamu lakukan?”
Daniel membalas tatapan tersebut dengan tajam. Freeya tidak sanggup dan akhirnya dia memilih untuk menatap lurus ke depan.
“Memangnya kamu siapa? Mengiyakan ucapan ayahku? Siapa bilang aku mau bertemu dengannya? Jangan gila kamu! Aku tidak mau bertemu ayah,” gerutu Freeya.
“Kamu itu sungguh pengecut,” balas Daniel dengan tatapan mengejek.
__ADS_1
“Pengecut?” Freeya merasa tidak terima dengan ucapan pria di sebelahnya itu.
“Iya, pengecut! Aku tahu kamu tidak mau bertemu ayahmu, karena menghindari masalah tadi di kafe kan! Begitu saja sudah takut,” ucap Daniel kembali mengejeknya.
Freeya dibuat kesal, dia mendengus dengan wajah memerah. “Aku tidak takut, dan aku tidak menghindar!”
“Kalau begitu sekarang kita bertemu dengan ayahmu!”
“Baiklah, tidak masalah! Tapi ingat jangan bicara yang aneh-aneh!” ancam Freeya mengepalkan tangan di depan wajah Daniel.
Daniel menjentikkan jarinya dengan kuat di tangan Freeya yang mengepal depan wajahnya. Wanita itu meringis kesakitan.
“Aku tidak akan bicara yang aneh-aneh, tapi aku hanya akan bicara jujur,” ucap Daniel.
Pria itu terkekeh pelan sambil memalingkan wajahnya.
“Jujur? Apa maksudmu?” Freeya berpikir tentang kejujuran yang dimaksud Daniel, dia pun mengingat kejadian malam itu. “Hei! Awas jika kamu membicarakan kejadian malam itu di-”
Dengan cepat Daniel menyumbat mulut Freeya dengan sapu tangan tadi. “Berisik sekali! Kenapa kamu tidak diam dan duduk dengan tenang!”
Wajah Daniel memerah dia melotot dan mengisyaratkan Freeya untuk mengingat bahwa sekarang mereka sedang berada di dalam mobil, bersama dengan Asisten Dion.
Freeya yang tersadar pun langsung memucat. Dia mengangguk menatap Daniel dan mulai diam memalingkan wajahnya. Asisten Dion melirik sekilas dari kaca sepion tengah.
“Dion, fokuslah menyetir, aku akan memotong gaji mu bulan ini, jika kamu menyetir dengan tidak benar!” titah Daniel dingin.
Asisten Dion tersentak dan menelan salivanya dengan berat. “Ba-baik, Tuan.”
“Memangnya aku salah apa?” batin Asisten Dion yang tidak mengerti perubahan warna pada wajah sang Tuan.
__ADS_1
To be continued....