
Setelah dari rumah Nenek Diana. Agil dan Beby langsung pulang menuju apartemen. Hanya sehari meninggalkan Beby Rey. Luapan rindu sudah melanda diri mereka masing-masing. Selama Beby dan Agil pergi, Beby Rey dititipkan pada Baby Sitter kepercayaan mereka berdua.
“Sayang, sepertinya dompet ku ketinggalan dimobil,” ucap Beby berhenti di depan meja resepsionis.
“Kamu ini selalu saja ceroboh,” gerutu Agil.
“Tunggu disini, aku akan mengambil kan nya, ingat jangan kemana-mana.” Agil pergi mengambilkan dompet sang istri yang ketinggalan didalam mobil.
Beby merogoh tasnya mencoba mencari-cari dompetnya itu. “Sepertinya memang benar-benar tertinggal dimobil, huh aku ceroboh sekali.”
“Beby, kamu harus mati!” Seseorang berteriak begitu keras hingga suaranya menggema di lobby apartemen itu.
Sontak Beby menoleh kearah sumber teriakan. Matanya membulat melihat Melanie yang berlari sambil membawa sebuah pisau kearahnya. Ingin berteriak namun bibir kelu dan kakinya melemas dia tidak bisa lari.
“Akhh!” Jeritan yang begitu miris. Betapa sakitnya ketika pisau itu menusuk diperut. Begitu dalam hingga hampir menembus kebelakang.
“Dewa?” Satu nama yang keluar dari mulut Beby. “Aaaaaa....” Lalu ia berteriak histeris, melihat darah yang mengalir deras di lantai.
Petugas keamanan dengan cepat datang dan menangkap Melanie. Wanita gila itu terdiam dengan mata membulat tak percaya.
“Kamu, kenapa ka-kamu melindunginya?” ucap Melanie terbata-bata. Melihat pria yang pernah dia cintai itu jatuh dilantai bersimbah darah akibat ulahnya.
“Dewa?” Beby mendekat kearah Dewa yang terbaring lemas dilantai. Pria itu mengeluarkan darah dari mulutnya. Wajahnya memucat seketika. Menatap sayu kearah Beby.
“Beby,” lirihnya.
__ADS_1
beby mengangguk dengan air mata yang terus mengalir. Tangan nya bergetar meraih tangan Dewa. Saat pria itu mengulurkan tangan nya. Beby begitu syok dan ketakutan melihat banyak nya darah yang keluar dari perut Dewa.
“Maafkan aku.” Kata terakhir pria itu sebelum matanya tertutup. Beby tidak bisa berkata-kata lagi. Dia hanya bisa bergetar menatap Dewa yang terbujur kaku.
Sedangkan disisi lain. Ketika baru saja kembali ke lobby. Agil terkejut berpapasan dengan petugas keamanan yang membawa Melanie. Melihat tangan wanita itu yang penuh darah.
Agil menjadi panik dia menatap ke arah lobby yang dipenuhi dengan orang-orang. Dadanya terasa sesak, memikirkan hal buruk apa yang sudah terjadi.
“Moe? Tidak-tidak, itu tidak mungkin. MOE!”
Agil berlari menerobos orang-orang yang bergerombol itu. Langkah nya seketika terhenti melihat Beby yang terduduk lemas di depan seorang pria yang terbaring dilantai dengan bersimbah darah. Bahkan pisau masih menancap di perut pria itu.
“Moe, kamu tidak apa-apa? Tenanglah, ada aku disini.” Agil menghampiri sang istri dan langsung memeluknya.
“Agil, De-Dewa. A-aku-”
Masih terngiang jelas kata-kata terakhir Dewa sebelum dia tidak sadar. Pria itu menghalau pisau yang seharusnya menusuk dirinya. Tapi kenapa? Kenapa Dewa menolong dirinya disaat seperti ini? Dia sangat membenci Dewa. Pria itu sudah menyakitinya terlalu banyak. Tapi kata maaf yang terucap di mulutnya terakhir kali, terdengar begitu tulus.
“Korban sudah meninggal dunia,” ucap seorang perawat ambulan yang baru saja datang. Dia mengecek nafi Dewa di tangan dan lehernya namun hasilnya nihil.
Beby semakin menangis. Tidak percaya jika Dewa memilih mati demi dirinya. Kenapa jadi seperti ini, seharusnya sampai akhir dia harus terus membenci Dewa. Tapi jika seperti ini apakah dia masih bisa membenci pria yang sudah menyelamatkan nya itu? Meskipun sudah terlalu banyak air mata yang keluar juga karena nya?
Begitu pun juga dengan Agil. Betapa mirisnya melihat keadaan Dewa. Dia harus meninggal karena menyelamatkan Beby. Dalam hati Agil begitu menyayangkan jika Dewa sampai meninggal. Tapi mau bagaimana lagi, Agil tidak munafik dia juga bersyukur istrinya sudah diselamatkan. Jika tidak ada Dewa mungkin Beby yang akan terkena tusukan itu.
***
__ADS_1
Beberapa waktu sebelumnya. Dewa yang baru saja turun dari mobilnya yang terparkir di seberang gedung apartemen Agil. Berniat ingin menemui Agil dan Beby untuk terakhir kalinya. Karena dia akan pergi menetap di Amerika. Karena disini dia tidak bisa melupakan Amanda, sudah terlalu banyak kenangan mereka.
Dewa menyebrang jalan. Namun ketika berada di depan lobby. Matanya tertuju pada seorang wanita yang terlihat mencurigakan. Dia mengendap-endap sambil membawa sebuah pisau dari balik jaket yang dia kenakan.
“Melanie? Dia sudah bebas?” Dewa mengejar wanita itu yang masuk ke dalam lobby apartemen tersebut.
“Beby! Kamu harus mati!” teriak Melanie.
Sontak membuat Dewa terkejut dan mengedarkan pandangan nya. Dilihatnya Beby yang berdiri mematung saat Melanie berlari membawa pisau ke arah nya.
“Tidak-tidak-tidak, Beby awas!” Tanpa sadar Dewa berteriak dan langsung berlari sekencang mungkin.
“Akkh,” ringis nya ketika pisau tajam itu menusuk perutnya. Seketika semburan darah keluar dari mulutnya. Matanya membulat bertemu dengan mata Melanie yang sama-sama terkejut.
Wanita itu langsung melepaskan tangan nya dia termundur. Dewa kehilangan keseimbangan nya. Dia terjatuh ke lantai.
“Sakit sekali,” lirihnya pelan. Menatap langit-langit yang berkunang-kunang.
Cahaya terang berwarna-warni tiba-tiba muncul. Bersamaan dengan wajah seseorang yang dia rindukan selama ini. Yaitu wajah Amanda.
“Amanda... Kamu kemana saja sayang? Kenapa baru sekarang kamu datang? Tahu kah kamu betapa aku merindukan mu? Kamu mau kemana? Jangan pergi lagi? Bawa aku bersama mu, sayang.”
Seketika bayangan itu lenyap Dewa menatap kearah sebelah kanan nya. Terlihat seorang wanita nampak pucat dengan tubuh yang bergetar hebat karena ketakutan. Dewa tersenyum walaupun merasa kesakitan. Dia menjulurkan tangan nya pada wanita itu.
“Beby,” panggil nya lirih. “Maafkan aku.”
__ADS_1
TBC.