
Suasana nampak begitu canggung. Setelah hampir delapan tahun lamanya, Bagas dan Prayoga akhirnya bertemu kembali. Rasanya seperti sedang duduk bersama dengan orang asing.
“Apa kabar mu, Bagas?”
“Aku baik, bukan kah ayah sudah mendengarnya dari orang suruhan ayah ... yang mengikuti ku setiap hari.” Bagas masih enggan untuk menatap wajah sang ayah.
Sedangkan Prayoga, hanya bisa terdiam dengan perkataan Bagas barusan. Karena memang benar, dia selalu mempekerjakan seseorang untuk memantau aktivitas Bagas setiap harinya. Selama kurang lebih delapan tahun belakangan.
“Bagaimana kabar ibumu?” tanya Prayoga mencoba untuk mencairkan suasana.
“Ibu baik-baik saja, dia bahagia bersama dua anak kembarnya.”
“Ohh...”
Prayoga menelan salivanya dan ingin berkata namun sangat susah. “Kamu ... apakah masih marah pada ayah?”
“Marah?” Bagas menatap sang ayah dengan alis yang mengkerut.
“Ohh... ayolah, Bagas ayah mohon kembali. Ayah sangat membutuhkan mu, untuk mengurus perusahaan kita. Kamu tau sendiri ayah sudah tua, dan mungkin saja umur ayah tidak lama lagi-” Kata-kata Prayoga terhenti.
__ADS_1
“Cukup! Bukan kah kita sudah pernah membahas ini sebelumnya,” potong Bagas dengan cepat.
“Kamu salah paham, Bagas. Ayah bukan nya ingin membuang anak itu atau tidak mau bertanggung jawab padanya. Asal kamu tahu, sampai sekarang pun ayah tidak pernah bertemu dengan ibunya lagi,” tutur Prayoga dengan raut wajah sendu. Berharap sang anak bisa luluh.
“Itu karena kamu memang tidak mau bertanggung jawab,” ucap Bagas ketus dengan tatapan dingin.
“Kamu salah paham, semenjak ayah dan ibumu pisah. Ayah selalu ingin kembali dengan Linda, tapi dia sudah terlanjur menghilang. Dia sudah punya suami dan juga anak,” ucap Prayoga menjelaskan.
“Aku tidak pernah menyalahkan mu tentang poligami ini, tapi paling tidak kamu memikirkan nasib anak itu ... apa kamu tidak memiliki perasaan sedih? Mungkin sekarang ini dia sudah berusia dua puluh tiga tahun, tapi sampai sekarang dia tidak tahu yang mana ayah kandungnya,”ucap Bagas dengan emosional.
“Aku masih ingat dengan jelas, enam belas tahun yang lalu. Saat aku berusia sepuluh tahun, kamu dan ibu bercerai. Dan aku juga tahu cerita bahwa saat umurku tiga tahun, wanita itu yang kamu nikahi secara sirih melahirkan seorang anak, ibu tidak marah dan dia menerima dengan ikhlas kehidupan poligami tersebut.”
“Karena itu aku juga mencoba untuk menerimanya, tapi kenapa kamu malah membuang mereka jauh dari kehidupan kita? Kamu sangat tega, bagaimana bisa darah daging mu sendiri kamu telantarkan.”
Prayoga menikahi Adinda ibunya Bagas karena terpaksa, sebuah perjodohan antara perusahaan. Pernikahan berjalan selama empat tahun, saat usia Bagas menginjak tiga tahun. Terkuak lah kebenaran, bahwa Prayoga mempunyai istri sirih bernama Linda dan melahirkan seorang anak saat Bagas berusia tiga tahun.
Adinda sang ibu, menerima dengan ikhlas poligami tersebut. Tapi entah kenapa lima tahun kemudian, Linda meninggalkan Prayoga. Meskipun berat, tapi dia malah menerima lamaran dari seorang pengusaha muda yang tinggal di kota J.
Linda sendiri, sudah menganggap Bagas seperti anaknya. Beberapa kali dia sering membawa Bagas bertemu dengan anak nya yang masih bayi. Kala itu Bagas sangat senang bisa memiliki seorang adik, tapi entah dia tahu kenapa Linda malah menghilang. Membawa adik yang dia sayangi.
__ADS_1
Sang ayah Prayoga sudah berusaha keras mencari namun tidak menemukan keberadaan Linda dan anaknya. Sampai Prayoga juga bercerai dengan Adinda ibunya Bagas. Prayoga tetap tidak bisa menemukan Linda sampai sekarang. Itulah yang membuat Bagas marah, sangat-sangat marah kepadanya.
Sudah melepaskan Adinda sang ibu, tapi sang ayah juga tidak bisa mengembalikan Linda dan adik yang dia sayangi.
Drrt drrt drrt.
Bagas merasakan ponselnya bergetar. Segera ia mengecek pesan yang masuk di ponselnya. “Nina, astaga aku sampai melupakan nya.”
...“Apa semua baik-baik saja?” isi pesan dari Nina....
Seketika Bagas langsung beranjak dari duduk nya. Mengusap air mata disudut mata dan merapikan kembali jas yang ia pakai.
“Mau kemana? Tetaplah disini lebih lama, ayah sangat merindukan mu,” ucap Prayoga penuh harap.
“Maaf, aku tidak bisa ... ada seseorang yang menunggu,” sahut Bagas.
Dia pun segera pergi. Akan tetapi langkahnya terhenti, Bagas kembali menoleh ke arah Prayoga.
“Bawa kembali mereka berdua, jika tidak aku tidak mau kembali pulang,” ucap Bagas.
__ADS_1
Prayoga mengangguk dengan penuh haru. Putra nya sudah sangat dewasa, pikirnya. Untuk menerima istri kedua dari ayahnya sendiri. Itu bukan lah hal yang mudah, tapi tidak dengan Bagas. Dia malah membuka tangan dengan lebar untuk madu dari ibunya sendiri. Bahkan mau menerima anaknya sebagai adiknya sendiri. Sungguh pria yang sangat luar biasa, bukan hanya wajahnya yang tampan dan menawan. Tapi dia juga memiliki hati yang baik dan tulus.
TBC.