
Pagi pun dengan cepat berganti siang. Linda meminta Freeya membujuk Beby untuk keluar dari kamar, karena tamu mereka akan segera datang. Freeya duduk di tepi tempat tidur dimana Beby tengah berguling menutup wajah dengan bantal.
“Kak, Freeya tau kakak gak tidur kan. Ayo, bersiap kata bunda sebentar lagi ada tamu yang datang,” ucap Freeya membujuk kakaknya yang sedang tidak enak hati itu.
“Pergilah, kakak tidak mau keluar!”
“Ayolah kak, cuman sekedar menyapa saja. Jika kakak tidak mau dengan pria itu, kakak bisa menolak nya secara langsung.”
Seketika Beby langsung menyingkirkan bantal yang menutupi wajahnya. “Kamu serius? Apa tidak apa-apa seperti itu?”
“Hahaha, tentu saja. Jadi ayo bangun dan bersiap-siap, aku akan membantu kakak.”
Akhirnya Freeya pun berhasil membujuk Beby untuk keluar dari kamar. Tapi sebelum nya Beby kembali masuk ke kamar mandi, untuk memuntahkan isi perutnya. Mual-mual kembali ia rasakan, seperti biasa Freeya akan membantu kakaknya itu dengan mengusap-usap punggungnya.
Wajah Beby nampak pucat, meskipun sudah dia rias dengan sedikit makeup. Matanya yang bengkak dan kantung mata yang menghitam. Membuatnya seperti orang yang sakit.
Dari dalam kamar terdengar suara bel rumah Nenek yang berbunyi. Seperti nya tamu yang di bicarakan sudah datang.
“Ayo kak,” ucap Freeya. Ia menggandeng sang kakak keluar dari kamar menuju ruang tamu. Di sana sudah ada Nenek, Kakek, dan Linda sang Bunda. Sedangkan Aydan adik laki-laki nya, tidak ada karena sedang bersekolah.
Beby berdiri di sebelah sofa tempat Linda dan neneknya duduk. Sedangkan Freeya masih tetap berdiri di sebelah sang kakak, ia takut Beby akan jatuh pingsan karena wajahnya yang pucat.
__ADS_1
“Freeya, buka pintunya sayang,” ucap Nenek lembut kepada Freeya.
“Iya, Nenek.” Freeya pun berjalan ke arah pintu dan membuka pintu dengan senyuman. Menyambut seseorang yang berada di balik pintu.
“Silahkan masuk,” sambut Freeya dengan ramah.
Tap tap tap.
Suara langkah kaki wanita memasuki ruang tamu rumah Nenek. Beby sedikit penasaran, ia pun memiringkan sedikit kepalanya karena pandangan nya tertutup oleh Freeya.
Mata Beby terbelalak tidak percaya. Ternyata tamu yang dimaksud adalah Nenek Diana. Dengan anggun nya Nenek Diana berjalan ke arah nenek nya. Beby terus menatap Nenek Diana tanpa berkata. Dia melirik Linda yang tersenyum menyambut Nenek Diana seperti Kakek dan juga Nenek nya.
Beby tersadar dari lamunannya, dia menelan saliva sebelum menyalimi tangan Nenek Diana. “A-apa kabar Nek?” ucapnya terbata.
Nenek Diana tersenyum dan langsung memeluk Beby dengan erat. “Sangat baik sayang, bagaimana kabarmu?”
“A-aku juga baik.” Masih terbata-bata, Beby merasa keheranan. Wajah jutek Nenek Diana kini berubah hangat kepadanya. Seperti mimpi yang bahkan tidak mungkin terjadi.
“Beby, jadi nenek dan Nyonya Diana akan menjodohkan mu dengan cucunya,” ucap Nenek nya lagi.
Tentu saja membuat Beby tidak bisa berkata-kata. Air mata lolos begitu saja. Ia memegangi mulutnya agar tidak terisak. Linda yang duduk di sofa di sebelahnya. Meraih tangan Beby dan menggenggam nya erat. “Selamat, sayang.”
__ADS_1
“Selamat ya kak,” ucap Freeya memeluk erat dirinya.
“Tapi ... aku-”
Tiba-tiba saja pintu kembali diketuk. Masuklah seorang pria dengan memakai setelan casual, kemeja hitam yang digulung selengan dan celana kain hitam serta sepatu kets. Wajahnya yang segar bersinar saat memasuki pintu rumah Neneknya.
Beby terus menatap Agil yang tersenyum kepada Nenek, Kakek, dan bundanya. Lalu pandangan Agil beralih menatap wanita yang sangat dirindukan nya selama seminggu ini.
“Enggak, ini salah! Aku tidak mau menikah dengan nya,” ucap Beby dengan suara bergetar. Ia pun berlari masuk ke dalam kamar nya.
Semua orang nampak begitu terkejut. Begitu pun dengan Agil yang sedari tadi melihat emosi yang bercampur aduk dari wajah sang kekasih.
“Biarkan aku saja yang bicara dengan nya,” ucap Agil kepada Freeya. Ketika gadis itu hendak mengejar sang kakak. Freeya pun mengangguk dan membiarkan Agil menyusul Beby ke kamarnya.
“Biarkan mereka menyelesaikan masalah mereka sendiri,” ucap Nenek Diana.
Nenek nya Beby pun membenarkan ucapan Nenek Diana. Mereka pun kembali membicarakan mengenai pernikahan Agil dan Beby. Sebenarnya, dari dulu Nenek nya Beby dan Nenek Diana sudah merencanakan mengenai pernikahan cucu cucu mereka. Jika sudah besar akan dijodohkan.
Tapi mereka tidak pernah menyangka bahwa Agil dan Beby sudah mengenal satu sama lain. Sebelum perjodohan ini dilangsungkan. Bahkan Agil yang kini sangat mencintai Beby. Mereka pun beranggapan jika ini memang sudah takdir. Beby dan Agil di pertemukan atas kehendak yang di atas.
TBC.
__ADS_1