Selling My Virginity (Menjual Keperawanan Ku)

Selling My Virginity (Menjual Keperawanan Ku)
Selling My Virginity Ch 82.


__ADS_3

Dengan menggunakan taksi, Beby langsung bergegas menuju kediaman Nenek Diana. Setelah baru saja turun dari Jet Pribadi milik Daniel. Ia meninggalkan Nina kepada Daniel, meminta pria itu untuk mengantarkan nya pulang.


Tak menunggu lama sekitar dua puluh menit ia telah sampai di depan rumah besar nan mewah tersebut. Ia langsung masuk ke dalam pekarangan rumah itu. Terlihat mobil Bagas yang terparkir. Ia yakin bahwa Agil sudah sedari tadi berada disana.


Dengan penuh keyakinan, ia melangkah kan kaki menaiki satu persatu anak tangga menuju pintu utama. Namun, langkahnya terhenti ketika mendengar suara tamparan dan makian Nenek Diana yang begitu menggelegar. Hingga terdengar sampai ke telinga nya.


“Agil,” lirih nya seraya berjalan dengan kaki gemetar masuk ke dalam rumah tersebut.


Ia berdiri di ujung lorong, ketika melihat Agil yang tengah dimarahi oleh Nenek Diana. Hati kecil nya seperti diremas-remas, harga dirinya dipertanyakan disana. Ia memegangi dadanya yang sesak, mendengar semua ucapan merendahkan dari Nenek Diana untuk nya. Tapi ia tetap mencoba tegar dan tabah.


“Aku tidak boleh lemah ... jika Agil kuat menghadapinya, aku juga harus kuat.” Mencoba meyakinkan dirinya sendiri.


Ia melihat Agil yang sudah berhasil membalikkan keadaan. Membuat Amanda bertekuk lutut seperti mengemis di depan semua orang. Terlebih ketika kebenaran tentang Amanda dan Dewa, membuat dirinya sangat terkejut.


“Kau memang sangat brengsek, Dewa.” Mengepalkan tangan dengan kuat.


“Moe?” ucap Agil seraya berjalan mendekatinya.


Ia menatap pria tampan itu dengan mata yang berkaca-kaca. Dengan penuh ketulusan, pria itu sudah mengakui semua yang sudah dia lakukan. Meskipun membuat dirinya sendiri rendah di mata Nenek Diana, ia tidak perduli. Dan tetap membela wanita yang sangat dia cintai.


“Maafkan aku,” lirih nya seraya menghambur ke dalam pelukan Agil.


Pria itu sangat terkejut. Agil langsung membalas pelukan nya. Mengelus lembut punggung Beby dengan penuh kasih sayang. “Kenapa minta maaf, Moe?”


“Aku sudah membuat mu dimarahi oleh, Nenek Diana.” Ia menangis tersedu-sedu.


“Hahaha, apa kau melihatnya? Itu sangat memalukan, ayo kita keluar,” ucap Agil tertawa pelan dan menggandeng Beby keluar dari rumah tersebut.


Di dalam mobil. Agil mengusap air mata Beby dan mengelus wajahnya. “Jangan menangis, Moe.”


“Kenapa kamu pergi begitu saja tanpa memberitahuku?”


“Maaf, Moe. Aku hanya tidak mau kamu cemas.”


“Bagaimana aku bisa tidak cemas? Kamu itu selalu saja melakukan suatu hal tanpa memberitahuku.”


“Maafkan aku ... berhenti menangis. Kamu boleh marah dan mengomeli ku, tapi berhenti menangis.”

__ADS_1


Agil kembali memeluk kekasihnya itu dengan begitu erat. Tapi Beby malah melepaskan diri dari pelukan sang kekasih. Wajahnya di tekuk, dengan sisa air mata yang masih menggenang diwajahnya.


“Sangat menggemaskan,” ucap Agil mencubit pelan pipi Beby. “Apa kamu sengaja menyusul ku?”


Beby menganggukkan kepalanya. “Apakah Daniel yang membawamu?”


Ia kembali mengangguk. “Ooh... sepertinya aku harus berterima kasih padanya,” ucap Agil.


“Katakan padaku ... bagaimana dengan Nenek Diana?”


Agil mengelus pucuk kepalanya. “Kamu tidak usah cemas, mungkin sekarang Nenek masih harus berpikir banyak. Tapi, percayalah suami mu ini tidak akan diam saja, jika ada seseorang yang merisakmu,” ucap Agil.


Ia mengerinyit kan dahi dan menatap lekat wajah Agil. “Apa kamu bilang? Suami? Siapa?”


“Hahaha, tentu saja. Aku sudah tidak sabar untuk menikahi mu, Moe Sayang.” Agil mengecup lembut keningnya. Membuat nya tersenyum dengan pipi yang merah.


“Apa kamu yakin?”


“Moe, cukup! Bukan kah kita sudah membicarakan masalah ini waktu itu ... aku tidak mau mendengar nya lagi, bahwa kamu merasa tidak pantas.”


Beby hanya bisa diam dan mengangguk kan kepalanya. Karena ia tidak mau membuat Agil semakin kesal. Pria itu jika sudah bicara dengan tegas dan penuh penekanan. Itu berarti dia sedang kesal dan marah.


“Maafkan aku, Sayang,” ucap Beby tersenyum.


Agil menatap lekat wajah Beby dan seketika rasa kesal nya hilang. Ia mengangguk dan membalas senyuman Beby. Menarik wanita itu ke dalam pelukan nya. Sambil mengelus punggung tangan Beby, Agil juga mengecupnya dengan mesra.


“Aku sangat mencintaimu, Moe,” ucap Agil sungguh-sungguh.


Beby mendongak menatap wajah Agil. “Aku juga mencintaimu, Agil.”


Sedangkan disisi lain. Senyuman mengembang diwajah Bagas. Melihat pemandangan tersebut dari kaca sepion tengah. Tidak pernah sebelumnya dia melihat Agil yang bersungguh-sungguh terhadap wanita. Tapi kali ini Agil bahkan seperti rela memberikan seluruh hidupnya untuk Beby. Bagas benar-benar tidak percaya, ini seperti mimpi baginya.


“Baiklah ... jika ini adalah pilihan mu, berarti itu yang terbaik. Semoga kalian berdua akan di persatu kan dengan mudah, aku pasti akan membantu sebisa mungkin. Entah kenapa, aku merasa Beby memang wanita yang terbaik untuk mu, Agil,” batin Bagas.


***


Dua minggu telah berlalu.

__ADS_1


Tante Laras tidak sengaja bertemu dengan Melanie di butik langganan nya. Melanie yang melihat Tante Laras langsung girang, dan menghampirinya.


“Tante Laras,” sapa Melanie.


Tante Laras yang mendengar suara Melanie. Sangat enggan untuk menoleh, karena malas sekali pikirnya. Ia pun memilih tidak menjawab dan tidak menghiraukan nya.


“Tante, apa kabar?” sapa Melanie kembali. Ia merasa sedikit bingung karena Tante Laras yang tidak tahu menahu terhadapnya.


“Tante.” Sekali lagi, kini Melanie menyentuh tangan Tante Laras.


Melanie sangat terkejut dengan reaksi Tante Laras ketika tangan nya disentuh. “Hei! Apa-apaan kamu ini,” ucapnya kasar seraya mengeluarkan tisu basah dari dalam tas, lalu mengusap bagian tangan nya yang tersentuh oleh Melanie.


Sontak, tentu saja membuat Melanie terpaku keheranan. “Tante? Kenapa Tante begitu?”


“Tante Tante ... memang nya kamu siapa, memanggilku Tante? Panggil aku dengan sopan, Nyonya Ganendra.”


“Tapi kan-”


Tante Laras mengangkat tangan nya di depan wajah Melanie, mengisyaratkan nya untuk diam. “Lain kali jika kita bertemu, jangan bersikap seperti kita saling mengenal! Aku tidak sudi mengenal wanita murahan seperti mu,” ucap Tante Laras seraya melangkah pergi.


Dada Melanie terasa membara mendengar kata murahan dari mulut Tante Laras. Dia bingung, apa salahnya hingga Tante Laras bersikap seperti itu padanya.


“Tante.”


Tante Laras melotot. “Maksudku Nyonya Ganendra. Anda tidak berhak mengatai saya murahan,” sambung Melanie.


“Cih, dasar tidak tahu malu. Sudah terbukti bahwa kamu itu murahan, jadi berhenti bersikap sok polos!” cibir Tante Laras, seraya memperlihatkan layar ponselnya kepada Melanie.


Seketika mata Melanie terbelalak. “Si-siapa yang sudah mengirim itu?” Ia terbata-bata gugup.


“Heh ... sekarang baru bisa diam, setelah kedoknya terbongkar. Gak nyangka yah, kamu itu ternyata simpanan om-om,” ucap Tante Laras terkekeh dengan senyuman merendahkan.


Melanie tidak bisa berkata-kata lagi. Dengan langkah lebar penuh dengan rasa malu, ia berlari meninggalkan Tante Laras. Sedangkan Tante Laras tersenyum miring, mencibir kepergian Melanie yang tergesa-gesa penuh rasa malu.


TBC.


Note : Slow update hingga tanggal 3 Juli, diusahakan update setiap hari meskipun satu episode. Karena lagi banyak kerjaan. Mohon pengertian nya🙏🏻🙏🏻.

__ADS_1


__ADS_2