Selling My Virginity (Menjual Keperawanan Ku)

Selling My Virginity (Menjual Keperawanan Ku)
Selling My Virginity Ch 12.


__ADS_3

Setelah beberapa menit. Dewa pun kembali kedalam mobil. Ada yang salah dengan wajahnya. Aku merasa tidak enak. Sama seperti biasanya jika dia hendak meninggalkanku untuk pergi berlatih. Benar saja.


"Sayang, maafkan aku. Sepertinya ada latihan mendadak, pelatih bilang aku harus hadir. Jadi maafkan aku, aku tidak bisa mengantarmu kembali ke kampus. Maaf yah," ucapnya seraya mencium keningku.


Aku sudah menebaknya jadi aku tidak lagi terkejut. Aku hanya mengangguk dengan senyuman terpaksa dan keluar dari mobil.


"Bye, jangan lupa telpon aku jika sudah sampai di kampus."


Dewa melambaikan tangannya padaku, kemudian menancap gas pergi. Belum sempat aku mengatakan satu katapun.


Sudahlah, aku sudah terbiasa seperti ini. Meskipun tentu saja aku sangat terluka dengan sikapnya yang seperti itu. Namun aku masih sanggup untuk bertahan dan berharap suatu hari nanti dia akan berubah.


Tiba-tiba saja petir menyambar dengan diiringi suara guntur yang begitu nyaring. Aku tersentak kaget sontak menatap kearah langit.


Langit cerah telah hilang, kini sangat mendung pekat. Seperti akan turun hujan badai. Terlintas begitu saja dibenak ku sosok Dewa. Tega sekali dia meninggalkanku meskipun dia tahu jika akan turun hujan.


Sebenarnya dia itu sayang tidak padaku? Mengapa dia selalu membuatku terluka dengan sikap acuhnya seperti ini. Aku merasa disia-siakan dan tidak dihargai.


Dadaku terasa sesak dan kelopak mataku kembali panas. Air mataku menetes seiring turunnya rintikan hujan membasahi tubuhku.


Aku meringsut duduk dipinggiran trotoar sambil menangis tersedu-sedu. Aku meratapi hidupku yang sudah hancur ini. Kenapa aku diberi jalan hidup yang seperti ini.


Dadaku semakin sesak. Dinginnya air hujan yang begitu deras, terasa menusuk-nusuk kulitku. Aku menggigil kedinginan, kepalaku terasa begitu pusing. Samar-samar aku melihat sebuah mobil berhenti tepat di hadapanku.

__ADS_1


Seorang pria keluar dari dalam mobil itu dan berlari menghampiriku. Tangannya meraih tubuhku kedalam dekapannya.


"Kamu tidak apa-apa? Ayo masuk kedalam mobilku, kamu bisa terkena demam berada ditengah hujan." ucap pria itu.


Suaranya serak dan berat. Tiba-tiba saja aku langsung teringat pada pria tampan yang meniduri ku malam itu. Jantungku berdetak sangat kencang. Ia membawaku masuk kedalam mobilnya. Mobil sport berwarna hitam yang hanya memiliki dua bangku.


"Kamu," ucapku menatap tak percaya pria yang berada di hadapanku sekarang.


Tebakan ku benar, dia adalah pria tampan itu. Aku langsung panik dan gelagapan. Segera aku membuka pintu mobil dan hendak keluar.


"Kamu mau kemana? Diluar hujan," ucapnya.


Ia mendekat padaku dan langsung menutupkan kembali pintu mobil yang sempat terbuka. Pandangan kami saling bertemu. Entah kenapa dadaku semakin berdebar-debar. Bola matanya yang berwarna coklat sedang menatapku. Membuatku terpaku diam tak bisa bergerak.


Sepertinya dia menyadari jika aku sedang tidak nyaman berada dekat dengannya. "Tidak apa-apa," jawabku gugup.


"Aku tidak sengaja melewati jalanan ini, dan melihatmu berada ditengah hujan." jelasnya.


"Terus kenapa kamu turun dari mobil hujan-hujanan hanya untuk menemui ku." tanya ku canggung.


"Entahlah, itu terjadi begitu saja."


"Kita tidak saling mengenal, jadi untuk apa kamu membantuku."

__ADS_1


"Cih, dasar cewek keras kepala."


Aku mendengar dia berdecih meskipun pelan. "Apa kamu bilang? Keras kepala?"


"Tidak, aku tidak mengatakan apapun." Dia mengelak, padahal jelas-jelas aku mendengarnya mengataiku.


"Kenalin namaku Agil," ucapnya seraya menyodorkan tangan padaku.


Aku mengerinyit menatap uluran tangan itu. Tangannya putih dan berurat, menandakan seorang pria bekerja keras.


"Ada apa?" tanya nya kembali.


"Bukankah aku sudah pernah bilang, jika kita tidak perlu saling mengenal." jawabku dengan wajah yang terasa panas dan memerah. Mengingat kejadian dikamar hotel malam itu.


"Hahaha." Dia tertawa membuatku menatap kearah nya.


"Kita sudah beberapa kali bertemu, dan sekarang tidaklah disengaja. Itu berarti ini adalah takdir, apa salahnya jika kita saling berkenalan? Ayolah, jangan keras kepala. Aku hanya ingin tahu namamu?"


"Beberapa kali? Kita baru bertemu dua kali, malam itu dan sekarang. Jangan berkata jika dua kali itu sama dengan beberapa kali."


"Hahaha, terserahlah."


Dia kembali tertawa. Aku merasa aneh dengan ucapannya yang barusan. Apa maksudnya itu, beberapa kali? Apa sebelumnya aku pernah bertemu dengannya, tidak mungkin. Pria ini benar-benar aneh.

__ADS_1


__ADS_2