Selling My Virginity (Menjual Keperawanan Ku)

Selling My Virginity (Menjual Keperawanan Ku)
Selling My Virginity Ch 96.


__ADS_3

Seminggu sebelum nya. Saat mendapat kabar bahwa Agil akan menikah dengan Beby dalam waktu seminggu lagi. Amanda pulang dari Boutique miliknya yang ia bangun saat menikahi ayahnya Agil. Dia bersyukur bahwa Nenek Diana masih berbaik hati tidak mengambil Boutique itu darinya. Setidaknya dia masih bisa menyambung hidup dengan mengelola Boutique tersebut.


“Sial,” pekiknya sambil berpegangan pada dinding lift. Saat kepala nya terasa berdenyut secara tiba-tiba.


“Kenapa akhir-akhir ini kepala ku sakit banget.”


Ia mengambil sebuah obat dari dalam tas dan menelannya. Lalu mencoba menegakkan kembali tubuhnya yang sempat terhuyung.


Ting.


Pintu lift terbuka. Segera ia keluar dan menuju mobil nya yang terparkir di tempat parkiran. Di dalam mobil Amanda menundukkan wajahnya di setir kemudi. Menunggu hingga kepala nya berhenti berdenyut. Dan benar saja setelah minum obat tadi tidak lama kepalanya mulai berhenti berdenyut.


“Aku rasa Agil benar-benar sangat membenciku, dia bahkan tidak menanyakan kabar dariku! Ini semua gara-gara Beby, jika malam itu dia tidak membuatku marah. Mungkin aku tidak akan mabuk dan tidur dengan pria itu! Sial sial sial!” Amanda berteriak sambil memukul-mukul setir kemudi nya.

__ADS_1


Tiba-tiba saja. Sebuah sepeda motor dalam sekejap mata melintas di depan mobil Amanda. Membuat Amanda sangat terkejut, dia langsung membanting setir ke arah kiri. Mobil Amanda tergelincir dan menabrak pembatas jalan.


Kepala Amanda berdarah terbentur setir kemudi. Samar-samar pandangan nya melihat orang-orang yang ramai mengerubungi mobilnya. Tapi Amanda sudah tidak kuat lagi pandangan nya menggelap dan dia tidak ingat apa-apa lagi.


Saat terbangun dia sudah melihat tirai hijau dan bau alcohol dimana-mana. Amanda berusaha duduk sambil memegangi kepalanya yang sakit.


“Tangan ku-”


Ia terkejut melihat infusan yang terpasang ditangan nya. Matanya berkeliling, barulah dia sadar bahwa dia ada dirumah sakit. Tidak lama berselang seorang pria dengan jas putih dan kaca mata menghampirinya.


“Hah? I-iya saya Amanda,” jawab Amanda sedikit kikuk. Dia lupa bahwa dia belum mengganti tanda pengenalnya dan masih menggunakan marga Ganendra.


“Apa anda masih merasa nyeri atau sakit di bagian yang lain?”

__ADS_1


“Tidak, saya sudah merasa baikan.”


“Baguslah, kalau begitu Nona Amanda. Ini dia resep obat yang mesti Nona tebus ... untuk kebaikan Nona Amanda dan juga bayinya,” tutur sang Dokter. Yang benar-benar membuat anda sangat terkejut.


“Apa? Bayi? Bayi siapa?”


Dokter itu tersenyum dan sedikit menampakan wajah heran. “Tentu saja bayi yang Nona Amanda kandung.”


“Gak mungkin, pasti anda salah! Saya tidak mungkin hamil,” teriak Amanda histeris sambil mengacak jas yang Dokter kenakan.


“Nona Amanda, tetap tenang. Anda tidak boleh seperti ini, pikirkan dengan bayi yang ada di dalam kandungan anda.” Dokter mencoba membuat Amanda tenang.


Amanda terus berteriak histeris. “Pergi, jangan ganggu aku... pergi dari sini,” usir Amanda.

__ADS_1


“Baiklah saya akan meninggalkan anda, tapi cobalah untuk tenang, Nona,,” ucap Dokter seraya berlalu pergi meninggalkan nya.


Amanda pun mulai menangis. Dia meringkuk memeluk perutnya. Menangisi nasibnya yang kurang beruntung. Hidupnya sudah benar-benar hancur. Tidak akan ada lagi kesempatan untuk nya kembali pada Agil. Malah sekarang dia tengah mengandung anak dari orang lain, ingin rasanya Amanda menusuk perutnya itu dengan sebuah pisau. Namun dia tidak setega itu untuk membunuh sesuatu yang tidak bersalah di dalam perutnya itu.


__ADS_2