Selling My Virginity (Menjual Keperawanan Ku)

Selling My Virginity (Menjual Keperawanan Ku)
Selling My Virginity Ch 54.


__ADS_3

Dewa mendengus kesal dan mengusap wajahnya yang terkena air liur Beby. Tanpa sadar tangan nya melayang menampar wajah cantik Beby.


"Kamu!" Beby menatap tajam Dewa sambil memegangi pipinya yang terasa panas.


Dewa terkejut, dia tidak sadar membuat tanda merah di pipi kiri Beby. "Beby, maafkan aku! Ini semua juga karena mu, jika kamu tidak meludahi ku. Ini tidak akan terjadi," tutur Dewa.


"Dasar brengsek! Aku sangat membencimu, Dewa. Sangat-sangat membencimu, manusia bajingan sepertimu, tidak pantas untuk mendapatkan cinta dariku! Pergi sana ..." Beby mengusir Dewa.


"Aku--" Dewa tidak bisa melanjutkan kata-katanya karena dalam sekejap mata, dirinya tersungkur dengan begitu keras ke tanah.


Bugh!


"Dasar bajingan!" umpat Agil. Tangan nya mengepal kuat meninju rahang kanan Dewa. "Berani-beraninya kamu menyentuh Beby ku!"


Dewa kembali mendekati Dewa, di cengkram nya kuat kerah baju Dewa. Kemudian melayangkan beberapa pukulan dan tendangan nya pada Dewa.

__ADS_1


"Brengsek!" Agil tidak memberi Dewa kesempatan untuk membalas atau pun menangkis pukulan nya. Dia begitu geram karena wanitanya di ganggu.


"Agil ... berhenti, sudah jangan lanjutkan," histeris Beby sambil mencoba menarik Agil.


"Lepaskan, By! Orang ini harus di beri pelajaran, jika tidak dia akan terus mengganggumu!" kata Agil, dengan matanya yang merah karena amarahnya yang membara.


"Tapi gak kaya gini, Agil. Ku mohon hentikan..."


Agil tidak mendengarkan ucapan Beby. Dia tetap menyerang Dewa habis-habisan. Membuat laki-laki bajingan itu, babak belur hingga berdarah di bagian pelipis dan hidungnya.


"Agil ... berhenti sayang! Hiks hiks, aku mohon berhenti!" teriak Beby.


Agil pun membalikan badan nya. Di tatap nya lekat Beby yang menangis tersedu-sedu, dengan memar di pipi kirinya. Agil tidak tega melihat Beby yang menangis.


"By, jangan menangis." Agil mengusap air mata Beby menggunakan punggung tangan nya.

__ADS_1


"Hiks hiks, aku takut melihatmu seperti itu. Sudah ku bilang berhenti, tapi kamu tidak mau mendengarkan nya. Bagaimana jika dia mati, kamu akan masuk penjara. Hiks hiks, aku tidak mau itu terjadi," tutur Beby dengan terisak-isak.


Agil langsung mendekap Beby kedalam pelukan nya. Dia mengusap-usap kepala Beby untuk menenangkan nya. "Ok, aku minta maaf sayang. Aku janji tidak akan seperti itu lagi, tapi kamu berhenti menangis yah."


Beby melingkarkan tangan nya semakin erat memeluk Agil. Dia menenggelamkan wajah nya dan menangis di dada Agil. "Hiks hiks."


"Maafkan aku," kata Agil lalu mengecup pucuk kepala Beby dengan penuh kasih sayang. Agil pun mengajak Beby pergi dari tempat itu. Membawanya menuju mobilnya yang terparkir di depan gedung utama. Diikuti oleh Nina di belakang mereka yang hanya bisa menatap Beby dengan perasaan sedih.


Karena tadi dia sempat melihat perlakuan Dewa yang kurang pantas kepada Beby. Nina tidak bisa berbuat apa-apa, akhirnya dia memilih pergi. Dia mencari Agil, dan memberitahu kan semua tentang perlakuan Dewa terhadap Beby. Agil yang mendengarnya, langsung pergi menuju tempat yang diberitahukan oleh Nina.


Agil membawa Beby ke Mansion miliknya yang di pinggir pantai. Di dalam mobil Agil tidak berhenti menggenggam tangan Beby dan sesekali dia juga mengecup punggung tangan Beby.


"Malam ini menginap lah," kata Agil menatap Beby.


Beby mengangguk. "Tapi bagaimana dengan Nina?" Beralih menatap Nina yang duduk di kursi belakang.

__ADS_1


"Nina, bagaimana menurutmu? Kamu bisa ikut dengan kami," sahut Agil yang juga menatap Nina dari kaca sepion tengah.


TBC.


__ADS_2