Selling My Virginity (Menjual Keperawanan Ku)

Selling My Virginity (Menjual Keperawanan Ku)
Selling My Virginity Ch 62.


__ADS_3

Keesokan paginya.


Agil, Beby, Nina, dan Bagas sarapan bersama di ruang makan. Suasana begitu canggung diantara Bagas dan Nina. Tapi tidak dengan Agil dan Beby, yang masih penuh dengan keromantisan. Saling suap-menyuapi, bahkan melempar canda tawa dan gombalan-gombalan.


“Apa kamu mau aku membantu Tuan Arsyad?” ucap Agil seraya menyendok makanan ke dalam mulutnya.


Beby menelan makan nya dengan susah, mengingat sosok Arsyad yang ternyata bukan ayah kandungnya. “Aku bisa saja membuatnya dibebaskan dari segala tuduhan palsu itu,” ucap Agil kembali.


Sontak Beby langsung menghentikan makannya. Dia menatap Agil dengan dahi mengkerut. “Kamu bilang apa? Ayah ku tidak bersalah?”


Agil hanya mengangguk tanpa menatap wajah Beby. Karena kesedihan itu sangat nampak di wajah kekasihnya itu. Agil tidak sanggup melihat kesedihan tersebut.


Sedangkan Bagas dan Nina saling bertatapan, dan kembali berpaling. Merasa suasana pagi itu menjadi sedikit haru. Nina tidak tahu harus bagaimana untuk mencairkan suasana.


“Biarkan saja dia,” ucap Beby dingin seraya kembali menyantap makanan nya. Walupun rasanya sudah tidak berselera namun dipaksakan nya.

__ADS_1


Agil menatap lekat Beby yang menahan tangisan. “Kau yakin, sayang?” Diusapnya pucuk kepala kekasih nya itu dengan lembut.


“Aku-” Suaranya tercekat, seakan sangat susah untuk di keluarkan nya. Dadanya begitu sesak, jika sudah membicarakan mengenai sang ayah.


Mata Beby memandang Agil dengan sendu, air matanya sudah memenuhi kelopak matanya. Dengan sekali kedipan akhirnya air mata itu tumpah. Agil langsung menarik Beby kedalam dekapan nya. Beby menenggelamkan wajahnya di dada Agil untuk meredam tangisan nya. Di depan Bagas dan Nina, dia sebenarnya malu untuk menangis. Terlebih dengan masalah keluarganya, kenyataan bahwa dia memiliki keluarga yang berantakan.


“By, jangan menangis. Kamu tidak sendirian, ada kita disini yang akan selalu ada untuk mu,” kata Nina seraya meraih tangan Beby dan menggenggam nya erat.


Beby melepaskan diri dari Agil dan menatap lekat mata Nina. Dia melihat ketulusan di dalam nya. Beby mengangguk dan tersenyum. “Makasih, Nin.”


“Sama-sama, By. Bukan kah kita teman ... teman itu akan selalu ada dan mendukung temannya jika berada dalam keterpurukan,” tutur Nina membalas senyuman Beby.


“Gas, tolong kamu antar kan Nina pulang,” titah Agil.


“Sekalian antar Beby juga kan,” sahut Bagas yang merapikan jas kerjanya.

__ADS_1


Agil menggeleng. “Aku akan membawa Beby bertemu dengan Nenek,” bisik nya di telinga Bagas.


“Baiklah, culun ayo naik,” ajak Bagas.


Nina menghela nafasnya menatap Bagas dengan cemberut. Lalu masuk ke dalam mobil Bagas. “Berhenti memanggil ku culun!” decak Nina di dalam mobil.


Bagas menoleh dan menyeringai. “Jika tidak mau di panggil culun, makanya ganti penampilan mu!” kaya Bagas.


“Sangat menyebalkan,” gerutu Nina. Seraya menarik paksa tali sabuk pengaman dengan kasar. Membuatnya tercekat dan tidak bisa ditarik.


Bagas menghela nafasnya. Lalu membantu Nina untuk memakaikan sabuk pengaman. “Sudah culun, bodoh, dan sekarang perusak!” gerutu Bagas.


“Eh, ini memang sudah seperti ini dari tadi. Aku hanya menariknya sedikit, makanya kalau sudah rusak itu diganti. Penampilan aja kaya orang kaya, sabuk pengaman rusak gak diganti. Kan bisa bahaya, ini itu penting tau,” omel Nina.


“Akhh, sudah-sudah! Kamu itu sudah kaya emak-emak aja doyan banget ngomel-ngomel,”decak Bagas seraya menutup mulut Nina dengan boneka beruang kecil yang ada dalam mobilnya.

__ADS_1


Nina mendengus kesal. “Awas kamu yah,” ancam Nina. Matanya menatap tajam Bagas yang duduk sambil mengendarai mobil dengan tertawa.


TBC.


__ADS_2