Selling My Virginity (Menjual Keperawanan Ku)

Selling My Virginity (Menjual Keperawanan Ku)
Season 2 : 33. Maafkan aku.


__ADS_3

Semuanya kini tengah duduk bersama diruang santai. Kaisar dan Ratu sibuk mengerjakan pekerjaan rumah dari guru mereka disekolah. Sedangkan Freeya dan Daniel duduk berhadapan dan saling menatap sesekali.


“Kaisar, Ratu, ada yang ingin ayah bicarakan pada kalian berdua,” ucap Daniel pada kedua anaknya.


“Ada apa, ayah?” jawab Ratu yang masih fokus dengan buku belajarnya.


“Ada apa?” Kaisar menjawab dingin seraya menatap sendu wajah Daniel.


“Ayah dan Dokter Freeya, akan segera menikah.”


“Oh,” jawab Kaisar dan Ratu singkat, lalu kembali mengerjakan tugas-tugas mereka.


Daniel mengerutkan dahinya. Dia menghela nafas dan mengusap wajahnya dengan kasar. Bagaimana bisa dia memiliki anak-anak yang begitu dingin dan tidak perduli.


Freeya tertawa geli melihat Daniel yang dicuekin oleh kedua anaknya. Saat Daniel menatap nya tajam, Freeya langsung diam dan menutup mulutnya. Tapi wajah nya masih terlihat jelas bahwa dia menahan tawanya.


“Kaisar! Ratu! Apa begini cara kalian berbicara pada orang tua?” bentak Daniel marah.


Ratu dan Kaisar terkejut dengan suara tinggi Daniel. Begitu pun juga dengan Freeya. Wanita itu langsung berdiri di hadapan Daniel.


“Apa yang kamu lakukan?” tanya Daniel seraya melemparkan tatapan tajamnya.


“Kenapa kamu memarahi mereka? Tadi kamu memarahi asisten Dion, dan sekarang anak-anak.... apa hobi mu itu marah-marah? Kalau lagi marah mending pergi saja dan lampiaskan pada angin. Agar tidak ada yang jadi lampiasan amarahmu!”

__ADS_1


“Freeya, mereka anak-anak ku! Dan aku berhak mendidik mereka dengan benar!” Daniel berdiri dan berjalan mendekati Freeya. Wanita itu tersentak dan mundur beberapa langkah.


Kaisar yang melihat pertengkaran tersebut pun langsung melerainya. “Ayah, kenapa kamu memarahi Dokter Freeya? Kami seperti ini karena sudah tahu bahwa kalian berdua akan menikah,” jelas Kaisar.


“Siapa yang memberitahu kalian?”


Kaisar menatap Freeya. Daniel pun menarik Freeya pergi.


“Apa-apaan kamu ini,” decak Freeya saat Daniel menariknya masuk ke dalam ruang kerja.


Daniel mengunci pintu. Dan memaksa Freeya untuk duduk di sofa yang ada di ruangan tersebut. Freeya meringis pelan sambil memegangi pipi nya.


“Ada apa? Maaf, apa aku menyakitimu?”


“Iya, pipiku memar habis kena tampar wanita gila tadi, dan sekarang malah tidak sengaja terkena sandaran sofa, kamu jahat sekali,” ucap Freeya dengan suara yang di buat-buat.


Daniel nampak begitu cemas dia pun membuka kotak P3K, mengambil kompres es batu. Lalu menempelkan nya di pipi Freeya yang memar.


“Maafkan aku, aku tidak bermaksud menyakitimu,” ucap Daniel.


Freeya menatap lekat mata Daniel. Dimatanya nampak sebuah ketulusan yang membuat Freeya semakin dilema dengan perasaan nya.


“Apakah mata bisa berbohong? Mengapa saat ini aku bisa melihat ketulusan di matamu? Aku sangat penasaran bagaimana dirimu dulu saat menatap kakak ku? Apakah tatapan itu sama seperti saat ini kamu sedang menatapku?”

__ADS_1


Daniel terkejut dengan perkataan Freeya. Dia menatap lekat mata Freeya yang kini sedikit berair. Daniel menggelengkan kepalanya dan berkata, “Jangan samakan dulu dan sekarang... kamu dan kakak mu berbeda.”


Deg.


Seperti sebuah pisau yang menusuk tepat di jantungnya. Freeya merasa sesak dan hatinya terasa begitu perih. Mendengar perkataan yang baru saja keluar dari mulut Daniel.


Apa? Apa maksud dari perkataannya itu? Apakah itu berarti bahwa perasaannya kepada Beby dan kepada Freeya itu berbeda? Lalu ketulusan dimatanya kini, apa artinya? Pertanyaan-pertanyaan itu ingin dia katakan tapi, mulutnya tidak sanggup untuk berkata.


Cairan bening yang membasahi matanya, Tiba-tiba menetes. Saat Daniel hendak mengusapnya, Freeya dengan cepat menepis tangan nya.


“Aku baik-baik saja, sudah sangat malam aku ngantuk. Besok aku harus kerja,” ucap Freeya seraya mengusap air matanya sendiri dan beranjak dari sofa.


Daniel meraih tangan Freeya yang hendak melangkah pergi. “Kamu mau kemana? Aku minta maaf karena sudah membohongi mu, aku akan menjelaskan semuanya.”


Freeya mengatur nafas nya dan menarik sudut bibirnya untuk tetap tersenyum. Lalu dia berbalik menatap wajah Daniel.


“Aku sudah memaafkan mu, tidak perlu menjelaskan apapun.” Freeya mengembangkan senyuman nya dan melepaskan tangan Daniel yang memegang tangannya.


“Aku sudah mengingat siapa dirimu... kamu adalah malaikat penjaga kakak ku, Daniel Adhicandra,” lanjutnya, lalu melangkah pergi meninggalkan Daniel yang mematung.


Pria itu menatap sendu kepergian Freeya. “Maafkan aku, Freeya.”


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2