
Keesokan harinya. Tepat pada jam sembilan pagi. Tempat dimana sidang perdana Tuan Arsyad Endrawira di laksanakan. Sebelum sidang dimulai. Agil dan Reyhan menemui pengacara Tuan Arsyad yang sengaja Agil bayar untuk membela Tuan Arsyad. Reyhan memberikan amplop kulit berwarna coklat itu kepada pengacara tersebut.
“Lakukan dengan kemampuan mu,” ucap Agil.
“Baik, Tuan. Saya akan berusaha melakukan yang terbaik.”
“Bagus.”
Reyhan pun mempersilahkan Agil untuk menunggu di sebuah ruangan privasi. Karena Agil tidak ingin menampakan wajahnya di depan Tuan Arsyad. Ia tidak mau jika Tuan Arsyad akan merasa tidak enak, jika tahu Agil lah yang menolong nya.
“Yes,” decak Agil senang.
Ketika palu hakim sudah diketuk dan menyatakan bahwa Tuan Arsyad di bebaskan dari segala tuduhan. Agil menutup laptop tempat dia menonton proses sidang tersebut.
“Rey, siapkan mobil. Kita kembali ke kantor,” titah Agil kepada Reyhan.
“Baik Tuan,” jawab Reyhan sigap.
Agil beranjak dari duduk nya dan segera keluar dari ruangan privasi tersebut. Dia tidak sadar jika tadi saat dia melewati ruangan sidang. Tuan Arsyad tidak sengaja melihat dirinya.
Tuan Arsyad di bebaskan dari segala tuduhan palsu mengenai korupsi yang dia lakukan. Karena bukti-bukti yang Agil berikan kepada pengacara nya, semua membuktikan ada pihak ketiga yang mengkambing hitam kan Tuan Arsyad.
Sekarang kejaksaan, tidak mengambil langkah lama. Mereka langsung menuju ke tempat pihak ketiga tersebut. Menangkap nya untuk menjadi tersangka utama.
Disebuah rumah mewah.
“Pah, jangan tangkap suami saya,” ucap seorang wanita paruh baya. Berusaha melepaskan tangan sang suami yang diborgol oleh polisi.
Setelah sebelumnya, rumah mereka di obrak-abrik oleh pihak kejaksaan, untuk menggeledah semua berkas yang tersimpan disana.
“Papah, Mamah, apa yang terjadi?”
Melanie yang baru pulang dari kampus. Sangat terkejut ketika melihat rumah nya yang ramai di kelilingi warga. Terlebih ketika melihat polisi yang menarik paksa sang ayah Tuan Lucas.
“Mel, Papah kamu ... hiks, Mamah tidak tahu harus apa sayang.“ Melanie memegangi Mamah nya yang menangis.
“Apa yang terjadi, Mah?”
“Entahlah, Mamah tidak tahu. Tapi Papah kamu sempat mengatakan bahwa ini perbuatan Tuan Ragilio ... Papah kamu jadi tersangka utama dalam kasus yang sebelum nya menjerat Tuan Arsyad,” jelas sang Mamah.
“Maksud Mamah, ayah nya Beby?”
“Iya sayang ... hiks hiks, apa yang harus kita lakukan sayang? Rumah ini akan disita oleh pihak Bank.”
“Mamah, tenang dulu ya.”
Melanie memeluk sang mamah yang hampir tidak kuat menopang tubuhnya sendiri. Wanita paruh baya itu nampak begitu syok. Dalam sekejap mata, semuanya lenyap begitu saja.
__ADS_1
Sebulan kemudian, mereka diusir dari rumah mewah tersebut. Yang mengharuskan Melanie dan Mamah nya mengontrak di permukiman kumuh. Juga yang lebih membuat pusing Melanie, sang Mamah yang mulai tidak waras.
Suatu hari Sang Mamah hampir membuat Melanie mati. Entah apa yang ada di dalam pikirannya, dia menusuk Melanie yang tengah terlelap menggunakan pisau dapur.
Karena terlalu bahaya, Melanie pun dengan berat hati. Mengirim sang Mamah ke rumah sakit jiwa. Kini dia tinggal sendiri, di kontrakan tersebut.
Keluarga nya hancur, harta sang ayah semua nya disita, dan terlebih kekasih nya Dewa kini sudah tidak ada kabarnya. Melanie merasa begitu sendiri, dia tidak lagi kuliah. Karena tidak punya uang untuk membayar biaya semester.
“Sial, ini semua karena Beby!”
Melanie meneguk habis isi botol bir di tangan nya. Kemudian melemparkan botol tersebut ke lantai hingga berserakan. Ia sudah hancur, benar-benar hancur.
Melanie tidak memperdulikan lagi, tentang tubuhnya. Dia bergaul dengan preman-preman. Untuk menyambung hidup dia membiarkan preman-preman itu terkadang menidurinya. Hanya untuk uang senilai ratusan ribu saja, Melanie rela tubuhnya disentuh oleh orang-orang itu.
Terkadang setiap malam. Dia suka menangis sendiri, meratapi nasib nya. Dia masih belum sadar bahwa yang dia rasakan saat ini adalah karma. Atas perbuatan nya kepasa Beby selama ini. Masih saja, dia menyalahkan Beby dan Agil atas kehancuran hidupnya.
Sampai suatu ketika. Dengan pengaruh minuman keras. Melanie nekat mencuri sebuah mobil diparkiran sebuah ruko yang sepi. Dia berencana untuk mengikuti Agil dan juga Beby.
Di dalam mobil Melanie sudah mengenakan setelan serba hitam. Topi dan masker yang menutupi wajahnya dengan begitu dia merasa yakin tidak ada yang mengenali dirinya.
Melanie terus menatapi Agil dan Beby yang terlihat sangat bahagia. Mereka memasuki sebuah toko perlengkapan bayi, dengan senyuman bahagia.
“Brengsek kalian berdua ... apa dengan menghancurkan kehidupan ku, membuat hidup kalian bahagia? Aku tidak akan membiarkan itu terjadi,” ucap nya kesal dengan suara bergetar.
Melanie terlihat begitu geram. Sampai-sampai tangan nya mencengkram kuat setir kemudi. Setelah melihat Beby dan Agil yang keluar dari toko tersebut dan hendak menyeberang.
Melanie dengan bersemangat nya. Ia menyeringai dan tertawa, begitu keras nya di dalam mobil. “MATI KALIAN BERDUA!”
Sedangkan disisi lain. Setelah Agil menelpon dan meminta jemput dirinya disebuah toko perlengkapan anak. Bagas pun dengan cepat menuju tempat tersebut.
Namun, ketika sudah berada di seberang toko itu. Dia melihat Agil dan Beby sang adik tengah menyebrang, ada sesuatu yang aneh.
“Kenapa mobil itu melaju kencang ke arah Agil dan Beby?”
“Tidak tidak, Beby,” teriak Bagas.
Tanpa menghiraukan keadaan jalan. Bagas dengan cepat memutar setir kemudinya dan melajukan mobilnya untuk menghalau laju mobil yang hendak menabrak Agil dan Beby.
Agil yang sempat melihat mobil Bagas melaju ke arah nya. Ikut menoleh ke arah kiri, melihat mobil yang Melanie kendarai hendak menabrak mereka berdua.
“Moe, awas!” Reflek Agil langsung memeluk erat sang istri.
BRAK.
Mobil yang Melanie kendarai, menabrak keras mobil Bagas. Sebelum mengenai Beby dan Agil. Alhasil kedua mobil itu, terseret dan terlempar sangat jauh.
“Kakak....” teriak Beby histeris. Melihat mobil Bagas yang rusak parah dengan posisi terbalik. Sedangkan mobil Melanie, masuk ke dalam sebuah jurang yang tidak terlalu dalam.
__ADS_1
“Bagas....” Agil berlari menghampiri mobil Bagas yang mengeluarkan api di bagian depan nya. Ia membantu Bagas untuk keluar dengan cepat dari mobil itu. Sebelum mobil meledak.
DUARR.
Untung saja, Agil sempat mengeluarkan Bagas. Mobil itu meledak, mengeluarkan api yang begitu besar. Beby, yang terlalu syok dan histeris karena melihat kakak nya terluka akhirnya pingsan.
***
Di rumah sakit. Beby membuka matanya, dia melihat Agil dan juga Nenek Diana berada disebelah kanan dia berbaring.
“Agil, Nenek,” lirihnya.
“Moe, kamu baik-baik saja?”
“Sayang, bagaimana perasaan mu? Apa lebih baik kan?”
Agil dan Nenek Diana, nampak begitu cemas dan khawatir dengan keadaan Beby.
“Dimana, Kak Bagas?”
Beby langsung mencari kakak nya itu. Dia tidak sabaran untuk melihat ke adaan sang kakak. Mengingat betapa mengerikan nya kejadian tadi.
Ia berusaha untuk bangun. Agil membantunya berdiri dan berjalan ke arah tirai disebelah nya. Beby menyibak tirai tersebut. Ada sang kakak yang terbaring dengan kepala yang di perban. Tapi ia baik-baik saja, malah tersenyum lebar ke arah Beby.
“Kakak.” Beby menghambur sambil menangis memeluk Bagas yang terbaring.
“Sudah jangan menangis, aku kan tidak mati.” Bagas membelai kepala Beby.
“Kamu ini ... kenapa membahayakan dirimu sendiri demi aku,” ucap Beby sambil terisak.
“Dasar bodoh, tentu saja aku akan mengorbankan diriku demi keselamatan adik ku!” Bagas menonjol jidat Beby.
“Iya tapi kan-”
Belum sempat selesai Beby bicara, Nenek Diana langsung menarik nya pergi. “Beby, sayang ayo Nenek temani kamu cari makan. Pasti bayimu merasa lapar, karena kejadian ini.”
Nenek Diana menatap Agil sambil mengangguk. Agil mengerti dengan maksud sang nenek. “Moe, pergilah makan sesuatu bersama nenek. Nanti jika Bagas sudah di perbolehkan pulang, kami akan menyusul.”
Akhirnya Beby mau dibujuk oleh Nenek Diana untuk pergi. Meninggalkan Agil dan juga Bagas berdua untuk berbicara.
“Jadi, apa kamu benar-benar yakin ... wanita di dalam mobil itu adalah Melanie?” ucap Agil.
“Aku yakin, melihat nya dengan jelas. Dia adalah Melanie,” sahut Bagas sambil mengangguk.
“Kurang ajar!” Agil mengepalkan tangan nya.
“Mobil nya jatuh ke jurang, dan saat di evakuasi ... sudah tidak ada orang di dalam nya. Berarti dia berhasil kabur! Aku sudah meremehkan nya selama ini,” sambung Agil sangat geram.
__ADS_1
“Keluarkan perintah pencarian orang tentang nya, aku tidak akan memaafkan nya. Karena sudah berani mencelakai, Beby,” ucap Bagas yang juga tidak terima.
TBC.