Selling My Virginity (Menjual Keperawanan Ku)

Selling My Virginity (Menjual Keperawanan Ku)
Selling My Virginity Ch 32.


__ADS_3

Wussshh!


Ketika dingin nya udara yang diciptakan oleh pendingin ruangan menusuk hingga kedalam pori-pori kulitnya. Beby bergidik dan mulai bergerak dalam tidur nya. Beby membuka perlahan matanya. Dengan pandangan yabg masih kabur ia beranjak dari tempat tidur. Sambil mengucek-ucek matanya sampai semua nya terlihat jelas.


"Agil, kau dimana?" panggilnya dengan mata yang berkeliling di dalam ruangan itu.


"Mungkin dia diluar," ucap nya kemudian berjalan ke arah pintu, lalu membuka nya perlahan. Sebelum keluar dia mengintip dan memastikan jika keadaan diluar baik-baik saja.


"Agil!" panggil nya lagi, sambil terus menyusuri setiap ruangan di apartemen mewah tersebut. Tak jarang dia juga sedikit berdecak kagum, melihat perabotan yang serba mewah dari desain terkenal.


Deg!


Langkah kaki Beby terhenti disebuah lorong, dia bersandar di dinding yang terasa dingin. Mendengarkan suara Agil yang sedang berbicara dengan seorang wanita.


"Agil, sedang berbicara dengan siapa?" Beby merasa sedikit penasaran dengan pembicaraan tersebut. Ia pun semakin menempelkan tubuhnya pada dinding, dan memperjelas indra pendengaran nya agar bisa menangkap setiap kata yang keluar dari mulut Agil maupun wanita tersebut.

__ADS_1


Prang!


Beby tersentak kaget, badan nya ikut terperanjat. Saat terdengar suara guci keramik yang pecah dan serpihan nya terlempar jauh berhamburan sampai ke dekat tempat dia berdiri.


Dengan tubuh bergetar, ia mencoba melangkah lebih dekat dan melihat orang yang sedang berbicara pada Agil itu. Ternyata seorang wanita paruh baya, dengan rambut yang digelung rapi menggunakan tusuk konde berwarna emas, serta pakaian yang modelnya sedikit kuno namun kelihatan harganya sangat mahal. Wanita paruh baya itu terlihat begitu marah terhadap Agil, nampak jelas tergambar di wajah nya yang merah padam.


"Silahkan Tante hancurkan semua barang disini, tapi jangan pernah mencampuri urusan pribadi Agi!" bentak Agil penuh penekanan.


"Kau ini dasar anak yang tidak bisa di atur Agil, ingat sekarang kau sudah berumur dua puluh lima tahun! Sebentar lagi ... saat kau sudah lulus kuliah, kau sudah benar-benar akan dilantik sebagai CEO baru Ganendra Corps, untuk menggantikan almarhum ayahmu!" Wanita paruh baya itu tidak mau di kalah, suara nya lebih keras dan melengking dari Agil.


"Dasar anak kurang ajar, aku akan mengadukan kelakuan mu pada Om mu, karena sudah berani membentak ku!"


Agil mendengus kesal sambil menyibak rambutnya kebelakang. "Terserah, aku tidak perduli!" katanya dengan tatapan dingin.


"Kau benar-benar yah! Bisa-bisanya kau sampai membentak ku seperti ini, apa kau tidak sadar sudah membawa sembarang perempuan kemari, ingat yah martabat keluarga kita tergantung dengan kelakuan mu Agil! Jika kau terus bermain wanita sana sini, lama-kelamaan martabat keluarga Ganendra akan hancur!"

__ADS_1


"Heh, persetan dengan martabat!" Agil terkekeh, seakan memperolok yang namanya martabat keluarganya.


Wanita paruh baya itu nampak sangat kesal dengan sikap Agil. "Kau ini benar-benar yah, sifat mu itu sama saja dengan Citra!" cibir wanita itu dengan tersenyum miring, menatap Agil sinis.


"Tante Laras!!" teriak Agil keras, menatap pias wanita itu dengan mata melotot. Tangan nya mengepal kuat, menahan amarah nya yang hampir meledak.


"Apa? Memang benar yang aku katakan," ucap wanita itu lagi lebih menantang.


Tubuh Agil bergetar hebat, tangan nya yang mengepal sudah hampir tidak bisa ditahan nya. Dia pun melangkah mendekati wanita paruh baya itu, hendak melayangkan tangan nya.


"AGIL!" teriakan Beby menghentikan gerakan tangan Agil. Beby segera berlari mendekati Agil dan menarik tangan pria itu yang sedang mengambang.


Agil menatap Beby yang juga sedang menatapnya. Beby menggelengkan kepalanya, seakan berusaha membuat Agil tidak melakukan hal yang fatal. Apalagi jika dia tadi sampai memukul wanita paruh baya, yang ia panggil dengan sebutan Tante Laras itu.


__ADS_1


__ADS_2