Selling My Virginity (Menjual Keperawanan Ku)

Selling My Virginity (Menjual Keperawanan Ku)
Selling My Virginity Ch 61.


__ADS_3

Bagas keluar dari kamarnya. Dia sudah mencoba untuk tidur, namun matanya tetap saja sulit untuk tertutup. Akhirnya dia memutuskan untuk keluar dan mencari udara segar.


Langkah kaki Bagas terhenti diambang pintu keluar yang menuju teras belakang. Dilihatnya seorang wanita yang sedang berdiri berpegangan pada pagar kaca. Menatap ke arah pantai.


“Mau apa sih culun bodoh ini disini?” ucap Bagas pelan. Sudut bibirnya tertarik, dia tersenyum tipis. Langkah kaki membawanya mendekati wanita tersebut.


“Eehmm,” dehem Bagas.


Wanita itu tersentak kaget dan langsung menoleh ke arahnya. Bagas menatap wajah Nina sekilas, lalu kembali membuang muka. Dia berdiri tepat di sebelah Nina.


“Gak bisa tidur?” tanya Bagas tanpa menatap Nina.


Nina masih menatap Bagas, sambil membalikkan tubuhnya. Ia pun menganggukkan kepala. “Kamu sendiri kenapa belum tidur?”


“Aku tidak biasa tidur malam,” ucap Bagas.


Nina mengerinyit tak mengerti. “Lalu? Apa kamu tidur nya pagi?”


Bagas menahan tawanya, dia pun menoleh menatap wanita berkaca mata itu. “Tidak juga,” katanya.


“Dasar aneh,” desis Nina sambil memalingkan wajahnya dari pria aneh di sebelahnya itu.


"Siapa bilang aku aneh ... orang ganteng gini dibilang aneh,” sahut Bagas tersenyum dengan songong nya.


“Cih, percaya diri sekali!” Nina mendelik dan menghembuskan nafasnya kasar. “Pria yang sangat aneh, kenapa aku merasa ada sesuatu di dalam matanya, ketika menatap ku?” batin Nina.


“Hahaha, dasar culun bodoh!” Bagas tergelak.


Nina semakin kesal dibuatnya. “Oh aku tahu, kamu tidak pernah tidur karena memakai obat-obatan kan!”


“Hei! Jangan sembarang bicara yah! Aku bukan tipe pria yang seperti itu!” Bagas merasa tidak terima karena sudah dituduh sembarangan oleh Nina.


“Santai aja dong! Gak usah marah-marah, makanya jangan memanggilku culun bodoh lagi!”


“Kenapa memangnya? Apa kamu sedang mengancam ku?” Bagas mendekatkan wajahnya dengan wajah Nina.


Nina menelan salivanya dan dia menjadi gugup. Jantungnya berdegup kencang, Nina langsung memalingkan wajahnya. “Menjauh dariku!” decak Nina.

__ADS_1


Nina mendorong dada Bagas menjauh. “Aku tidak bisa bernafas,” lirih nya seraya mengatur nafasnya kembali.


Bagas tersadar jika dirinya berada terlalu dekat dengan Nina. Dia pun tidak bisa berhenti berdebar atas perbuatan nya sendiri. “Maaf,” lirih Bagas.


Nina mengangguk seraya merapikan rambut dan kaca matanya. “Tidak apa-apa,” katanya.


Seketika suasana menjadi canggung. Angin laut yang berhembus membuat kulit mereka meremang. Bukan karena dingin yang dirasakan, tapi karena degup jantung mereka yang tidak karuan.


“Kamu-” ucap keduanya bersamaan.


“Kamu saja duluan,” kata Bagas tersenyum canggung.


“Kamu saja,” sahut Nina yang tidak mau menatap wajah Bagas. Mungkin sekarang wajah Nina sudah memerah seperti udang rebus.


“Baiklah.” Bagas menarik nafas dalam-dalam. “Siapa namamu kemarin?” tanya nya.


Nina mengalihkan pandangan nya menatap ke arah wajah Bagas yang juga sedang menatapnya. Dia selalu merasa ada yang familiar dengan tatapan pria itu kepadanya. Siapa sebenarnya pria asing yang ada dihadapan nya itu. Meskipun kata-katanya yang ketus tapi tatapan nya selalu terasa hangat.


“Kamu bisa memanggil ku Nina seperti yang lain nya,” jawab Nina.


Bagas mengangguk kan kepalanya. “Bolehkah aku bertanya lagi?” kata Bagas.


“Jadi ... Nina, apakah kamu pernah sekolah di Amsterdam? Maksudku tinggal disana?” tanya Bagas yang kembali menatap lekat mata Nina.


Pertanyaan yang sedari awal bertemu Nina dia pendam. Ingin bertanya namun rasanya begitu canggung. Tapi sekarang, Bagas memberanikan diri untuk bertanya. Karena rasa penasaran dalam dirinya, sudah benar-benar tidak bisa ditahan.


“Apa maksud dari pertanyaan nya? Apa dia pernah melihatku di Amsterdam waktu mengunjungi Kak Naina?” Batin Nina.


“Hei, kenapa melamun ... aku sedang bertanya! Pasti kamu begitu terpukau yah dengan ketampanan ku, hahaha.” Bagas melambaikan tangan nya di depan wajah Nina.


Nina tersentak dan tersadar dari lamunannya. “Apaan sih ... suka banget kepedean kaya gitu,” decak Nina memutar bola matanya malas.


Tanpa sadar jemari Nina mencubit perut Bagas. Membuat Bagas terlonjak kegelian dan sontak memegang tangan Nina. “Kamu berani sekali yah menyentuhku,” kata Bagas tersenyum simpul.


Nina mengerutkan dahi dan segera melepaskan tangan nya dari Bagas. “Memang nya kenapa? Kau anak raja yah, hingga tidak boleh di sentuh olehku?” gerutu Nina.


Seketika Bagas tergelak mendengar Nina mengatakan jika dirinya adalah anak raja. “Si Culun Bodoh ini, ternyata lucu juga,” batin Bagas.

__ADS_1


“Dasar aneh, kamu memang pria yang sangat aneh, kok malah tertawa,” kata Nina seraya memutar bola matanya kembali.


“Jadi apa yang ingin kamu katakan tadi padaku?”


“Tidak jadi,” ucap Nina seraya berbalik dan berjalan menuju ayunan kayu yang letak nya tidak jauh dari tempat mereka berdiri.


Bagas ikut membalikan tubuhnya dan mengikuti langkah Nina. Ia duduk di sebelah wanita itu, lalu menggerakkan ayunan dengan perlahan. Membawa tubuh mereka berayun-ayun sambil memandangi indah nya pantai dan indahnya langit malam yang cerah.


“Oh iya ... ngomong-ngomong Beby kemana? Kok dia hilang gitu aja,” kata Nina. Ia baru ingat jika tujuan nya keluar adalah untuk mencari Beby. Tapi karena mengobrol dengan Bagas dia sampai melupakan hal itu.


“Ck, tenang saja ... Beby berada ditempat yang aman.” Bagas menahan tawanya, si culun ini memang sangat bodoh.


“Dia ini katanya pintar, tapi ternyata sangat bodoh dan tidak peka. Sampai sekarang pun dia tidak sadar jika sudah mengganggu malam nya Agil dan Beby,” batin Bagas.


“Memang kamu tahu, dimana Beby sekarang?” tanya Nina.


Bagas menunjuk ke arah jendela kaca yang tertutup dengan gorden berwarna hitam emas. Nina mengerutkan dahinya. “Itu kan kamar Agil,” kata Nina.


Bagas terdiam ketika sadar jika dirinya berada sangat dekat dengan Nina. Tangan nya yang menunjuk ke arah jendela kamar Agil. Seperti sedang merangkul bahu wanita itu, terlebih rambut panjang Nina yang diterpa angin mengenai wajahnya. Jantung Bagas kembali berdegup kencang.


Seketika Nina kembali menoleh ke arah Bagas. “Apa Beby tidur ber-”


Kata-katanya terhenti. Saat wajah nya dan wajah Bagas berada dalam jarak satu jengkal saja. Mereka saling menatap lama. Sampai akhirnya Bagas tidak sadar jika tangan nya bergerak, melepaskan kaca mata yang Nina kenakan.


Nina bernafas dengan tidak karuan, dadanya berdebar-debar. Dia membiarkan Bagas melepaskan kaca matanya. Sontak Nina langsung menutup matanya, karena gugup.


Saat tangan dingin Bagas menyentuh wajahnya, Nina membuka mata. Dia melihat mata Bagas yang sedikit berair, mata itu seakan sangat familiar. Nina juga tidak bisa menahan air matanya yang menetes. Tapi segera dia usap, karena tidak mengerti apa yang membuatnya menangis.


“Matamu sangat indah,” lirih Bagas. Dia tak bisa berhenti menatap mata Nina.


“Ini bukan mataku,” ucap Nina. Seketika Bagas langsung tersadar dan melepaskan tangan nya dari wajah Nina.


“Maaf, aku tidak bermaksud untuk menyentuh wajahmu seperti itu.” Bagas gelagapan. “Tapi tadi kamu bilang bukan matamu? Maksudnya apa?”


“Bukan apa-apa, aku sudah mengantuk. Bye,” ucap Nina mengalihkan pembicaraan. Dia segera beranjak dan masuk ke dalam mansion. Meninggalkan Bagas dengan seribu pertanyaan di dalam kepalanya.


“Entah kenapa, aku semakin penasaran dengan si culun itu. Apa aku sudah gila,” gumam Bagas sambil tersenyum dan geleng-geleng kepala.

__ADS_1


TBC.


Note : Maaf baru bisa up satu episode, di karenakan author sekarang lagi dirumah sakit menjaga si kecil. Maaf yah,🙏🏻. Tapi kalau ada waktu pasti Author bakal update lagi, thank you happy reading.


__ADS_2