
Dengan langkah gontai dan pikiran yang kalut. Ia meringsut di bangku kelas paling belakang. Rasanya semakin sesak saat semua pandangan mata tertuju padanya. Beby pun menunduk kan wajahnya di meja.
"Ayah," lirihnya pelan. Tanpa sadar air matanya juga menetes, namun langsung di usapnya.
Segera ia merogoh ponsel di dalam tas nya. Kemudian menghubungi seseorang. Tangan nya bergetar menempelkan benda pipih itu ke telinga nya.
"Plis, angkat ayah..." gumam nya sambil menggigit kuku tangan karena gugup. Berkali-kali mencoba namun sang ayah tak kunjung mengangkat panggilan nya.
"Sial!" umpatnya membanting ponselnya ke atas meja. Lalu mulai teringat pada seseorang, yaitu Pak Juan sekertaris ayahnya. Beby pun langsung menghubungi nomor telpon Pak Juan, yang dia simpan di ponselnya. Dengan sekali deringan saja, Pak Juan sudah mengangkat nya.
"Halo? Beby?" ucap Pak Juan diseberang panggilan.
__ADS_1
"Halo Pak Juan? Hmm, a--aku..." Beby tak bisa berkata-kata, lidahnya terasa kelu.
"Kau pasti mau bertanya tentang ayahmu kan!" ucap Pak Juan, seakan tahu apa yang sedang Beby pikirkan.
"Ayahmu ditahan di kantor polisi daerah *****," lanjut Pak Juan.
"Apa yang terjadi? Bagaimana bisa?" tanya Beby.
"Ayahmu ditahan karena kasus suap anggota dewan, dan dia menjadi salah satu penerima suap tersebut! Beby, kau tidak perlu khawatir aku yakin ayahmu tidak bersalah," jawab Pak Juan.
"Maaf Beby, aku tidak bisa! Karir ku masih panjang, dan aku tidak mau terikut-ikut dalam kasus itu!"
__ADS_1
"Brengsek!" Beby tak bisa menahan amarah nya kepada sekertaris tidak berguna itu.
"Kau itu sungguh tidak tahu terima kasih, selama ini ayahku sudah memperkerjakan mu! Tapi kau malah tidak tahu diri seperti ini," cetus Beby.
"Hey, kau tidak tahu apa-apa, Beby! Jadi jangan berbicara seolah-olah kau mengerti, asal kau tahu sudah beberapa bulan terakhir ayahmu tidak membayar ku! Dia sudah bangkrut dan tidak memiliki apa-apa, jadi untuk apa aku bertahan padanya?"
"Brengsek, dasar tidak tahu malu! Awas saja kau yah, jika kita bertemu! Aku pasti akan me---"
Belum selesai dia berkata, panggilan sudah diputuskan. Beby mencoba menghubungi kembali nomor telpon Pak Juan. Namun tidak bisa, karena Pak Juan sudah memblokir panggilan darinya.
"Good morning everyone, all of you ready?" sapa dosen yang akan memulai kelas. Semua nya menyapa balik namun Beby tidak. Dia malah menatap kosong layar ponselnya. Bingung harus berbuat apa.
__ADS_1
Sedetik kemudian. Dia langsung berdiri dan merapikan barang-barang nya. Kemudian berlari keluar dari dalam kelas. Meskipun dosen tadi memanggil namanya, Beby tetap tidak menoleh. Pikiran nya seakan terhambur, tidak bisa berpikir jernih. Yang ada di dalam kepala nya saat ini adalah sosok Ayahnya. Dia begitu khawatir, walaupun nyatanya dia tidak dekat dengan sang ayah. Tapi tetap saja dia menyayangi pria paruh baya yang dia panggil ayah sejak dia kecil.
Di depan gerbang kampus ada taksi yang sedang parkir, Beby langsung masuk kedalam nya. Meminta sang supir untuk mengantarkan nya ke kantor polisi yang diberitahukan Pak Juan tadi padanya. Di sepanjang jalan, Beby tidak bisa berhenti mengusap jari-jarinya yang basah. Perasaan harap cemasnya tidak bisa dia kendalikan.