
Di Restauran Xx, ada seorang wanita cantik yang duduk sendiri tanpa pasangan atau teman yang menemaninya. Sebuah gelas wine bertengger diatas meja, tepat dihadapan nya.
Sesekali wanita itu menyesap minuman nya dan menggoyang-goyangkan gelas nya. Pandangan nya tidak berhenti menatap pintu masuk yang ada disana. Berharap seseorang yang dia tunggu sedari tadi datang. Namun, sudah setengah jam berlalu yang ditunggu tak kunjung datang.
“Begini lah ... jika terlalu berharap, pasti akan kecewa,” ucap Beby kembali menyesap minuman nya hingga tetesan terakhir.
Raut wajah kecewanya tidak bisa disembunyikan. Dengan pipi yang terasa panas dan memerah akibat sedikit mabuk. Beby menghela nafas nya panjang, dan beranjak dari kursi tempat dia duduk. Ia memanggil salah satu pelayan, untuk menghitung tagihan nya.
“You can use this,” ucap Beby seraya memberikan sebuah kartu kredit milik Agil kepada pelayan tersebut.
Tapi, belum sempat kartu itu di sentuh oleh sang pelayan. Daniel datang dan langsung memberikan kartunya kepada pelayan tersebut.
“Just use this,” ucap Daniel dengan tersenyum ramah kepada pelayan. Pria itu nampak menawan saat menggunakan bahasa Italia.
“Thank you sir. Please wait a minute,” jawab pelayan.
“You're welcome, no problem."
Pelayan itu pun membawa pergi kartu milik Daniel. Beby menatap Daniel dengan mengerinyit. Apakah dia salah melihat orang, atau ini memang nyata. Bahwa Daniel yang datang, bukan nya Agil.
“Hai,” sapa Daniel tersenyum seraya menarik kursi dan duduk di hadapan Beby.
“Ha-hai, kamu? Apa yang kamu lakukan disini?” tanya Beby bingung. Ia pun duduk kembali dikursi nya. “Dimana Agil?”
__ADS_1
“Maaf, tapi-” ucapan Daniel terhenti.
“Cukup! Tidak perlu kamu teruskan. Agil memang suka seenaknya memperlakukan ku,” potong Beby dengan cepat.
Dia mendengus kesal, dan menggenggam kuat tali tas yang terlilit ditubuhnya. Kecewa, marah, sedih, bercampur aduk menjadi satu.
“Aku mau pulang! Katakan padanya, jika dia tidak mau menjemput ku. Paling tidak jangan menyuruh seseorang untuk menjemput ku, maafkan aku Daniel.”
Dengan kesalnya Beby beranjak dari kursinya lalu pergi meninggalkan Daniel. Pria itu nampak sangat panik, dia belum menjelaskan tapi Beby sudah marah. Setelah pelayan datang dan mengembalikan kartunya. Daniel langsung berlari menyusul Beby yang tengah marah.
“Beby, tunggu dan dengarkan penjelasan ku,” ucap Daniel seraya meraih tangan Beby.
Langkah Beby terhenti. Dia menoleh kebelakang. “Tidak ada yang perlu dijelaskan, Daniel. Semua sudah sangat jelas. Pertama dia berada di toilet bersama Melanie, dan sekarang dia tidak mau menjemput ku,” ucap Beby.
“Apa? Di toilet bersama Melanie?” Daniel tidak percaya dengan yang dia dengar.
Beby kembali melanjutkan langkahnya. “Tidak mungkin,” gumam Daniel pelan.
“Beby, tunggu dulu.” Daniel kembali menarik tangan Beby. “Aku tidak tau apakah kamu akan percaya atau tidak, tapi aku sangat percaya ... Agil tidak mungkin melakukan hal aneh kepada Melanie. Dia sangat tahu, siapa Melanie, jadi tidak mungkin itu terjadi,” sambung Daniel.
“Tapi mereka,”-Beby menatap mata Daniel dengan lekat-“Kamu benar, Agil tidak akan mengkhianati ku.”
Daniel mengangguk kan kepalanya. “Kamu adalah wanita yang sangat dicintai oleh Agil, dia tidak mungkin mengkhianatimu.”
__ADS_1
Beby ikut mengangguk. Setelah mendengar perkataan Daniel, Beby merasa sedikit lega. Dadanya tidak sepanas tadi. Karena ia sadar, tidak mungkin Agil berkhianat.
Daniel berhasil membujuk Beby untuk ikut kembali ke Resort bersama nya. Dengan perlahan Daniel mengendarai mobilnya, karena saat itu jalanan sangat macet. Ada sebuah festival di jalanan yang mereka lewati.
“Aku tidak seharusnya marah padanya tadi ... Beby, kamu bodoh sekali.” Beby menggerutui dirinya sendiri, sambil mengacak-acak rambutnya.
Daniel tersenyum melihat tingkah Beby. Wanita itu selalu nampak memukau di matanya. Tapi sayangnya, dia sudah menjadi milik orang lain.
“Itu pasti karena kamu cemburu, melihat Melanie berada di dekatnya,” ucap Daniel.
Beby menoleh ke arah Daniel yang tengah menyetir. “Aku rasa juga begitu ... sepertinya Agil sudah benar-benar menguasai hati dan perasaan ku. Aku seperti mau meledak melihat Melanie keluar dari dalam toilet bersamanya tadi siang,” ucap Beby.
Daniel menelan salivanya. Dan menahan sesuatu yang teriris di dalam dadanya. Rasanya begitu perih mendengar wanita pujaan nya. Membicarakan pria lain yang sudah mengisi hatinya.
Daniel menarik sudut bibirnya dengan susah payah, untuk tersenyum kepada Beby. “Kamu benar, sepertinya kamu sudah terlalu cinta kepadanya.”
“Apaaan sih, jangan membuatku malu, deh.” Beby memukul bahu Daniel pelan. Ia tertawa dengan pipi yang memerah.
Daniel ikut tertawa, walaupun terpaksa. Karena hatinya bukannya senang tapi malah berduka. Kenyataan nya bahwa tidak akan ada kesempatan lagi untuk dirinya.
“Makasih ya ... hatiku lega, sudah bicara dengan mu, Daniel.” Beby menyentuh pundak Daniel dan tersenyum.
“Sama-sama, Beby. Bukan kah kita teman? Teman itu harus saling membantu dan menyemangati,” ucap Daniel membalas senyuman Beby.
__ADS_1
“Aku akan mundur demi kebahagiaan mu, Beby. Walupun sangat sulit, namun mau bagaimana lagi. Yang kamu cintai adalah dia bukan aku,” batin Daniel.
TBC.