
Keesokan harinya. Bagas sengaja mengambil cuti. Di perjalanan Bagas sibuk berkirim pesan kepada Agil. Bagas mengirimkan alamat yang mereka tuju. Yaitu tempat dimana Gio disembunyikan oleh Gerry.
Bagas menatap wanita yang duduk disebelah nya. Kemudian menatap Dian yang fokus menyetir. “Berapa lama lagi kita sampai?”
“Sekitar lima belas menit, Tuan.”
Bagas meraih tangan Nina. Wanita itu terkejut dan menoleh ke arah nya. Bagas tersenyum sambil menggenggam erat tangan Nina.
“Semua akan baik-baik saja, kau tidak perlu khawatir,” kata Bagas menenangkan Nina.
Nina mengangguk membalas senyuman Bagas. “Ada sesuatu yang ingin aku katakan padamu,” kata Bagas lagi.
Nina mengerutkan kening. “Apa yang ingin kau katakan?” tanya nya.
“Setelah kita menjemput Gio, aku akan mengatakan nya,” jawab Bagas.
Nina menatap lekat wajah Bagas. Pria itu sangat baik padanya. Hatinya semakin merasa sakit, karena saat ini dia sudah yakin. Jika dirinya sudah jatuh cinta kepada pria itu. Tapi apakah cinta nya akan terbalaskan? Itu lah yang saat ini membuat perih.
__ADS_1
Lima belas menit kemudian. Mereka telah sampai di sebuah Villa yang letak nya di tebing pesisir pantai. Villa itu nampak kosong, bahkan gerbang nya saja terlihat berkarat. Tidak ada penjaga. Dian memarkirkan mobil di pekarangan Villa tersebut. Tepat disebelah mobil putih, yang tak lain milik Gerry.
“Ayo masuk,” ajak Bagas menggenggam tangan Nina.
Nina yang terlihat menghela nafas merasa tenang ketika Bagas menggandengnya masuk ke dalam Villa tersebut. Diikuti oleh Dian di belakang mereka.
“Gio,” panggil Nina beberapa kali. Suaranya menggema di dalam Villa tersebut.
Terdengar suara anak laki-laki yang tengah bercanda ria dengan seorang pria di halaman belakang. Bagas dan Nina saling menatap dan mengangguk. Mereka pun menghampiri suara tersebut.
“Mommy, Gio lindu cekali cama Mommy.” Gio membalas pelukan Nina. Diciumi pipi tembem anak itu oleh Nina. Sesekali dia juga mengecup kening dan pipi bakpao itu. Dia sangat merindukan Gio.
“Wah, Nina ... akhirnya kau kemari juga. Aku tidak menyangka dengan kejutan mu ini,” ucap Gerry yang berdiri di belakang Gio, hanya memakai celana renang.
Nina mendongak menatap tajam Gerry. “Kejutan apa maksudmu?”
Bagas mempertajam tatapan nya kepada Gerry. Saat pria itu menatap sambil terkekeh ke arahnya. Tangan Bagas mengepal, ingin sekali dia membuat tanda tangan baru di wajah Gerry. Namun, ditahan nya karena dia tidak mau membuat Nina dan Gio merasa tidak nyaman. Jika dia berkelahi, di depan mereka berdua.
__ADS_1
“Kau datang bersama pria bodoh ini,” kata Gerry tertawa.
Bagas hendak mendekati Gerry namun ditahan oleh Dian. “Sabar, Tuan. Dia hanya ingin memancing amarah mu saja,” kata Dian.
“Brengsek, cuihh.” Bagas mengumpat pelan sambil meludah kesamping.
Nina berdiri menggendong Gio.“Bagas apa maksud nya?” tanya nya menatap Bagas.
“Aku akan menjelaskan nya dirumah ... sekarang ayo kita pergi,” ajak Bagas merangkul Nina dan hendak pergi.
“Hei, kalian mau kemana? Kembalikan anak ku,” cegah Gerry yang hendak menarik Nina. Namun dengan cepat Bagas mendorong kebelakang tubuh Gerry. Pria itu tersungkur di tanah.
“Jangan pernah menyentuh Nina dengan tangan kotor mu itu, atau aku akan mematahkan nya.” Bagas melotot dan tangan nya mengepal. Ingin melampiaskan rasa marahnya namun tetap ditahan sekuatnya.
“Aku akan menelpon polisi, melaporkan bahwa kalian menculik anak ku! Nina, kau tidak punya hak untuk membawa anak ku!” teriak Gerry tidak terima.
Gery kembali berdiri dan hendak mengejar Nina dan Gio. Namun ditahan oleh Dian. “Lepaskan tangan mu dariku,” bentak Gerry memukul Dian dengan keras.
__ADS_1