Selling My Virginity (Menjual Keperawanan Ku)

Selling My Virginity (Menjual Keperawanan Ku)
Selling My Virginity Ch 104.


__ADS_3

...Warning!! Di episode ini mungkin ada sedikit adegan panas yah, untuk yang gak suka bisa langsung di skip aja. Sebenarnya Author juga kurang bisa sih menggambarkan adegan panas, jadi tolong dibawa enjoy aja pas baca😁🙏🏻...


...🌺🌺🌺...


Malam semakin larut. Angin laut juga semakin kencang berhembus. Mengingat dengan kondisi Beby yang tengah hamil. Agil berserta keluarga sengaja mengadakan acara tersebut tidak terlalu malam sekali.


Kini Agil dan Beby sudah berada di dalam kamar hotel. Beby mendudukkan, tubuhnya yang lelah di sofa depan tv. Dia duduk sambil menyeruput segelas air putih.


“Aku mandi duluan ya, Moe.”


Beby mengangguk. Agil pun mengecup kening sang istri sebelum masuk ke dalam kamar mandi. Beby menatap kepergian suaminya yang tampan itu. Entah kenapa dadanya jadi berdebar hebat. Mengingat perkataan Agil tadi sore. Bahwa malam ini dia tidak akan di ampuni.


Seketika bulu kuduk Beby meremang saat angin menghembus masuk lewat balkon kamar. “Huh, dingin sekali.”


Ia pun berjalan perlahan menuju balkon dan menutup pintu kaca tersebut. Agar angin malam tidak masuk, kemudian dia mengatur pemanas ruangan.


Beby menatap pintu kamar mandi yang transparan. Uap air panas membuat buram, siluet sang suami yang nampak gagah ketika mandi di guyuran shower.


Beby menelan salivanya, ia semakin berdebar. Walaupun sudah dua kali melakukan nya bersama Agil namun tetap saja, dia masih gugup seperti waktu pertama kali.


“Apa yang harus aku lakukan? Apakah aku harus bersikap polos atau posesif? Akhhh, tidak-tidak ... bersikap lah seperti dirimu sendiri, Beby.” Ia mengacak-acak rambutnya karena bingung.


“Tapi, aku tidak mau Agil merasa tidak puas dengan ku ... ohh, ayolah Beby berpikir jernih,” gumam nya kembali.


Pintu kamar mandi pun tiba-tiba terbuka. Keluarlah Agil yang memakai piyama mandi. Dengan rambut basah dan wajah segar ia tersenyum begitu manis kepada Beby. Membuat Beby hampir terkena serangan jantung, karena wajah Agil yang begitu tampan.


“Mau mandi?”


“Tentu saja, aku mau mandi!”


Agil pun mendekat dan merangkul pinggang Beby dan mengecup bibirnya dengan lembut. Tangan Agil bergerak menarik resleting gaun yang Beby kenakan.


“Jangan lama-lama ya,” bisik nya nakal.


“Cih, dasar mesum!” cibir Beby tertawa geli sambil berjalan menuju kamar mandi.

__ADS_1


Agil menatap kepergian Beby yang masuk ke dalam kamar mandi. Ia pun menunggu Beby dengan merebahkan diri diatas tempat tidur. Sengaja masih memakai piyama mandinya, karena ia sudah tidak sabar untuk melakukan malam pertama mereka. Atau lebih tepatnya malam ketiga, ckck!


Tidak berselang lama, Beby pun telah selesai mandi. Ia keluar dari dalam kamar mandi hanya dengan lilitan handuk yang menutupi sebagian tubuhnya. Kaki jenjang nya yang mulus serta rambut basah nya membuat Agil sedikit tertantang. Beby pun duduk di kursi meja hias. Hendak mengeringkan rambutnya.


Agil terus menatapi betapa cantik dan menawan nya istrinya itu. Ia pun beranjak dan mendekati Beby. Lalu meraih hairdryer yang Beby pegang, kemudian menaruhnya diatas meja.


“Biarkan saja, setengah basah, sayang.”


Agil mengecup bahu Beby yang polos. Ditatapnya dalam wajah sang istri dari pantulan cermin. Kecupan itu pun naik sampai ke cuping telinga. Membuat Beby menggeliat karena merasa geli dan meremang di sekitar lehernya. Agil pun menggendong tubuh ramping Beby ala bridal style. Beby terus memandangi wajah tampan Agil yang sendu.


Tatapan mata pria itu, yang kini sudah menjadi suaminya begitu memabukkan. Tanpa Beby sadari tangan nya bergerak, menyelinap masuk ke dalam piyama mandi Agil. Meraba dada bidang sang suami yang begitu terbentuk.


Agil tersenyum dan mendekat mengecup sekilas bibir Beby yang merah. “Malam ini kamu milik ku, Moe,” ucap nya pelan sambil tersenyum.


Agil mendudukkan Beby di atas tempat tidur. Mereka saling memandang dan melempar senyuman. Agil meraih wajah Beby. Dia mengecup kening, hidung, pipi, dan turun ke bibir. Beby menutup matanya, merasakan deruan nafas Agil yang membuatnya menelan saliva. Dengan perlahan Beby membuka sedikit bibirnya. Membiarkan Agil mengabsen dan merasakan apa yang ada di dalam rongga mulutnya.


Dengan sedikit berani, Beby menggerakkan tangan nya. Turun mengusap dada bidang Agil. Perlahan mulai turun membuka tali piyama mandi yang menutupi sebagian tubuh sang suami.


Agil melepaskan ciuman nya dan menahan tangan Beby. Ia tersenyum dengan wajah yang masih berdekatan. “Kamu sudah tidak sabar yah, sayang?”


Beby masih menutup matanya, masih terbuai dengan permainan Agil. Agil menuntun tangan Beby untuk menyentuh barang terlarang milik nya. Seketika mata Beby terbuka.


“Dari awal kamu adalah satu-satunya yang memiliki ini, Moe,” ucap Agil menatap sendu Beby. Tatapan nya sayu, sudah jelas gejolak nya sudah hampir melewati batas.


“Apa maksudmu? Bukan kah-”


Agil menutup mulut Beby dan menggelengkan kepalanya. “Tidak sekarang, Moe. Masih banyak waktu untuk kita membicarakan itu.”


“Hmm, baiklah.” Beby mengangguk setuju.


Agil pun menuntun Beby untuk berbaring, dan kembali melakukan aksinya. Jari jemari Beby yang menyentuh nya, ternyata berhasil membangunkan sang predator ganas.


Bibir Agil turun ke bawah, melewati leher jenjang, dadanya , dan meninggalkan banyak jejak kissmark. Beby mulai menggeliat dan mencengkram saat Agil mulai bermain layaknya seorang bayi yang kehausan.


Sedangkan tangan Agil kini sudah berada di daerah terlarang milik Beby, mengusap nya dengan lembut. Bermain dibawah sana, dengan sentuhan jemarinya. Beby semakin menggelinjang, merasakan desiran dingin di tubuhnya. Seperti membangunkan sisi lain dari dirinya.

__ADS_1


Beby memejamkan matanya, merasakan sentuhan demi sentuhan lembut tangan Agil. Seperti membawanya terbang melayang ke udara.


“Akkhh, Agil,” lirih Beby.


Suara indah keluar dari bibir Beby. Agil memberikan rasa nikmat yang baru kali ini dia rasakan. Walaupun hanya sekedar permainan jemari saja. Beby sudah mencapai puncak nya.


“Akhh,” jerit Beby yang langsung bangun dan memeluk erat Agil. Ia mencengkram kuat bahu Agil dengan tangan yang berkeringat dingin.


Agil tersenyum, dan mengecup bahu polos Beby. Ia menyingkirkan helaian rambut yang menutupi wajah sang istri. Lalu memberikan ciuman lembut di pipinya.


“Ini belum selesai, Moe,” bisik Agil kembali.


Agil pun kembali menuntun Beby untuk berbaring. Lalu melahap habis bibirnya. Memposisikan tubuhnya sejajar dengan Beby.


“Aku akan bermain dengan lembut, agar tidak menyakiti mu dan juga My Baby,” ucap Agil dengan nafas yang sudah memburu. Beby hanya bisa mengangguk dengan wajah yang tersipu merah.


Ia mencengkram ujung seprai dengan kuat, saat Agil mulai mengguncang tubuhnya. Perlahan dan lembut, Beby tidak bisa berkata-kata. Dia hanya bisa memejamkan mata dan mendesah dengan indah.


Agil semakin berhasrat, dia mempercepat permainan nya dengan perlahan. Saat sudah hampir mencapai puncak, Agil kembali melahap bibir Beby dan memperdalam kepemilikan nya.


“Akhh,” erang keduanya bersamaan. Agil pun terjatuh diatas tubuh Beby, sebelum akhirnya pindah berbaring di sebelahnya. Karena tidak ingin menyakiti bayi yang ada di dalam perut sang istri, jika dirinya menindih lama tubuh Beby.


Agil mengusap wajah Beby dan kepalanya. Beby membuka mata dan tersenyum menatap suaminya itu yang berbaring disebelah nya. “Sudah selesai?” tanya nya.


Agil pun menaikan alis nya sebelah, tidak percaya dengan yang keluar dari mulut Beby. Ia pun bangun sedikit untuk bisa menatap keseluruhan wajah sang istri.


“Apa kamu mau lanjut?”


Beby mengangguk pelan dengan wajah malu-malu. “Malam ini, buatlah dirimu puas dengan tubuhku, sayang,” ucap Beby sembari mengusap lembut wajah tampan Agil. Yang kini basah akibat keringat yang mengucur deras, akibat permainan mereka. Tapi dia terlihat sangat tampan, dimata Beby. Ketika tatapan nya di atas tempat tidur menjadi buas, tidak seperti tatapan biasa.


“Baiklah ... sesuai dengan permintaan mu, Nyonya Ganendra.”


Agil membalikkan tubuh Beby membelakanginya. Seperti seekor kuda yang akan ditunggangi. Perlahan Agil mulai melakukan aksinya. Mengguncang tubuh sang istri dengan tempo sedikit cepat. Lagi-lagi suara indah tidak hanya keluar dari mulut Beby, tapi juga keluar dari mulutnya.


TBC.

__ADS_1


__ADS_2