Selling My Virginity (Menjual Keperawanan Ku)

Selling My Virginity (Menjual Keperawanan Ku)
Selling My Virginity Ch 115.


__ADS_3

Di dalam ruangan kerjanya. Bagas membuka jas nya yang kotor dan melemparkan nya ke atas sofa. Dasi nya yang melilit dileher juga ia buka. Dian memperhatikan gerak-gerik bos nya yang aneh.


Tok tok tok.


Seseorang mengetuk pintu. Bagas menatap ke arah pintu, tahu siapa yang datang. Dia langsung berjalan ke arah dinding kaca dan memalingkan tubuhnya. Berkacak pinggang tanda bahwa dia kesal.


Padahal tidak. Yang Bagas rasakan sekarang adalah kegugupan yang sangat-sangat. Dadanya berdebar tidak menentu, membuat dirinya bingung harus berbuat apa.


“Selamat siang Pak Dian,” sapa Nina dengan senyuman kikuk. Dia takut dimarahi karena sudah mengotori jas pemimpin baru mereka.


“Kau ini, sangat teledor. Seharusnya kau berhati-hati jika membawa minuman seperti itu,” bentak Pak Dian kepada Nina.


“Dian!” teriak Bagas tiba-tiba. Bagas tidak sadar jika dia berteriak, dia menghela nafas.


“Bodoh! Apa yang kau lakukan, Bagas. Kenapa berteriak? Dasar gila,” batin Bagas menggerutu.


Bagas bingung sendiri dengan tingkah nya. Dian yang membentak Nina, tapi dia yang emosi. Hingga tidak sadar sudah berteriak.


Dian dan Nina tersentak kaget dan menatap ke arah punggung tegap Bagas. “Ada apa Tuan? Apa saya harus memberikan surat peringatan 1 kepada Nona Nina?”


“Tidak, bukan itu maksud saya!” Bagas seketika berbalik, pandangan nya dan Nina menyatu beberapa detik. Lalu kembali ia putuskan.


“Pergilah, biarkan aku bicara berdua dengan Nona Nina,” titah Bagas kemudian.


“Baiklah, saya akan keluar Tuan.”


Dian menatap Nina sebelum akhirnya dia keluar dari ruangan kerja Bagas. Dia sebenarnya tidak tega juga sudah membentak Nina. Tapi mau bagaimana lagi, di depan bos besar dia harus tegas kepada semua karyawan.


Sepeninggal Dian. Bagas menghampiri Nina yang berdiri tegap dengan kepala yang menunduk. Nina merasakan dadanya yang berdebar-debar tidak jelas. Semakin dekat langkah Bagas, semakin cepat pula debaran di dadanya.


“Maafkan saya, Tuan.”


Bagas terkejut ketika Nina kembali menunduk lebih kebawah. Dia pun meraih kedua pundak Nina dan menegakkan tubuh nya.


“Apa yang kau lakukan disini?” tanya Bagas. Seketika raut wajah dingin yang tadinya dia pasang. Berubah menjadi hangat seperti biasa dulu dia menatap Nina.


Nina terkejut dia bingung harus menjawab apa. Menelan saliva dan memberanikan diri menatap wajah Bagas. “A-aku bekerja disini,” jawab Nina.


“Maaf karena telah mengotori jas mu,” lanjut Nina.


“Si culun ini, masih aja wajah nya jutek!” batin Bagas kesal.


“Ada apa dengan nya? Kenapa diam?” batin Nina.


Bagas tersenyum miring. “Baiklah, jika kau merasa bersalah. Kau harus membersihkan jas ku dari noda itu.”

__ADS_1


Nina menggigit bibir bawah nya. Pria di depan nya masih saja menyebalkan nya dari setahun yang lalu mereka bertemu.


“Tidak masalah, berikan saja jas itu padaku. Aku akan mencuci nya dan mengembalikan nya besok pagi,” ucap Nina seraya berjalan ke arah sofa untuk mengambil jas Bagas yang dia lempar.


Bagas menahan tangan Nina. “Aku tidak mau kau mencuci nya disembarang tempat! Itu jas mahal.”


Nina memicingkan matanya, seraya menghela nafas. “Cih, kau ini masih saja sombong dan menyebalkan,” cibir Nina.


“Hei, culun jaga ucapan mu ... ingat sekarang ini aku adalah atasan mu. Kapan pun aku mau, aku bisa memecat mu!”


“Baiklah, jadi kau mau aku seperti apa dengan jas mu yang mahal itu?”


“Setelah jam kerja selesai, ikutlah dengan ku.”


“Apa? Tidak bisa!”


Bagas mengerutkan dahinya. “Mengapa? Apa ada suami dan anakmu yang menunggu dirumah?”


“Hah? Suami? Hahaha, aku tidak punya suami. Jangan sembarang bicara.” Nina tertawa sumbang. Membuat Bagas semakin curiga.


“Dasar aneh, kenapa kau jadi gugup seperti itu? Apa ada yang sedang kau sembunyikan?” Bagas maju selangkah mendekat ke Nina.


Membuat Nina gugup dia panik, sontak melangkah mundur. Sepatu hak tinggi yang dia pakai tiba-tiba patah . Membuatnya terhuyung kebelakang.


“Aaaaaa....”


Bagas memeluk ya dengan erat. Nina bisa merasakan dada bidang Bagas yang berdebar-debar. Seketika wajah nya memerah. Hanya Bagas pria yang sering berkontak fisik dengan nya dari setahun yang lalu. Selebihnya Nina sangat enggan untuk tersentuh dengan sengaja pada semua pria.


“Aku baik-baik saja, hanya tidak bisa bernafas,” ucap Nina.


Bagas tersentak dan sadar telah memeluk Nina. Ia pun melepaskan Nina begitu saja dan hampir membuat wanita itu kembali terjatuh. Untung saja Nina bisa menyeimbangkan tubuhnya.


“Jangan salah paham, aku tadi hanya-” ucap Bagas terhenti.


“Hanya sekedar membantu maksudmu kan,” potong Nina.


“Lagi pula, jika sepatu sudah rusak jangan dipakai. Itu bisa membahayakan dirimu sendiri!” Bagas memalingkan wajah nya yang gugup.


“Kau benar ... aku terlalu sibuk dan tidak sadar jika sepatu ini sudah rusak,” ucap Nina tersenyum lirih seraya meraih sepatu itu dari kakinya.


Bagas memperhatikan Nina dia pun menghela nafas nya panjang. “Duduk lah.”


Bagas menuntun Nina untuk duduk disofa. Lalu dia berjalan ke dekat meja kerjanya. Mengambil sebuah kotak yang ada di dalam salah satu laci. Membawanya kepada Nina.


“Apa itu?” tanya Nina berusaha menolak ketika Bagas meraih kaki nya. Risih dan sedikit malu.

__ADS_1


“Sudah diam lah, dasar bawel!”


Bagas membuka kotak itu mengeluarkan sebuah sepatu kets berwarna putih. “Mungkin sedikit kebesaran, tapi paling tidak sampai pulang kerja, kau bisa memakainya dari pada tidak memakai alas kaki sekalipun?”


Nina memperhatikan terus menerus Bagas yang berjongkok di depan nya. Memakai kan dia sepatu kets putih itu. Dia sangat dingin dan menyebalkan, tapi terkadang dia juga sangat perhatian.


“Sudah,” ucap Bagas tersenyum memperhatikan kaki Nina yang sudah mengenakan sepatu kets putih itu. Saat dia menatap wajah Nina, wanita itu hanya diam memandang nya.


“Ada apa? Kenapa menatapku seperti itu?”


Nina tersentak kaget dan tersadar dari lamunan nya. “Tidak aku tidak sedang menatap mu, percaya diri sekali!”


“Hahaha, sudahlah katakan saja ... jika aku memang tampan.”


“Cih, narsis sekali.”


Nina memutar bola matanya. Kemudian beranjak dari sofa. “Aku harus kembali bekerja,” ucap nya.


“Pergilah,” usir Bagas.


“Cih, awas saja kau yah!” Nina menatap Bagas sinis dan berjalan ke arah pintu.


“Jangan lupa sepulang kerja,” ucap Bagas sebel Nina keluar dari pintu.


Nina tidak menjawab. Dia malah langsung menutup pintu ruangan Bagas ketika dia masih bicara. Bagas mendengus kesal. “Dia masih sama, hanya penampilan nya saja yang berubah ... lumayan lah, dia jauh lebih cantik jika memakai kaca mata.”


“Akhh, apa-apaan aku ini ... kenapa aku jadi memuji-muji si culun itu.”


Ia tersadar dari kebodohan nya barusan. Bagas mulai merasa aneh pada dirinya sendiri. Sepertinya dia akan betah berada di perusahaan itu.


Di luar ruangan. Nina berpapasan dengan Dian. Asisten pribadi itu menatap Nina yang memakai sepatu kets putih milik bos nya.


“Pak Dian,” sapa Nina tersenyum.


“Nona Nina, maafkan perkataan ku tadi.”


“Tidak apa-apa, Pak. Saya maklum kok, karema sebagai atasan Bapak mang seharusnya tegas,” ucap Nina membuat Dian merasa lega.


“Kalau begitu saya kembali bekerja,” lanjut Nina melangkah pergi meninggalkan Dian.


Dian menatap punggung kepergian Nina. Dia merasa aneh dengan Bagas dan Nina. “Apa mereka berdua saling kenal? Tatapan Tuan Prayoga kepada Nina sangat berbeda, seperti ada sesuatu,” batin Dian.


Nina menjatuhkan tubuhnya di kursi kerja dan menundukkan kepalanya di meja. Sambil menghela nafas panjangnya.


“Huh, aku rasa mulai hari ini dan kedepan nya ... hidup ku tidak akan tenang,” keluh Nina.

__ADS_1


TBC.


__ADS_2