Selling My Virginity (Menjual Keperawanan Ku)

Selling My Virginity (Menjual Keperawanan Ku)
Selling My Virginity Ch 131.


__ADS_3

Nina membawa Gio masuk ke dalam kamar Bagas. Di dalam kamar itu Bagas baru saja selesai membersihkan diri dan mengganti pakaian nya dengan baju santai. Melihat jam yang sudah menunjukkan hampir sepuluh malam. Sudah sangat telat waktu tidur Gio.


Bagas menatap Nina dan Gio yang masuk ke dalam kamar. Dia pun tersenyum dan menghampirinya. Bagas berjongkok dan mensejajarkan dirinya dengan Gio. Anak kecil itu begitu menggemaskan pikirnya.


“Hai, siapa namamu?” Bagas mengusap pipi lembut Gio.


Gio tersenyum memperlihatkan deretan giginya yang mungil. “Namacu Gio, om namanya ciapa?”


Bagas tersenyum dan semakin gemas mendengar cara bicara Gio yang lucu. “Anak pintar, nama om Bagas.”


Dia kembali mengusap pucuk kepala anak itu. “Om itu ciapanya Mommy? Apa om akan jadi Papah Gio?”


Deg.


Seperti ada sesuatu yang ingin meledak di dalam dada Bagas. Tatapan mata Gio juga begitu familiar, dia memiliki mata indah seperti ibunya Naina. Terlebih ketika Gio mempertanyakan siapa dirinya? Apakah dia akan menjadi Papah baru untuk Gio.


“Gio sayang, jangan bicara seperti itu yah...” Nina ikut berjongkok dan bicara lembut kepada Gio. “Mommy kan pernah ngomong, jangan bicara terlalu banyak pada orang lain. Bicara yang sopan yah sayang.”


Bagas menangkap sebuah kekecewaan di wajah Nina. Dia pun menarik Gio ke dalam pelukan nya. “Kalau Gio mau, Om bisa jadi Papah nya Gio,” ucap Bagas.

__ADS_1


Nina terkejut, matanya membulat. Dadanya berdebar sangat kencang. Terlebih saat Bagas memeluk Gio dan tersenyum ke arah nya. Ingin dia menangis namun tetap ditahan nya.


“Pergilah membersihkan diri, aku akan menemani Gio,” ucap Bagas.


Nina tidak bisa berkata-kata. Dia tidak bisa mengalihkan pandangannya dari Bagas yang menggendong Gio ke arah ranjang.


Pria itu mendudukkan Gio diatas ranjang. Membukakan sepatunya dan mengajak nya untuk berbaring. Layak nya seorang ayah kepada anak nya. Nina tak bisa menahan nya lagi, dia pun segera masuk ke dalam kamar mandi.


Ketika dia sudah selesai. Ternyata Gio sudah terlelap di dengan pelukan Bagas. Dia tertidur dengan lengan pria itu yang menjadi bantalnya. Nina tertegun dengan pemandangan tersebut.


“Kau sudah selesai?”


“Kau dan Gio tidur lah disini, aku akan tidur di sofa,” jawab Bagas seraya keluar dari dalam kamar. Nina mengikuti langkah Bagas. Dia melihat pria itu duduk disofa ruang santai sambil memainkan ponselnya. Ia pun berjalan ke arah pantry, membuatkan teh hangat dan membawanya ke pada Bagas. Nina duduk disebelah Bagas.


“Minumlah,” ucap Nina menaruh gelas berisi teh hangat diatas meja.


Bagas menatap Nina dan gelas tersebut. Lalu mengambil gelas itu dan menyeruput nya perlahan. “Apa ada yang ingin kau bicarakan?”


Nina menangkup wajah Bagas saat pria itu menoleh ke arahnya. Diusapnya wajah Bagas dengan lembut. “Kenapa kau begitu baik padaku?” Nina melepaskan tangan nya kemudian memalingkan wajahnya. Tidak ingin Bagas melihat kesedihannya.

__ADS_1


“Dari dulu sampai sekarang, kau selalu bersikap acuh dan tidak perduli, tapi aku bisa merasakan perhatian mu dibalik sikapmu itu. Kenapa? Kau selalu memberikan harapan padaku?”


“Maafkan aku, seharusnya aku tidak bersikap seperti ini ... tapi aku tidak bisa menahan nya lagi. Kau terlalu baik, dan itu membuatku semakin jatuh cinta padamu!”


Bagas terkejut matanya membulat. Bagas menatap wanita yang tengah memalingkan wajah dari nya itu. Tidak pernah dia menyangka bahwa Nina akan mengatakan hal yang selama ini ingin dia katakan. Namun begitu sulit untuk diutarakan nya.


“Maaf, aku akan segera membawa Gio pergi. Dan tidak akan merepotkan mu lagi,” lirih Nina dengan suara bergetar. Dibalik wajahnya yang paling kan, sudah berderai dengan air mata.


Nina beranjak dan hendak pergi. Namun tangan nya ditahan oleh Bagas. Pria itu menariknya untuk kembali duduk. Nina terkejut dan terhuyung. Bagas memeluknya dari belakang.


“Jangan pergi,” lirih Bagas.


Nina semakin terkejut dadanya berdebar sangat cepat. Dia hanya bisa diam dan membiarkan Bagas memeluk tubuhnya dengan erat. Seakan takut kehilangan nya.


“Tetaplah disini, maafkan aku. Aku tidak bermaksud membuatmu merasa seperti itu ... aku hanya merasa nyaman tiap kali berada di dekatmu. Dan itu membuatku tidak bisa berhenti memikirkan mu setiap saat, karena aku-”


Dada Nina semakin berdebar. Menunggu kata-kata Bagas yang belum terselesaikan. Mungkinkah perasaan nya selama ini sama dengan yang dirasakan pria itu?


“Karena aku sadar bahwa aku sudah jatuh cinta padamu, Mochi,” ucap Bagas dengan suara lirih. Dia menenggelamkan wajahnya di helaian rambut Nina. Menghirup aroma tubuh wanita itu.

__ADS_1


__ADS_2