Selling My Virginity (Menjual Keperawanan Ku)

Selling My Virginity (Menjual Keperawanan Ku)
Selling My Virginity Ch 17.


__ADS_3

Bodoh!


Satu kata yang pantas untuk diriku. Karena sudah mengabaikan perkataannya tadi. Wine itu memang sangat enak, dan aku ketagihan.


Sekarang aku merasa kepala ku begitu pening. pandangan ku juga mulai kabur. Dunia seakan meluruh, dan warna meluntur, ketika aku melihat wajah nya.


"Kenapa wajahmu, penuh dengan warna warni, hehehe!" ranyau ku tak jelas. Sambil mengibas-ngibas warna-warna itu dari wajahnya.


"Kau baik-baik saja?" tanya nya memegangi tangan ku.


Pandangan kami saling menyatu. Dia begitu perhatian, padahal kami baru saja bertemu. Bahkan belum mengenal satu sama lain. Tapi aku merasa begitu nyaman berada di dekat nya.


Aku pun mulai teringat akan sosok Dewa. Pria yang sangat aku cintai, tapi dia tega meninggalkan aku di jalan itu. Sendiri dan di guyur hujan yang begitu lebat.


"Brengsek kau, Dewa!" umpat ku tanpa sadar.


"Kau baik-baik saja? Tunggu sini, aku ambil kan kau air putih!" Dia hendak beranjak, tapi aku menahan nya.


Sambil menggeleng aku berkata, "Tetap lah disini, jangan pergi seperti dia yang meninggalkan ku, tanpa belas kasih sama sekali! Hiks hiks!"


Aku mulai menangis, dadaku terasa begitu sesak hingga aku terisak-isak. Aku merasakan tangan ku yang di genggam nya kuat.


"Aku tidak akan meninggalkan mu," ucap nya.


Samar-samar aku melihat nya tersenyum padaku. Aku semakin ingin menangis, menangisi hidupku yang sudah hancur. Wine itu membawaku kembali mengingat pahitnya kehidupan ini. Membuatku tidak sadar sudah berbicara panjang lebar kepada pria asing ini.


"Kenapa kau menangis?" tanya nya.

__ADS_1


"Entahlah, aku hanya ingin menangis! Hidupku sudah hancur, orang tuaku bercerai, aku luntang-lantung hidup tanpa bunda ku disini! Hiks hiks, terlebih kau sudah mengambil kesucian ku, hiks hiks!" Tangisan ku semakin pecah. Tak bisa aku menahan sesaknya semua itu di dadaku.


"Kau menyesalinya?" tanya nya kembali.


Aku menatap netra matanya yang menajam, lalu mengangguk. "Aku menyesal, sangat menyesal!"


Dia langsung membuang muka nya dari ku. Aku bisa melihat wajah nya yang pias. "Jika aku tahu, aku akan ditipu, dan semua uang itu dibawa lari oleh orang lain! hiks hiks!"


"Kau ditipu?" Dia terkejut dan menatap ku serius.


Aku mengangguk.


"Lalu uang tips yang aku berikan? Bukan kah kau sudah mencairkan nya?"


"Kau, bagaimana kau tahu tentang uang tips itu?" Aku mengerinyit. Karena bingung dari mana dia tahu bahwa aku sudah mencairkan uang tersebut.


Tertahan, aku tidak sanggup mengatakan nya.


"Tapi apa?" Dia nampak tidak sabar mendengar kelanjutan perkataan ku.


"Aku menghabiskan uang itu untuk Dewa, dia meminta ku membelikan nya baju latihan yang baru, dan aku menurutinya. Hiks hiks!"


"Kenapa kau tidak menolaknya, saat dia meminta mu membelikan baju latihan nya? Kau sangat bodoh!"


Dia mengusap wajahnya dengan kasar, aku bisa merasakan jika dia sangat kesal.


"Aku memang bodoh, aku tidak sanggup mengatakan yang sebenarnya, jika aku sudah tidak seperti dulu lagi, aku tidak kaya dan ayah ku bangkrut. Hiks hiks!"

__ADS_1


"Dasar bodoh, seharusnya kau bisa menolak nya!"


"IYA AKU SANGAT BODOH, aku tidak bisa menolaknya karena aku begitu mencintainya! Hiks hiks, sekarang aku bingung harus membayar uang semester bagaimana, hiks hiks! Jika aku tidak lulus, bunda akan sangat kecewa padaku, apalagi jika dia tahu, aku sudah menjual kesucian ku! Hiks hiks."


"Sudah-sudah, tidak apa-apa! Jangan menangis lagi."


Dia memeluk ku, memberikan ku rasa hangat dan nyaman. Aku menangis dalam pelukan nya, terisak-isak, mengeluarkan semua rasa sesak yang menyiksaku.


"Berhenti menangis, aku tidak suka melihat seorang wanita menangis di depan ku!"


Deg deg deg!


Dia mengusap air mataku dengan lembut. Tatapan nya sendu, seperti sedang merasakan kesedihan yang kurasakan.


"Lepaskan pria brengsek seperti dia, kau tidak sadar, jika kau sudah dimanfaatkan oleh nya!"


"Lepaskan aku!" Aku menepis tangan nya seketika. "Jangan berbicara seperti itu lagi tentang Dewa, kau tidak berhak untuk mengatai nya!"


Mataku memanas, dadaku juga berdebar, amarah ku membara. Ketika dia mengatai Dewa seperti itu. Aku tidak terima.


"Aku bahkan, tidak sudi menyebut namanya! Pria seperti dia tidak pantas mendapat kan wanita baik seperti mu!" ucapnya kembali.


Aku terdiam, dia mengatakan jika aku adalah wanita baik. Walaupun dia tahu aku sudah menjual kesucian ku demi materi. Sebenarnya apa yang diinginkan nya, aku tidak mengerti.


"Lihat aku!" pintanya.


Dia memegangi kedua pundak ku, dan mengarahkan wajahku untuk menatap wajahnya. Aku menatap dalam netra indah miliknya. Tapi aku tidak bisa merasakan apapun. Bohong! Jika aku tidak berharap sebuah ketulusan terbentuk disana, namun sayangnya aku tidak bisa melihat ketulusan itu. Entah karena bawaan diri yang mabuk dan tidak sadar, atau memang dia tidak tulus.

__ADS_1


...🌺 Hai-hai, kembali lagi kita disini! Beby sudah mulai update yah, author pastikan akan update setiap hari, terima kasih🌹🌺...


__ADS_2