Selling My Virginity (Menjual Keperawanan Ku)

Selling My Virginity (Menjual Keperawanan Ku)
Selling My Virginity Ch 65.


__ADS_3

Dua hari kemudian. Suasana di kampus begitu riuh. Para mahasiswa dan mahasiswi, berkumpul bersama di aula kampus. Bermacam-macam model tas travel yang mereka bawa. Menunggu informasi lebih lanjut dari panitia kampus. Mereka terlihat begitu antusias menyambut liburan gratis yang diberikan pihak kampus. Untuk yang pertama kalinya, kampus mereka mengadakan liburan ini. Tentu saja menarik perhatian banyak orang.


Tak terkecuali, Amanda yang juga merasa ada sesuatu yang tidak beres dari acara liburan tersebut. Dia pun secara diam-diam mengikuti Agil. Dan benar saja, Agil adalah orang yang berasa dibalik acara liburan tersebut.


“Gila ... dia menghabiskan uang segini banyaknya, hanya untuk mengadakan acara liburan kampusnya,” ucap Amanda tidak percaya.


Dia memandang keluar jendela mobil, melihat Agil yang tengah merangkul seorang wanita cantik. Dengan senyuman dan rona bahagia di wajahnya.


“Sialan ... wanita itu benar-benar sudah menghasut Agil,” ucap Amanda menatap tajam penuh kebencian kepada Beby.


“Pesankan aku tiket ke Paris sekarang juga,” titah Amanda kepada sekertaris nya yang duduk di kursi depan mobil.


“Baik, Nyonya,” jawab sang sekertaris dengan sigap. Mulai mengutak-atik tablet ditangan nya.


Sedangkan disisi lain. Agil merangkul Beby menuju mobilnya yang terparkir. “Bagaimana? Apakah kamu senang?”


Beby tersenyum dan mengangguk. “Tentu saja, sudah lama sekali aku tidak ke Paris. Tapi-”


Agil mengerutkan dahinya. “Tapi apa?”


“Kampus ini sangat aneh,” ucap Beby.


“Hahaha,”-Agil tertawa dan mengusap pucuk kepala Beby, hingga membuat rambut Beby berantakan-“kamu itu cerewet sekali.”


“Agil!” Beby memicingkan mata dan mengerucutkan bibirnya.


“Rambut ku berantakan ... kamu tahu aku sudah susah payah merapikan nya sejak pagi,” gerutu Beby sembari merapikan rambutnya.


“Baiklah, kemari,” ucap Agil.


Dia melingkarkan tangan di pinggul ramping Beby. “Aku akan membuat rambutmu lebih berantakan lagi, jika kamu terus mengomel,” bisik Agil.


“Awas saja jika kamu berani,” ucap Beby memasang wajah cemberut. Lalu mendorong tubuh Agil menjauh.


Beby segera masuk ke dalam mobil di kursi belakang. Disusul oleh Nina yang duduk dikursi depan tepat disebelah pengemudi, yang tak lain adalah Bagas.


Agil mengigit bibir bawahnya dan tersenyum. Lalu segera masuk kedalam mobil menyusul Beby. Ditatap nya wajah cantik kekasihnya itu yang cemberut. Betapa ia begitu gemas ingin mengecup bibir merah jambu itu. Tapi, tidak dilakukan oleh Agil. Dia ingin menahan nya sampai mereka tiba di Paris.


“Pakai sabuk pengaman mu,” ucap Bagas menatap Nina yang duduk di sebelahnya. Nina mengangguk dan segera memasang sabuk pengaman miliknya. Setelah itu Bagas menyalakan mesin dan mulai tancap gas menuju bandara.

__ADS_1


Sesampainya di bandara. Agil menatap keluar jendela, melihat kumpulan mahasiswa dan mahasiswi kampus, yang tengah berbaris untuk Check-in dan melakukan pemeriksaan barang bawaan.


“Gas, aku tidak mau satu pesawat dengan mereka. Tolong kamu urus,” ucap Agil seraya membuka pintu mobil, lalu keluar.


“Moe, ayo!”


Agil merangkul Beby kembali menuju cafe yang ada disekitar bandara. Sedangkan Nina dan Bagas masih sibuk mengeluarkan tas dari dalam jok mobil. Setelah mengurus sesuatu yang diperintahkan oleh Agil. Bagas kembali untuk membantu Nina.


“Terima kasih,” ucap Nina tersenyum.


“Sama-sama,” sahut Bagas membalas senyuman Nina. Tangan nya terulur untuk memperbaiki letak kaca mata Nina, yang sedikit miring.


Nina terkejut dia langsung menarik diri menjauh dari Bagas. Merasakan jantungnya yang sedikit berdebar dibuat Bagas. Pipi Nina terasa panas dan sedikit memerah.


Nina terus memperhatikan Bagas yang tengah bersandar pada pintu mobil sambil mengutak-atik tablet ditangan nya. Tanpa sadar kaki membawanya mendekat kepada Bagas.


“Jadi,”-Nina ikut bersandar disebelah Bagas, pria itu menoleh padanya-“apa kamu tidak ikut?”


Bagas memalingkan wajahnya dan tersenyum, lalu kembali memasang wajah biasa menatap Nina. “Memangnya kenapa? Apa kamu sangat menginginkan aku ada disana?”


Nina menelan salivanya ketika Bagas menatapnya dengan tatapan hangat. “Bu-bukan seperti itu, tapi-”


Nina gelagapan, ia gugup dibuat Bagas. Nina pergi dan menyibukkan diri mencari sesuatu didalam tas nya. Buang malu, karena sudah bertanya pertanyaan konyol seperti itu oleh Bagas.


Bagas geleng-geleng kepala, menatap wanita berkaca mata itu gelagapan sendiri. Ia pun berjalan menghampiri Nina. Kemudian memakaikan sebuah topi berwarna putih di kepala Nina.


“Jika pekerjaan ku disini sudah selesai, aku akan segera menyusul kesana,” ucap Bagas.


Nina terkejut saat Bagas memakaikan nya topi, sontak Nina langsung berdiri. Menatap Bagas yang pergi menyusul Agil dan Beby ke arah Cafe.


“Hei,” teriak Nina, Bagas menoleh.


“Ini topi siapa?” tanya Nina masih sedikit berteriak.


“Pakai saja dasar bawel ... yang jelas itu milik cowok ganteng,” ucap Bagas tersenyum miring.


Nina geleng-geleng kepala dan tersenyum, memegangi topi tersebut. “Ganteng dari mana coba ... nyebelin, iya.”


🌺🌺🌺

__ADS_1


Agil membawa Beby dan Nina, naik jet pribadi yang sudah Bagas atur kan. Sedangkan teman-teman yang lain nya, naik pesawat biasa yang sudah disediakan oleh pihak kampus. Penerbangan ke Paris memakan waktu sekitar enam belas jam lebih. Tapi dengan menggunakan Jet pribadi, waktunya sedikit lebih cepat.


Sesampainya di Paris, Agil, Beby, dan Nina. Di antar oleh supir pribadi Agil menuju resort yang sudah disewa untuk kampusnya. Sekitar tiga puluh menit perjalanan, mereka telah sampai.


“By,” panggil Nina pelan.


Beby dan Agil menoleh bersamaan. “Ada apa?” tanya Beby.


“Kamarnya-”


“Ada apa dengan kamarnya?” Agil memicingkan matanya.


“Tidak ... maksud ku apakah kamu dan Agil-”


“Hahaha, enggak!” potong Beby cepat sambil tertawa sumbang.


“Moe!” Agil menatap Beby dengan penuh harap.


“Maksudku, bukan nya aku melarang kalian berdua ... hanya saja, apakah aku bisa meminta kamar yang bersampingan dengan kalian?” Nina ikutan gugup karena Beby dan Agil salah paham kepadanya.


“Kenapa?” tanya Agil dingin. Nina menelan salivanya, mendapat tatapan mencekam dari Agil.


“Aku tidak nyaman jika harus satu kamar dengan dua mahasiswi lain nya ... karena mereka pasti akan bersikap tidak menyenangkan padaku,” lirih Nina.


“Baiklah, kamu tenang saja yah.” Beby meraih tangan Nina.


“Agil kamu gak masalah kan,” ucap Beby kepada Agil.


“Terserah kau saja, Moe.” Agil pun berlalu pergi.


Beby menatap Nina dengan lekat. Wanita itu terus memalingkan wajahnya, enggan untuk menatap Beby. Karena tidak ingin menampakan kesedihan nya. Mendapat perlakuan yang tidak menyenangkan dari wanita-wanita lain di kampusnya. Itu bukanlah hal yang baru untuk Nina, karena penampilan nya yang culun membuatnya tidak punya teman dan tidak disukai.


“Aku akan memesankan kamar untuk mu, tepat disebelah kamarku,” ucap Beby menggenggam tangan Nina.


Nina menoleh dan menatap Beby dengan mata yang berkaca-kaca menahan tangis. “Makasih, By. Kamu memang sangat baik, aslinya.”


“Hahaha, kamu bisa aja, Nin,” ucap Beby sambil memukul pelan bahu Nina. Kemudian merangkul wanita berkaca mata itu menyusul Agil.


TBC.

__ADS_1


__ADS_2