Selling My Virginity (Menjual Keperawanan Ku)

Selling My Virginity (Menjual Keperawanan Ku)
Selling My Virginity Ch 69.


__ADS_3

Keesokan harinya.


Beby menggeliat dalam tidurnya. Dengan mata yang masih tertutup ia meraba sisi ranjang disebelahnya. Seketika matanya langsung terbuka.


“Kemana dia pagi-pagi sekali seperti ini?” gumam nya sambil menutup mulut dan menguap.


Ketika hendak turun dari atas ranjang, tak sengaja ia melihat secarik kertas yang terletak di atas nakas. Beby meraih kertas tersebut dan membaca tulisan yang hanya beberapa kata di kertas tersebut.


...‘Good Morning, aku sudah meminta pelayan menyiapkan sarapan. Maaf, aku tidak bisa menemanimu karena ada urusan penting yang harus ku bahas bersama Bagas. Jadi sarapan lah bersama Nina, sekali lagi aku minta maaf.’...


Beby menghela nafas dan menaruh kembali kertas tersebut di atas nakas. Lalu dia berjalan menuju kamar mandi. “Ayolah Beby, kenapa harus patah semangat. Ini bukan pertama kalinya Agil meninggalkan pesan di secarik kertas.”


Beby pun membersihkan diri dan bersiap-siap mendatangi kamar Nina yang letak nya tepat disebelah kamarnya. Baru saja keluar dari pintu kamarnya, ia tidak sengaja berpapasan dengan Melanie.


Dari penampilan nya, yang berpakaian sangat rapi sambil menyeret koper. Sepertinya dia baru saja sampai, karena memang sebelumnya Melanie tidak ikut rombongan. Dia ada urusan kemarin hingga harus menyusul pagi ini.


Beby melihat wanita itu sedang memperhatikan ponselnya sambil menggerutu. Ia tidak menyadari jika dia sedang berpapasan oleh Beby.


“Kemana sih dia? Kok ditelpon gak diangkat-angkat.”


“Ehhmm,” dehem Beby, membuat langkah Melanie terhenti dan langsung menoleh ke arah sumber suara.


“Apa?” sapa Melanie ketus.


Beby membalasnya dengan senyuman miring. “Kehilangan kekasih brengsek mu itu yah?”


“Bukan urusan mu,” sahut Melanie.


“Kasian ... hati-hati loh, sekarang ini banyak PHO (Perusak Hubungan Orang). Apalagi Dewa yang watak nya tukang selingkuh,” cibir Beby. Ia semakin menyunggingkan seringaian miringnya.


“Hei, jangan sembarang bicara kamu! Dewa tidak mungkin main belakang dari ku,” tukas Melanie dengan raut wajah yabg sedikit tersulut. Karena ucapan yang barusan di katakan oleh Beby ada benarnya. Dia pun percaya jika Dewa memang brengsek, tapi dia tidak mau menampakan kepada Beby. Jika dirinya juga tidak percaya kepada Dewa.


“Mungkin saja sekarang dia sedang berada di kamar seorang wanita, tidur berselimut tebal dengan tanpa mengenakan apapun.”


Melanie semakin gusar dibuatnya. Beby semakin tersenyum puas sudah membuat wanita itu dilema akan perasaan nya. “Kamu akan menerima pembalasan dariku, Mel. Sedikit demi sedikit aku akan membuatmu hancur!” batin Beby.


Melanie pun segera pergi meninggalkan Beby, dengan bara yang seakan membakar hati dan isi kepalanya. “Dewa brengsek! Kamu dimana sih,” gerutu Melanie.


Setelah Melanie pergi dan sudah tidak terlihat lagi dari pandangan Beby. Ia pun segera menekan bel pintu kamar Nina. Tidak lama kemudian pintu terbuka. Dengan senyuman Nina menyambut Beby masuk ke dalam kamar nya. Mereka berdua pun sarapan bersama sambil membicarakan perihal semalam di club.


Sedangkan disisi lain.


Agil duduk dengan memangku kaki di sofa kamar Bagas. Sambil sesekali ia menyesap segelas minuman untuk sarapan pagi nya. Bagas yang melihat sahabat sekaligus bosnya itu, hanya bisa geleng-geleng kepala.

__ADS_1


“Sakit baru tahu rasa!” ucap Bagas seraya menyesap gelas berisikan kopi.


“Pagi ini aku sedang senang, jadi jangan merusak hariku,” ucap Agil kembali meneguk minuman nya. Wine termahal di resort itu yang dia pesan untuk merayakan sebuah kehancuran seseorang.


Agil menyandarkan tubuhnya di sofa dan menutup matanya. Membayangkan kehancuran seperti apa yang akan dia berikan kepada Amanda dan Dewa.


Bagas geleng-geleng kepala menatap Agil. “Kamu adalah orang yang paling aneh yang pernah ku temui.”


“Hahaha ... ayolah, aku sedang bahagia. Tidak perlu susah payah untuk menarik mereka kedalam kehancuran, tapi mereka sendirilah yang malah masuk sendiri kedalam lubang hitam.” Agil tertawa lepas, dan menyeringai jahat.


“Kamu benar ... Amanda memang tidak pantas untuk tetap menyandang gelar sebagai Nyonya besar Ganendra. Sangat menjijikkan,” ucap Bagas mengiyakan ucapan Agil tadi.


“Melanie Clarissa ... kamu sudah membuat Moe menangis, tunggulah giliran mu,” ucap Agil sambil menatap layar ponselnya. Dimana disitu ada gambar Melanie yang tengah bergelayut manja di lengan seorang pria paruh baya di sebuah hotel.


Bagas mengangkat gelasnya. “Cheers.”


“Cheers.” Agil ikut mengangkat gelasnya. Kemudian meminum isi gelas mereka masing-masing bersamaan.


“Kumpulkan semua bukti-buktinya, sepulang dari Paris aku sudah tidak sabar ingin menendang Amanda dari Keluarga Ganendra. Wanita jalang, menjijikan sekali,” ucap Agil.


“Kamu tenang saja, aku sudah menyiapkan nya,” sahut Bagas.


.


.


Sontak dia langsung membuka mata dengan lebar. Matanya terbelalak, mendapati ada seorang pria uang sedang tidur memeluknya.


“Siapa kamu!” teriak Amanda sambil mendorong tubuh Dewa menjauh darinya. Amanda menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.


Dewa memegangi kepalanya dan berusaha untuk membuka mata. Dia juga terkejut sama dengan Amanda. “Siapa kamu?”


Dewa bangun dan segera memeriksa bagian bawah tubuhnya yang masih tertutup oleh selimut. Dilihatnya tubuhnya yang tanpa mengenakan apapun.


“Sial ... apa yang sudah kulakukan semalam?” Dewa mencoba mengingat-ingat kejadian semalam. Dan semuanya terekam dengan jelas di kepalanya. Tapi dia mengira bahwa Melanie lah yang bersamanya, tetapi malah wanita lain.


“Apa yang sudah kita lakukan?” tanya Amanda dengan raut wajah pias dan sedikit bingung.


Dewa beranjak dari ranjang dan meraih celana yang berserakan di lantai dan memakainya. “Apalagi menurutmu? Tentu saja melakukan-”


“Berhenti! Jangan lanjutkan ucapan mu,” potong Amanda dengan cepat.


Dewa memandangi wanita cantik yang menutupi tubuhnya menggunakan selimut itu. Nampak marah dan kebingungan. “Dia cantik juga, tapi siapa dia? Aku baru kali ini melihatnya ... apa dia juga mahasiswi di kampus?” batin Dewa.

__ADS_1


“Tidak perlu bingung ... berikan aku nomor rekening mu, aku akan mengganti kerugian yang kamu dapat semalam,” ucap Dewa.


Amanda menatap pias wajah Dewa dan setengah tidak percaya. “Brengsek!”


“Kamu pikir aku ini wanita bayaran yah? Uang mu itu tidak berarti apa-apa untuk ku! Dasar bajingan,” ucap Amanda penuh amarah.


Dewa yang sedang mengenakan kembali kemeja nya, menatap tajam Amanda yang bermulut pedas. “Hei ... dasar jalang! Apa kamu tidak ingat bahwa kamu sendiri yang menarik ku masuk ke dalam kamar ini, lalu mulai menggodaku,” ucap Dewa setengah tertawa.


“Apa? Jangan asal bicara kamu!” Amanda tidak terima dengan perkataan Dewa. Dia semakin emosi kepada pria yang ada dihadapan nya itu.


“Aku tidak sembarang bicara ... tapi itu kenyataannya,” ucap Dewa telah selesai memakai kembali kemeja dan celananya.


“Tidak mungkin.” Amanda mengacak kepalanya dan mencoba mengingat kembali kejadian semalam. Bagaimana bisa dia berakhir bersama dengan seorang pria asing.


“Terserahlah ... ini kartu namaku. Jika kamu membutuhkan sesuatu katakan saja padaku,” ucap Dewa seraya mengeluarkan kartu nan dari dompet. Lalu menaruhnya di atas nakas samping tempat tidur.


“Aku pergi.”


Ia pun segera keluar dari kamar Amanda. Meninggalkan Amanda yang merasa semakin stress karena tak bisa mengingat apapun.


“Akkhh! Brengsek! Ini semua gara-gara kamu, Beby. Sampa kapanpun aku tidak akan membiarkan mu dan Agil bahagia!”


Amanda melemparkan guci emas yang ada di nakas sampingnya. Hingga pecah berserakan dilantai. Dia terus berteriak-teriak seperti orang gila.


Sedangkan disisi lain. Ketika baru saja keluar dari kamar Amanda. Dewa terkejut melihat seorang wanita yang berjalan tepat di depan nya sambil menyeret koper. Dia sangat mengenal wanita tersebut, ialah Melanie kekasihnya.


“Syukurlah, aku keluar diwaktu yang tepat. Jika tidak dia pasti akan mengamuk jika tahu aku bermalam dengan seorang wanita.”


Dewa pun segera merapikan pakaian dan rambutnya. Kemudian menghampiri Melanie. Ia merangkul kan tangannya di leher sang kekasih.


“Sayang,” sapa Dewa.


“Kamu!” Melanie melotot marah.


“Kamu sampai? Kenapa tidak menelpon ku?”


Melanie mendengus kesal dan memutar bola matanya. “Bagaiman aku bisa menghubungimu, jika nomor mu saja tidak aktif! Sebenarnya kamu kemana sih?”


Dewa menatap kearah lain, menghindari tatapan menyelidik Melanie. “Aku tadi ketiduran sayang dikamar Doni,” ucap Dewa berbohong. Karena tidak mungkin untuk jujur.


“Hmm, baiklah ayo bantu aku ke kamar,” ucap Melanie yang mengesampingkan rasa tidak percayanya. Dia tidak mau termakan dengan ucapan Beby. Dewa pasti setia padanya, karena Dewa saja melepaskan Beby demi dirinya.


“Dengan senang hati tuan putriku,” ucap Dewa tersenyum sambil meraih gagang koper. Lalu menariknya seraya menggandeng Melanie menuju kamar kekasihnya itu.

__ADS_1


TBC.


__ADS_2