Selling My Virginity (Menjual Keperawanan Ku)

Selling My Virginity (Menjual Keperawanan Ku)
Selling My Virginity Ch 92.


__ADS_3

Cklek.


Agil masuk ke dalam kamar yang tadi dimasuki oleh Beby. Sudut bibirnya tertarik menciptakan sebuah senyuman merindu. Melihat sang kekasih yang tengah menangis di tepi tempat tidur.


Dia nampak begitu kacau, menangis tersedu-sedu dengan menutupi wajahnya. Agil pun berjalan mendekati dan duduk disebelahnya.


“Moe,” panggil Agil dengan lembut.


Tangan nya menyapu kebelakang rambut panjang Beby yang terurai menutupi wajahnya. Dengan penuh kasih Agil mengelus kepala Beby dan menarik kekasihnya itu kedalam dekapan nya.


“Hiks hiks...” Beby masih terus menangis, dia pun mendorong tubuh Agil dengan kasar.


“Pergi sana! Aku tidak mau melihat wajahmu!”


“Sayang, Moe lihat aku.” Agil meraih wajah Beby dengan kedua tangan nya. Mensejajarkan wajah mereka berdua.


“Kenapa mata mu bengkak dan wajahmu sangat pucat?” Agil memperhatikan wajah sang kekasih yang nampak memprihatinkan.


Beby menarik wajah nya dan memalingkan nya dari Agil. “Moe, maafkan aku. Aku hanya ingin memberikan kejutan untukmu,” ucap Agil.

__ADS_1


“Kejutan? Kamu bilang kejutan? Aku sangat membencimu!” Beby memukul-mukul pelan dada Agil sambil terisak-isak.


“Moe, berhenti menangis. Kamu boleh memukul ku asalkan jangan menangis, sayang.”


“Aku membencimu, Agil!”


“Aku sangat mencintaimu, Moe.” Agil kembali memeluk Beby dengan erat. Tapi lagi-lagi Beby memberontak. Saat tubuhnya melemah, ia membiarkan Agil mendekapnya semakin erat. Beby kembali menangis dalam pelukan Agil.


Beby tidak bisa menahan diri untuk melingkarkan tangan nya di tubuh Agil. Akhirnya dia lakukan. Betapa dia sangat merindukan dekapan hangat itu, juga aroma khas tubuh Agil yang membuat nya candu.


“Maafkan aku, Moe.” Agil mengecup pucuk kepala Beby dengan lembut.


Tiba-tiba saja Beby yang tadinya nyaman di pelukan Agil. Merasa perutnya sakit dan akhirnya dia kembali mual. Sebelum dia muntah di keja Agil, ia pun langsung berlari masuk ke dalam kamar mandi. Agil terdiam menatap kepergian Beby yang tergesa-gesa.


“Moe.” Agil mengikuti langkah Beby.


Ia terkejut mendapati Beby yang tengah meringkuk di lantai, ia muntah sambil memegangi perutnya. Dengan sigap Agil pun ikut berjongkok dan memijit-mijit punggung nya.


“Moe, kamu kenapa? Apa kamu sakit? Ayo aku bawa ke rumah sakit?” Agil meraih wajah Beby dan menatapnya lekat.

__ADS_1


Agil menyingkirkan rambut Beby yang menutupi wajah kekasihnya itu. Keringat dingin mengucur di seluruh tubuh Beby dan wajahnya kembali memucat.


“Sayang, kamu kok lemes sih? Ayo kita kerumah sakit.” Agil sangat cas dengan keadaan Beby.


Beby pun tersenyum lemah dan menggeleng. Saat hendak bicara, lagi-lagi dia mual dan kembali muntah. Agil terus memijit-mijit punggung Beby dengan penuh perhatian. Dia pun mengambilkan air putih yang ada di atas nakas sebelah tempat tidur, lalu memberikan nya kepada Beby.


Setelah Beby sudah mulai tenang, Agil memapah Beby kembali ke dalam kamar. Mendudukkan nya di tepi tempat tidur. Agil kembali mengelus kepala Beby dan bertanya, “Moe, kamu gak apa-apa kan? Kita kerumah sakit?”


Beby menatap lekat wajah Agil. Kekasihnya yang sangat tampan itu nampak begitu cemas. Tangan Beby terulur, mengusap sedikit bercak air mata di sudut mata Agil.


“Apa kamu benar-benar mencintaiku?”


Agil mengangguk dengan mantap. “Aku sangat mencintaimu, Moe.”


“Kalau begitu bisa kah kamu merasakan nya,” ucap Beby seraya meraih tangan Agil dan meletakkan telapak tangan itu di perutnya dibalik baju yang ia pakai.


Agil mengerutkan dahi tidak mengerti. Ia pun mulai mencerna ucapan Beby dan segala yang terjadi kepada Beby. Pertama mudah lelah, sakit perut, dan kini mual-mual.


“Apakah mungkin? Moe, kamu-”

__ADS_1


Beby mengangguk dan tersenyum. “Aku hamil,” ucapnya.


__ADS_2