
Amsterdam, pukul tiga siang. Agil meminta Bagas membawa Beby kesebuah Restauran di daerah Xx. Dia berkata bahwa dirinya ingin mengajak makan siang Beby, tapi meminta Bagas yang mengantarkan nya.
Di perjalanan.
Suasana nampak begitu hening. Tidak ada diantara mereka berdua, yang mencoba untuk bicara. Karena Beby sendiri masih merasa ada sesuatu yang aneh jika dirinya berada dekat dengan Bagas. Seakan ada magnet tersendiri yang membuatnya nyaman berada didekat pria itu. Tapi bukan perasaan nyaman seperti seorang pria kepada wanita, tapi seorang kakak yang menjaga adiknya.
Hari ini ia berada di Amsterdam, karena Agil ingin bertemu dengan Moelinda sang ibu. Ingin mengenal lebih dekat ibu dari kekasihnya itu. Tapi tanpa sepengetahuan Bagas dan Beby, ia memiliki tujuan lain. Mengajak kedua orang itu ke Amsterdam.
“Jadi ... apakah pria yang waktu itu bertemu dengan mu di Paris adalah Ayah mu?” tanya Beby, mencoba memecah keheningan tersebut.
Bagas menoleh ke arah Beby dengan wajah datarnya seperti biasa. “Memang nya kenapa?”
“Aku hanya bertanya saja,” ucap Beby memalingkan wajahnya ke arah depan.
“Dasar aneh.” Bagas geleng-geleng kepala.
“Apakah Ayah dan Ibumu juga bercerai?” tanya Beby dengan suara pelan. Karena merasa tidak enak sudah bertanya hal yang sensitif. Tapi entah kenapa bibirnya ingin sekali mengucapkan nya.
“Hmm,” jawab Bagas sambil terus fokus menatap jalanan. “Sudah sangat lama ... memangnya kenapa?”
“Tidak apa-apa, aku hanya merasa kita memiliki nasib yang sama ... orang tuaku juga bercerai,” ucap Beby lirih. Matanya terasa panas dan berkaca-kaca, menahan air mata yang hampir terjatuh.
“Tentu saja berbeda,” sahut Bagas, sontak Beby langsung menoleh menatapnya.
“Berbeda bagaimana maksudmu?”
“Kamu pasti sedih karena perceraian itu ... tapi aku malah senang ayah dan ibuku bercerai,” tutur Bagas tersenyum.
Beby semakin tidak mengerti dibuatnya.
“Karena aku tahu, mereka tidak bahagia menjalani pernikahan itu. Ibuku sekarang sudah bahagia dengan keluarga barunya bersama Tuan Adichandra sedangkan ayahku masih belum bisa melupakan istri keduanya,” lanjut nya menjelaskan.
“Ayah mu memiliki istri kedua? Selingkuhan nya?” tanya Beby tidak percaya. Kini dia menatap Bagas dengan seksama. Tanpa sadar penasaran dengan kisah hidup dari pria itu.
“Hahaha ... dasar tukang kepo,” celetuk Bagas sambil tertawa.
“Issh ... aku hanya penasaran saja. Memangnya kamu tidak marah pada ayahmu, karena memiliki istri kedua?”
“Waktu itu umurku masih sangat kecil, tentu saja aku marah dan tidak terima. Tapi dengan berjalan nya waktu aku bisa menerimanya, karena dari awal wanita itu bukan lah selingkuhan ayahku. Melainkan cinta pertama yang dipisahkan oleh perjodohan.”
“Ohh gitu.” Beby manggut-manggut. “Lalu? Sekarang dia ada dimana? Istri kedua ayahmu?”
“Entahlah, aku tidak tahu dia ada dimana. Karena merasa dirinya sudah merusak rumah tangga ayah dan ibuku, wanita itu pergi membawa adik kesayangan ku. Menghilang tanpa jejak, sampai sekarang pun ayahku masih terus mencarinya.”
__ADS_1
“Adik? Jadi wanita itu memiliki anak? Dan kamu, tidak marah?”
“Hei, kau pikir aku ini jahat? Tentu saja aku tidak marah, aku sangat senang bisa memiliki adik perempuan. Setiap hari aku selalu bermain dengan nya, meskipun waktu nya sangat singkat. Tapi aku tidak pernah lupa bagaimana cara dia tersenyum dan memanggilku dengan sebutan kakak.”
“Kamu sangat baik hati, bisa menerima wanita itu dan anak nya dengan ikhlas. Semoga kalian bisa bertemu kembali, kakak.”
Deg.
Bagas langsung menoleh ke arah Beby. Ketika wanita itu memanggilnya dengan sebutan ‘kakak’. Ia sangat terkejut dan tidak bisa berkata-kata. Karena tiba-tiba saja, dia begitu emosional. Matanya terasa panas dan mulai berkaca-kaca. Kenangan yang dia ingat waktu adik perempuan nya memanggilnya dengan sebutan ‘kakak’ terasa nyata. Saat Beby yang mengatakan nya.
Segera Bagas memalingkan wajahnya dan mengusap air di ujung matanya. “Ada apa? Apa aku tidak boleh memanggil mu dengan sebutan kakak?”
“Tidak ... bukan seperti itu, hanya saja-”
“Hanya saja apa? Aku tidak memiliki seorang kakak, dan ketika bersama mu aku selalu merasa memiliki seorang kakak. Dari caramu melindungi ku dari Dewa waktu itu, aku sangat berterima kasih.”
“Terserah kau saja ... sudah sampai, keluarlah lebih dulu. Aku akan memarkir mobil disana,” ucap Bagas seraya menunjuk arah seberang jalan.
Beby pun turun dari mobil dan menunggu Bagas di depan sebuah Restauran. Sambil menoleh kiri dan kanan mencari sosok Agil.
“Kenapa dia belum datang sih? Apa dia ada di dalam?” ucap Beby menggerutu.
Bagas pun datang setelah memarkirkan mobilnya. Ia merasa sedikit canggung terhadap Beby setelah percakapan tadi. Jiwanya seakan ingin melayang, tapi Bagas menahan keras agar tidak terlihat bahwa dirinya sangat senang di depan Beby. Meskipun Beby bukan lah siapa-siapa dirinya, pikir Bagas. Tapi di panggil dengan sebutan kakak, Bagas merindukan momen tersebut.
Beby mengangguk dan mengikuti langkah Bagas yang berjalan memasuki Restauran. Sambil mengetik sebuah pesan kepada Agil di ponselnya. Beby tidak memperhatikan jalannya.
Langkah Bagas terhenti di sebuah meja. Dimana terdapat dua orang pria dan wanita yang tengah mengobrol santai dan makan siang bersama.
“Ayah...” ucap Bagas.
Prayoga yang tengah menyantap makan siang nya terkejut. Lagi-lagi dia dipertemukan dengan anak nya itu secara kebetulan.
“Bagas...” ucap Prayoga.
“Bagas ... kamu sudah sebesar ini nak,” ucap wanita yang duduk bersama Prayoga dia langsung berdiri dan memeluk Bagas dengan erat.
“Kalian berdua ... bagaimana bisa? Sejak kapan kalian bertemu kembali?” Bagas terbata-bata dia bingung harus berkata apa lagi. Setelah melihat wanita yang dia rindukan, yang dia anggap sudah seperti ibunya sendiri. Sekian lamanya selama bertahun-tahun ia cari. Kini tengah berdiri tepat dihadapan nya.
“Sebenarnya kami bertemu secara tidak sengaja dua hari yang lalu,” sahut Prayoga.
Tap tap tap.
Langkah Beby ikut terhenti di belakang Bagas. Merasa aneh dengan Bagas yang tiba-tiba berhenti dan berbicara kepada seseorang.
__ADS_1
“Ada apa?” tanya Beby.
Bagas pun langsung menoleh kebelakang. Membuat posisi seseorang yang tengah berbicara dengan nya terlihat oleh Beby.
Mata Beby membulat tak percaya. Mendapati sang bunda yang ternyata tengah bicara kepada Bagas. Dan yang lebih membingungkan. Bundanya tengah makan siang bersama Prayoga, ayahnya Bagas.
“Bunda? Apa yang Bunda lakukan disini?” ucap Beby.
“Beby,” ucap Linda seraya menghambur memeluk Beby. Betapa ia merindukan anak nya itu.
Bagas dan Prayoga, tertegun diam seribu kata. Bagas sangat terkejut, dia menatap Linda dan Beby bergantian
Tak percaya dengan apa yang dia lihat. Beby memanggil wanita itu dengan sebutan Bunda. Perasaan nya langsung merasa bahwa ini bukan lah sebuah kebetulan.
“Bunda?” ucap Bagas dengan wajah bingung.
“Oh iya ... Beby, perkenalkan ini Tuan Prayoga dan ini Bagas anaknya.” Linda memperkenalkan Beby dengan Prayoga dan Bagas.
“Beby sudah mengenal mereka, Bunda. Terlebih dengan Bagas,” ucap Beby menatap Bagas yang terus menatap dirinya. “Ada apa?”
“Beby, kamu wanita yang bersama Tuan Ragilio waktu itu bukan?” ucap Prayoga tersenyum.
Beby mengangguk. “Tuan Ragilio Ganendra?” tanya Linda kepada Beby.
“Benar ... apa Bunda mengenal Agil?” tanya Beby balik.
“Nanti kita bicarakan lagi ... yang terpenting sekarang karena kalian berdua sudah ada disini, bagaimana kalau duduk dan membicarakan suatu hal disini,” ucap Linda seraya menarik Beby untuk duduk di salah satu kursi tepat disebelahnya. Begitu pun dengan Bagas yang duduk tepat disebelah sang ayah Prayoga.
Beby masih bingung dengan keadaan dia menatap Bagas terus menerus. Seakan meminta jawaban atas ini semua. Karena terlihat Bagas yang hanya diam dan terus menatap dirinya. Mata pria itu berkaca-kaca, dan tidak berhenti menatapnya. Tentu saja membuat Beby semakin merasa aneh.
“Sebenarnya ada apa ini? Bunda, katakan langsung pada Beby. Sebenarnya ini ada apa?” decak Beby yang sudah mulai tidak nyaman.
“Beby, maafkan bunda sayang. Selama ini bunda sudah menyembunyikan suatu kebenaran padamu, bahwa kamu bukanlah-”
“Bukan anak Ayah Arsyad kan,” potong Beby dengan cepat. “Aku sudah tau itu.”
“Kamu sudah tau sayang? Maafkan bunda, Beby. Hiks hiks.” Linda mulai meneteskan air matanya.
“Kenapa malah menangis? Cepat katakan, sebenarnya ada apa?”
Linda menatap Prayoga yang juga menatapnya sambil menganggukkan kepala. Beby mengerinyit merasa aneh. Dia kembali menatap Bagas yang hanya diam, dan kini pria itu memalingkan wajahnya ke arah lain.
“Aku tahu kamu sengaja menyuruhku dan Beby datang ke Restauran ini, untuk membongkar kebenaran ini, Agil,” batin Bagas.
__ADS_1
TBC.