Selling My Virginity (Menjual Keperawanan Ku)

Selling My Virginity (Menjual Keperawanan Ku)
Selling My Virginity Ch 106.


__ADS_3

Tidak terasa seminggu sudah berlalu. Hubungan pernikahan Agil dan Beby semakin hari, semakin romantis. Keduanya sudah seperti perangko yang terus menempel kemana-mana. Mereka kembali ke kota J. Karena Agil harus mengurus perusahaan, begitu pun juga dengan Bagas yang harus mengurus perusahan Prayoga cabang kota J.


Agil sudah mendapatkan asisten baru. Seorang pria dari departemen keuangan perusahaan nya, yang ia naikan jabatannya. Jika Agil sudah turun tangan sendiri untuk memilih Asisten Pribadi. Itu berarti dia percaya kepada orang tersebut. Ia bernama Reyhan Putra.


“Rey, tolong kamu urus tentang pertemuan dengan pemimpin grup Adichandra Company.”


“Siap, Tuan.” Dengan sigap Reyhan keluar dari ruangan Agil dan kembali ke meja kerjanya. Mengerjakan sesuatu di komputernya.


“Kemana kamu sebenarnya, Bro.”


Agil menatap ke arah jendela kaca. Gedung Adichandra Company, bersebelahan dengan perusahaan nya. Jujur saja, kali ini Agil membenarkan bahwa dirinya merindukan satu sahabatnya tersebut.


Daniel, dia tidak datang ke acara pernikahan nya. Tentu saja, ia bertanya-tanya ada apa gerangan. Daniel seperti menghilang ditelan bumi. Tidak ada kabar, bahkan Agil sudah menyuruh Reyhan mencari tahu. Tapi tetap juga tidak mendapat petunjuk. Ia juga bertanya kepada ayahnya Daniel, dia tidak mau mengatakan dimana anak nya berada.


“Daniel, tidak ada di negara ini ... dia pergi entah kemana, untuk menenangkan diri. Dia hanya menitipkan ini untuk pernikahan mu.” Kata-kata ayah nya Daniel kepada Agil. Saat terakhir kalinya bertemu dua hari yang lalu.


Agil membuka laci meja kerjanya. Mengeluarkan sebuah amplop merah yang diberikan oleh Daniel kepadanya. Dengan cara disampaikan oleh ayah nya.


Agil segera membuka dan melihat isi amplop tersebut. Matanya menyipit dan dahinya mengkerut. Sebuah Resi pengiriman. Alamat tujuan nya adalah apartemen nya, dan juga paket itu dikirim hari ini.


“Apa yang dikirim nya?”


Tiba-tiba ponselnya berdering. Senyuman menggantung dibibir nya. Istri tercintanya menelpon, tentu saja dia senang. Segera Agil mengangkat panggilan dari Beby, jika tidak wanita itu akan mengomel padanya.


“Iya Moe? Ada apa?”


“Sayang, ini ada paketan yang datang. Tulisan nya untuk Tuan Ragilio Ganendra.”


“Paket? Mungkin dari Daniel,” batin Agil.


“Biarkan saja, saat aku pulang kerja kita buka bersama.”


“Memang nya ini dari siapa? Kotak nya besar sekali.”


“Kotak?”


“Iya, ini kotak besar sayang. Bukan bom kan dalam nya.”


“Hahaha, kamu ini ada-ada saja. Tidak mungkin lah ... ya sudah, aku lagi banyak kerjaan. Nanti aku telpon lagi, I Love You.”


“I love you too.”


Panggilan pun terputus.

__ADS_1


“Ada-ada saja kamu, Moe.” Agil geleng-geleng kepala sambil tersenyum. Karena tingkah konyol istrinya itu.


Ia menatap jam dinding yang tergantung, sebentar lagi waktu nya pulang. Agil pun segera menyelesaikan pekerjaan nya yang hampir selesai. Dia tidak sabar untuk menemui istri dan juga baby-nya.


🌺🌺🌺


“Moe, aku pulang.”


Agil masuk ke dalam apartemen. Sambil memanggil-manggil sang istri. Dari arah dapur kepala Beby muncul, ia tersenyum dan segera berlari menghampiri suaminya.


Beby melompat memeluk Agil. Mengecup lembut bibirnya. Agil mengerutkan dahi cemberut. Beby pun menyeringai dan menggaruk-garuk kepalanya.


“Sorry,” ucap nya dengan wajah dibuat-buat.


“Sudah tahu hamil, masih aja lari-lari dan melompat-lompat ... awas aja kalau sampai terjadi apa-apa,” ucap Agil gemas sambil menggigit bibir bawah nya dan menunjuk jidat Beby.


“Maaf, sayang. Gitu aja marah, nanti cepat tua tau!”


Beby merangkul lengan Agil dan menyandarkan kepala di pundaknya. “Sudah makan?”


“Belum,” jawab Agil ketus. “Kamu?”


“Belum juga, sayang.”


Beby menutup telinganya. Membuat Agil semakin gemas dengan tingkah manja istrinya itu. Ia tersenyum geleng-geleng kepala.


“Tuh kan, kalau di kasih tahu malah tutup telinga ... gak dengar beneran baru tahu rasa.”


“Hehehe, jangan gitu dong. Sayang, semua perkataan itu adalah doa. Jangan sembarangan bicara, jika aku jadi tuli beneran gimana? Nanti kamu cari istri baru kan.”


“Dasar konyol, otak itu jangan sempit ... tentu saja aku tetap mencintai mu, mau fisik mu seperti apa pun, aku tetap menerima mu apa adanya, Moe.”


Agil melingkarkan tangan nya di pinggul Beby, lalu menarik tubuhnya mendekat. Kemudian mendaratkan kecupan hangat di keningnya.


“Hari ini mau makan apa? Biar aku suruh Reyhan, reservasi tempat,” ucap Agil.


Beby menggeleng dan tersenyum. “Hari ini kita makan dirumah saja, aku sudah masak.”


Lagi-lagi Agil mengerutkan kening. “Kamu masak, Moe?”


“Tentu saja,” jawab Beby dengan percaya diri.


“Memang nya bisa?” Agil masih tidak percaya. Karena dia belum sempat mencari seorang koki untuk memasak di apartemen nya. Lalu Beby memasak sendiri? Agil tidak percaya.

__ADS_1


“Bisa dong ... kan belajar, sayang.”


“Belajar? Sama siapa?”


Belum Beby menjawab. Terdengar suara sendok atau garpu yang jatuh kelantai dari arah dapur. Agil menatap penuh tanya sang istri. “Siapa?”


Beby tersenyum sambil menaikan kedua bahunya. Membuat Agil perasaan Agil semakin tidak enak. Ia pun berjalan ke arah dapur.


Benar sekali yang di pikirkan nya. Dapur begitu berantakan, kotor, semua alat masak tergeletak sembarangan. Terlebih melihat seorang pria yang tengah mencuci tangan di wastafel sambil tersenyum kepadanya.


“Apa yang kalian lakukan dengan dapur ku?” tanya Agil menatap Beby dan pria itu secara bergantian.


“Kamu diam,” ucap Agil menyanggah ketika Beby hendak menjawab.


“Bagas, jelaskan ini?”


Pria itu ternyata Bagas.


“Jadi, begini ceritanya. Beby menelpon ku, dia bilang dia mau belajar memasak untuk mu. Karena merasa tidak enak jika harus makan diluar atau kamu terus yang memasak untuk nya.”


“Terus?”


“Yah, sebagai kakak. Aku bersedia mengajarinya memasak, dan hasilnya seperti itu.” Bagas menunjuk ke arah meja makan.


Beberapa piring makanan tertata rapi disana. Kelihatan nya sangat enak. Agil kembali menatap Bagas dan Beby secara bergantian.


“Belajar masak sih boleh, tapi gak gini juga ... Bagas, Beby, sekarang aku sadar kalian benar-benar kakak adik...” Agil menghela nafas nya dan meraih panci yang jatuh kelantai lalu menaruh nya di atas wastafel.


“Tentu saja kami kakak adik ... apa kamu tidak lihat, betapa miripnya kami?” ucap Bagas percaya diri sambil merangkul Beby.


Agil tersenyum. “Benar, kalian berdua sangat mirip.”


“Sayang, jangan marah ya.” Beby merangkul lengan Agil. “Nanti aku akan membersihkan dapurmu.”


“Untuk apa ada pelayan, Moe. Aku tidak mau kamu mengerjakan apapun, apalagi memasak disaat kamu mual-mual seperti ini.”


“Aku tidak mual-mual lagi, Sayang. Berkat tips yang di berikan oleh Nina, mual-mual nya sudah mendingan.” Beby bergelayut manja di lengan Agil.


“Hmm, yasudah. Ayo kita makan, aku juga mau merasakan masakan mu, Moe.” Agil membelai kepala Beby.


Mereka pun makan malam bersama bertiga. Bagas begitu senang melihat sang adik yang nampak begitu bahagia. Terlebih Agil yang sangat perhatian dan penuh kasih sayang kepada Beby. Bagas bersyukur Agil lah yang menjadi jodoh adiknya itu.


TBC.

__ADS_1


__ADS_2