
Di dalam ruangan VIP tempat Kaisar dirawat. Ratu berlari dengan tergesa-gesa menutup pintu dan menghampiri Kaisar.
Kaisar menghela nafas panjang menatap Ratu dengan menaikan alis sebelah. “Ratu, kamu ini bisa tidak jangan berisik!”
Ratu menyipitkan matanya menatap Kaisar yang menggerutu. “Isshh, kamu ini! Mau tau gak ada berita baru.”
Kaisar mengerinyit tidak mengerti, namun dia memilih mengganti posisi tidur membelakangi Ratu. “Pergilah, aku mau istirahat.”
“Kai, dengerin dulu ... ini tuh penting, tentang ayah!” Ratu terlihat bersemangat ingin memberitahukan kepada Kaisar mengenai hal yang dia lihat tadi.
“Aku gak mau tau, pergi sana ... kepala ku sakit, Ratu.”
“Ada cewek yang deketin ayah...”
Kaisar menoleh seketika kearah saudari kembarnya itu. “Jangan sembarang bicara, kalau ayah dengar di bisa marah.”
“Aku tidak asal bicara ... tadi aku benar-benar lihat mereka berdua sangat dekat. Aku merasa bahwa wanita itu ada niat gak baik ke ayah.”
Kaisar mengerinyit melihat raut wajah Ratu yang berubah sinis, menampakan rasa ketidak sukanya. “sok tahu kamu, sudah sebaiknya kamu pergi. Aku mau istirahat.”
__ADS_1
Tidak lama kemudian. Pintu kembali terbuka. Ratu dan Kaisar sama-sama terkejut. Mereka langsung merubah posisi dan bersikap senatural mungkin.
“Ratu, bukan kah ayah sudah katakan ... kamu gak perlu ikut ke rumah sakit, mengganggu istirahatnya Kai.”
“Ayah benar, kamu disini hanya mengganggu ku saja,” celetuk Kaisar.
Ratu pun mengerucutkan bibirnya.
“Ayo, ayah akan mengantarmu pulang. Biarkan Kaisar beristirahatlah.” Daniel meraih pundak Ratu.
“Jika ada keperluan hubungi Dion, dia akan menemanimu...” Menatap Kaisar dengan penuh perhatian.
***
Malam harinya. Daniel tengah duduk di kursi kerja di ruangan kerjanya. Sambil menggoyang-goyangkan kursi tersebut, pandangan nya tertuju pada layar laptopnya saat ini. Dimana menampilkan foto dua orang wanita dan satu orang pria tengah berpose saling merangkul.
Matanya tertuju pada sosok yang ada di tengah. Seorang wanita cantik dengan rambut coklat yang diurai. Tengah tersenyum manis merangkul wanita dan pria di sebelahnya.
Wanita itu tak lain adalah Beby, wanita yang pernah menjadi wanita spesial dalam hidupnya sekitar 11 tahun yang lalu. Namun itu semua adalah masa lalu, Daniel sudah merelakan nya.
__ADS_1
Akan tetapi, bukan itu permasalahan nya. Melainkan sosok wanita muda yang sedang dirangkul oleh Beby. Lebih tepatnya seorang gadis yang mengenakan seragam SMA. Nampak sangat familiar, dengan senyuman konyolnya.
“Freeya Endrawira dan Beby Moelinda Endrawira, bagaimana bisa aku tidak menyadarinya ... ternyata wanita aneh itu adalah adiknya Beby, pantas saja sifat narsisnya itu mengingatkan ku pada Beby.”
“Sebuah kebetulan yang menarik, apakah karena dia adiknya Beby hingga membuatku hilang akal? Daniel sadarlah, kamu tidak boleh mempermainkan perasaan seorang wanita hanya karena perasaan masa lalu mu...”
Merasa begitu buruk. Daniel menutup layar laptopnya dengan kasar. Lalu menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi. Menarik nafas panjang dan mengusap wajahnya frustasi.
“Akkhh,” teriaknya.
Saat wajah Freeya yang narsis, tiba-tiba muncul ketika matanya tertutup. “Kenapa aku malah memikirkan nya?”
Mengusap wajah semakin frustasi. Daniel beranjak dari tempat duduk nya. Lalu melangkah ke salah satu bufet mahal masih di dalam ruangan itu. Meraih sebotol wine dan menuangkan nya ke sebuah gelas kaca.
“Aku bukan pria brengsek, yang akan meninggalkan wanita setelah bermain dengan nya.” Meneguk isi gelas yang dia pegang. “Tapi bagaimana jika wanita itu sendiri yang menyuruhku pergi?”
“Dasar wanita aneh! Kenapa aku bisa bertemu dengan nya?” Daniel kembali meneguk hingga habis wine di dalam gelas tanpa sisa.
Memikirkan hal apa yang harus dia lakukan membuat kepalanya pusing. Terlebih sosok Freeya yang cantik tapi konyol, menambah beban isi dalam kepalanya.
__ADS_1
To be continued...