
Diperjalanan pulang. Freeya mengemudikan mobilnya dengan sedikit gusar. Tangan nya mulai berkeringat dingin dan sesekali dia melirik kaca spion mobilnya
“Ada apa dengan mobil itu? Kenapa aku merasa sedang diikuti?” gumam Freeya pelan.
Dia melirik ke arah Ratu yang masih duduk tenang sambil memainkan ponsel disebelahnya. Freeya menghela nafas dan menyibak helaian rambutnya kebelakang. Jangan sampai Ratu melihat kegusarannya saat ini.
“Ada apa?” tanya Ratu yang tiba-tiba menatap ke arah Freeya.
“Hah? Ti-tidak ... tidak ada apa-apa,” jawab Freeya gugup.
Shiiitttt.
“Aaakkhhh....” teriak Freeya dan Ratu.
Saat mobil hitam yang sejak tadi berusaha menyelip dan berhenti mendadak didepan mobil mereka. Tanpa memikirkan diri sendiri. Freeya langsung memegangi Ratu dan memeriksa apabila ada yang terluka di bagian tubuhnya.
“Kamu baik-baik saja? Apa ada yang luka?”
“Tidak, aku baik-baik saja...”
Ratu mengangguk dan menatap Freeya. Seketika matanya membulat, melihat dahi Freeya yang berdarah.
“Be-berdarah...” Ratu menunjuk ke arah dahi Freeya.
“Berdarah?” ucap Freeya bingung, sembari meraba dahinya yang ditunjuk.
__ADS_1
Melihat noda darah di tangan nya. Freeya mengatur nafasnya agar tidak terlalu panik. Lalu dia meraih sapu tangan yang ada di dalam tasnya. Kemudian mengusap luka di dahinya, yang diakibatkan oleh benturan di setir kemudi, saat mengerem mendadak tadi.
“Apa itu sakit?”
“Tidak, ini tidak sakit ... kamu jangan khawatir yah...”
Freeya mencoba membuat Ratu tidak panik, dengan tersenyum paksa. Walaupun sekarang ini kepalanya terasa berdenyut.
“Kamu tunggu disini, aku akan keluar menemui pemilik mobil itu,” tegas Freeya membuka pintu mobil, dan berbalik sebelum keluar. “Ingat jangan keluar dan tetaplah didalam mobil...”
Ratu mengangguk dan menuruti perkataan Freeya. Dia menatap kepergian Freeya yang keluar dari mobil. Menghampiri mobil yang berada di depan mereka.
“Hey, keluar! Apa kamu bisa bawa mobil dengan benar?” teriak Freeya.
Tidak lama setelah dirinya berteriak dan memaki pemilik mobil tersebut. Pintu mobil itu terbuka dari sisi kanan,. kiri, depan dan belakang.
“Apa-apaan ini?”
Mata Freeya membulat, melihat empat orang pria berbaju serba hitam keluar. Menelan saliva dan berjalan mundur beberapa langkah, Freeya merasa ketakutan. Dia sempat melirik ke arah Ratu yang menatap nya dengan wajah ketakutan di dalam mobil.
“Apa yang mau kalian lakukan? Jangan mendekat, atau aku akan teriak!”
Para pria itu tidak menjawab. Mereka terus mencoba mendekati Freeya yang semakin panik. Salah satu pria berhasil menangkap tangan Freeya.
“Akh, lepaskan aku! Bajingan, aku tidak suka disentuh oleh sembarang orang!”
__ADS_1
Freeya memukul-mukul tangan kekar pria itu yang menggenggam lengan nya. “Aku akan melaporkan kalian ke polisi jika kalian berbuat sesuatu padaku!”
“Diam lah! Kamu harus ikut bersama kami!”
Para pria itu memegangi Freeya dan menariknya dengan paksa. Marah dan kesal, Freeya mencoba melawan dan melepaskan diri.
“Aku bilang lepaskan aku!” teriak Freeya.
Bugh.
Bugh.
Bugh.
Dengan gerakan cepat ia memelintir tangan pria-pria itu. Lalu melayangkan beberapa pukulan dan tendangan. Yang sudah dia pelajari waktu belajar bela diri disekolah nya dulu.
Sedangkan dari dalam mobil. Ratu menggigit kuku jari tangan nya. Melihat Freeya yang di serang oleh pria-pria tadi. Tangan nya terus bergetar, bahkan seluruh tubuhnya berkeringat dingin, ketakutan.
“Ayah...”
Ponsel Ratu berdering. Segera dia mengangkat panggilan tersebut, yang pasti dari Daniel sang ayah.
Dengan gemetaran Ratu berkata : “Ayah, tolong kami!”
To be continued...
__ADS_1