Selling My Virginity (Menjual Keperawanan Ku)

Selling My Virginity (Menjual Keperawanan Ku)
Selling My Virginity Ch 102


__ADS_3

“Maafkan aku,” ucap Bagas merasa tidak enak kepada Nina. Saat dia sadar jika dirinya menggandeng tangan wanita itu tanpa izin.


“Tidak apa-apa ... dimana, Beby?” Nina menjadi sedikit kikuk, ia pun mengalihkan pembicaraan.


“Dia di dalam, masuklah duluan. Aku mau menelpon seseorang,”ucap Bagas.


Nina mengangguk dan segera masuk ke dalam kamar hotel VIP. Dimana ada Agil dan Beby. Nina tertegun melihat sepasang suami istri itu yang tengah berbaring di atas tempat tidur, sambil berpelukan. Betapa romantisnya, terlebih ketika Agil yang mengusap-usap lembut kepala istrinya itu.


Bagas yang sudah selesai bertelepon pun ikut masuk, dia berdiri disebelah Nina. Menatap raut wajah Nina yang merah dan ada senyuman tipis di sana.


“Eehhmm,” dehem Bagas.


Agil menoleh ke arah Bagas dan Nina. Begitu pun juga dengan Beby yang muncul dari dekapan dada suaminya. Beby tersenyum lebar dan segera ingin menghampiri Nina.


Akan tetapi belum sempat dia beranjak dari tempat tidur, perut nya kembali mual. Sepertinya dia benar-benar tidak bisa jauh dari tubuh suaminya, yang mengeluarkan aroma khas yang sangat ia sukai.


“Nina, maafkan aku. Aku sangat ingin memeluk mu, tapi perutku rasanya mual sekali,” lirih Beby.


“Tidak apa-apa, aku yang akan mendekati mu, By.” Nina pun duduk di tepi tempat tidur sambil memegangi tangan Beby.


“Bagaimana dengan mual nya? Apa masih sangat terasa?” tanya Nina.


Beby mengangguk. “Aku tidak bisa mencium apapun, rasanya mual sekali. Hanya aroma tubuh Agil yang membuat ku agak enakan sedikit,” jelas Beby.


Agil tersenyum miring menatap Bagas dengan tatapan meledek. “Cih, ada yang besar kepala tuh,” sindir Bagas sebal.


“Hahaha.” Agil malah tertawa, membuat Bagas menghela nafas dan menatapnya sinis.


“Kalau begitu ... aku akan segera kembali,” ucap Nina yang langsung berlalu keluar dari kamar tersebut. Diikuti oleh Bagas dibelakang nya.


“Mau kemana?” tanya Bagas.


“Bawa aku ke bagian Fnb,” pinta Nina.


Bagas pun mengangguk, dan tanpa bertanya. Ia mengajak Nina ke bagian Fnb hotel, atau restauran. Entah apa yang ingin dilakukan Nina.


Selang beberapa menit. Nina dan Bagas kembali ke dalam kamar. Agil memeriksa arloji ditangan kirinya. Sudah pukul lima sore. Tapi Beby sang istri masih juga belum membaik. Agil ingin sekali membatalkan acara resepsi ini, tapi Beby bersikeras menolak nya. Ya, apalah daya suami yang sangat mencintai istri, hingga tidak bisa menolak kemauan istrinya.


Nina membawa segelas minuman jahe dan roti berselai kacang. Dengan dibantu oleh Bagas. Ia pun menaruh minuman dan roti tersebut di nakas sebelah tempat tidur.


Indra penciuman Beby menangkap aroma yang menyengat namun tidak membuat nya mual. Kepala nya menoleh ke arah gelas di sampingnya.

__ADS_1


“Apa itu?” tanya nya menunjuk gelas berisi air jahe.


“Itu air jahe, By,” jawab Nina.


“Jangan bilang kamu menyuruhku minum itu?” Beby terlihat panik, dia sampai mencengkram kuat kemeja Agil. Bersiap untuk kembali bersembunyi dalam dekapan sang suami.


Nina menatap Agil dengan penuh arti. Agil pun mengangguk karena mengerti apa yang dimaksud oleh tatapan Nina.


“Moe, sayang lihat aku,” ucap Agil meraih dagu Beby dan menatap lekat mata sang istri.


“Ini untuk kebaikan mu, apa kamu mau aku membatalkan acara ini?”


Beby menggeleng dengan wajah sedih.


“Kalau begitu minum itu, aku yakin kamu pasti bisa, sayang.” Agil mengecup kening Beby.


Beby mengedarkan pandangan nya menatap Bagas, sang kakak yang juga mengangguk. “Ini semua untuk kebaikan mu, By,” ucap Bagas.


Beby pun berusaha duduk di tepi tempat tidur, dengan dibantu Agil dan Nina. Lalu Nina pun mengambil gelas di atas nakas kemudian menyodorkan nya kepada Beby.


“Ini minumlah sampai habis, lalu makan rotinya,” ucap Nina tersenyum.


Beby mengangguk lah dan langsung meminum air jahe buatan Nina, tidak terasa sudah habis satu gelas. Kemudian dia memakan roti lapis isi selai kacang juga sampai habis.


“Tidak, aku tidak merasa mual lagi. Air jahe ini ternyata bisa membantu,” ucap Beby dengan wajah yang sudah mulai segar tidak pucat seperti sebelumnya.


“Nina, makasih ya.” Beby menggenggam tangan Nina dan berterima kasih sebanyak nya. Kepada sahabat nya itu.


“Sama-sama, By. Kalau begitu ayo aku bantu kamu bersiap-siap,” ucap Nina tersenyum.


Akhirnya Beby pun bisa kembali bersiap-siap. Dengan di bantu oleh Nina, Beby sudah siap menghadiri acara resepsi dirinya dan juga Agil.


Agil menggandeng Beby dengan mesranya, menemui setiap tamu yang datang ke pesta tersebut. Dengan bangganya Agil memperkenalkan Beby wanita cantik itu adalah istrinya.


Para tamu bersorak-sorai meriah, menyoraki Agil dan juga Beby. Mereka semua menikmati acara resepsi yang elegan dan mewah tersebut. Ditemani alunan musik klasik romantis, deburan ombak dan angin laut. Seakan menyapa semua orang di pesta itu. Terlebih saat hari mulai senja, cahaya jingga menyeruak dari ufuk barat. Menambah kesan romantis, saat Beby dan Agil berdansa diatas hamparan pasir putih.


Semua para tamu, memandangi pasangan tersebut. Mereka pun ada yang ikut berdansa bersama pasangan mereka masing-masing.


Agil memeluk mesra Beby sambil berdansa. Berkali-kali tanpa rasa bosan, Agil mengecup penuh kasih pucuk kepala wanita yang kini sudah menjadi istrinya itu.


“Aku mencintaimu, Moe,” ucap Agil.

__ADS_1


“Aku juga sangat mencintaimu, sayang,” ucap Beby.


Agil membelai kepala Beby, dan semakin mendekap sang istri dengan erat. “Apa kamu lapar?” tanya nya.


Beby merenggang kan pelukan nya, mendongak menatap wajah Agil. “Entahlah, tadi aku sudah makan roti lapis buatan Nina. Tapi, aku merasa perut ku sedikit lapar lagi,” ucap Beby sambil memegangi perutnya.


“Kalau begitu, ayo aku akan membawa mu ketempat penyajian makanan,” ajak Agil yang langsung menggandeng Beby. Menuju tempat penyajian makanan.


“Pilih lah, apa saja yang mau kamu makan, Moe,”ucap Agil tersenyum.


Tanpa sadar Beby mengambil beberapa potong steak dan juga salat di piring nya. Agil hanya diam menatapi apa yang dilakukan sang istri. Ia tersenyum, sangat bahagia bisa menyanding seorang wanita yang luar biasa seperti Beby. Terlebih wanita itu kini tengah mengandung anak nya. Tentu saja, Agil sangat bahagia.


“Banyak sekali,” ucap Agil.


Ia mengajak Beby duduk di salah satu meja. Memandangi sang istri yang melahap sedikit demi sedikit makana nya.


“Kamu tidak makan, Sayang?” tanya Beby.


Agil menggelengkan kepalanya. “Aku masih kenyang ... sekarang yang terpenting kamu harus makan banyak,” ucap nya menyeringai.


Beby mengerutkan kening merasa aneh dengan seringaian licik suaminya itu. “Apa maksudnya dari senyuman mengerikan itu?” sindir Beby.


“Hahaha,”-Agil tertawa geli-“makan yang banyak, untuk mengisi tenaga mu, Moe.”


“Isi tenaga? Buat apa?” Beby semakin tidak mengerti, kini dia menghentikan kegiatan makan nya. Ia menatap lekat wajah Agil yang mulai berubah menatap ya dengan aneh.


“Tentu saja, untuk nanti malam. Aku akan membuatmu menjerit sekencang nya, Moe sayang,” bisik Agil ditelinga Beby.


Sontak membuat Beby seketika merinding. Wajahnya mulai memerah. Beby ingin tersenyum namun ditahan nya. Tangan nya menyelip kedalam jas milik Agil, dan langsung mencubit pelan perutnya.


“Awwh, Moe kamu-”


“Dasar mesum, malu tau kalau didengar orang,” decak Beby gemas.


“Awas yah, nanti malam aku tidak akan memaafkan mu, Moe.” Agil kembali berbisik dan menyeringai penuh arti. Beby kembali bergidik, membayangkan apa yang akan suaminya itu lakukan.


Agil terkekeh geli, melihat wajah sang istri yang memerah. Ada rasa senang tersendiri yang dia rasakan. Saat menggoda Beby dengan kata-kata mesum seperti itu.


“Aku janji akan membuatmu bahagia, Moe,” batin Agil.


TBC.

__ADS_1


Note : Bantu vote nya yah, guys☺️


...🌺Author : Senang bisa mengenal kalian semua, meskipun kita berjauhan, aku tetap senang bisa punya readers-readers kece. Jangan bosan dengan cerita ku ya,😘😘🌺...


__ADS_2