Selling My Virginity (Menjual Keperawanan Ku)

Selling My Virginity (Menjual Keperawanan Ku)
SEASON 2 : 5. ANAK YANG TIDAK PUNYA IBU.


__ADS_3

PRANG!


Suara guci keramik yang pecah dilantai. Sontak membuat Daniel terkejut. Mendengar asal suara itu dari kamar Kaisar. Segera dia beranjak dari sofa dan menuju kamar Kaisar yang terletak dilantai dua, bersebelahan dengan kamar Ratu.


BRAK!


Dengan kasar membuka pintu yang sudah terbuka setengah. Daniel melotot melihat guci keramik itu pecah dan berserakan dilantai. Tepat dihadapan kedua kakak beradik itu. Yang saling menatap dengan tajam.


“Kaisar! Ratu! Apa yang kalian lakukan? Kalian bertengkar lagi?” bentak Daniel dengan suara bariton nya.


Tapi tidak menggentarkan jiwa kedua saudara yang sedang bersitegang itu. Daniel pun berjalan mendekati keduanya.


“Ratu? Jawab ada apa ini?” Daniel menarik Ratu ke dekatnya.


“Ini semua karena Kaisar, Ayah!” Ratu menatap Daniel dengan berkaca-kaca. “Coba saja dia tidak ikut campur urusan ku, mungkin dia tidak akan dihukum..”


“Dihukum?” Daniel mengerinyit, menatap Ratu dan Kaisar secara bergantian. “Dihukum apa maksudmu?”


“Kaisar di hukum berdiri di depan tiang bendera selama tiga jam...” Ratu memalingkan wajahnya. “...dia mengaku bahwa dia yang sudah memukul murid kelas sebelah.”


“Memukul? Ratu jelaskan pada Ayah dengan benar!” ucap Daniel semakin kesal, karena merasa anak-anak nya tidak ada yang mau terbuka.


“Itu bukan urusan, Ayah ... aku mengantuk sebaiknya kalian berdua keluar dari kamarku,” ucap Kaisar ketus mengusir Ayah dan adik perempuan nya.


“Kaisar!” bentak Daniel keras. “Jelaskan sekarang juga, atau Ayah akan menghukum kalian berdua...”


“Ayah, jangan hukum Kaisar ... aku yang bersalah,” cegah Ratu.

__ADS_1


“Bodoh, apa kamu mau dihukum di depan tiang bendera!” Kaisar tiba-tiba marah dan mendorong bahu Ratu.


“Memang ini salahku, jika saja tadi aku tidak memukul anak itu ... mungkin kamu tidak akan dihukum seperti tadi,” ucap Ratu setengah menangis. “Ayah, maafkan Ratu...”


Daniel yang melihat Ratu menangis, langsung berjongkok di depan nya.


“Jangan menangis, memangnya apa alasan mu memukul anak itu?” Berbicara lembut dan memegang kedua pundak Ratu.


Ratu memberanikan diri menatap wajah sang ayah. Yang dia kira akan marah tapi ternyata sang ayah malah berbicara lembut padanya.


Dengan takut-takut dia berkata, “Aku memukulnya, karena dia mengatakan bahwa aku tidak punya ibu seperti teman-teman yang lain, hiks hiks hiks.”


Mata Daniel membulat, saat mendengar perkataan Ratu. Hatinya seketika berdenyut seperti diremas-remas. Membayangkan bagaimana perasaan Ratu, saat dikatai seperti itu. Daniel mengusap ujung kelopak matanya yang berair.


“Lalu, kamu memukulnya?” Daniel beralih menatap Kaisar yang terdiam menatap ke arah lain. “Dan Kai, kamu mengaku agar adik mu tidak dihukum?”


“Jangan meminta maaf, kalian tidak salah,” ucap Daniel.


Kaisar dan Ratu terkejut, menatap Daniel bersama-sama. Daniel langsung memeluk kedua anak nya itu dengan erat.


“Maafkan ayah, selama ini kalian pasti tersiksa...”


“Ayah, bolehkah Ratu meminta satu hal,” pinta Ratu.


“Apa itu?” tanya Daniel menatap lekat wajah Ratu.


“Apakah ayah bisa membuat ibu kembali? Ratu capek selalu dibilang anak yang tidak punya ibu,” ucap Ratu.

__ADS_1


“Maafkan Ayah, itu tidak mungkin terjadi, sayang,” ucap Daniel sembari tersenyum dan mengusap air mata di pipi Ratu.


“Kenapa, Ayah...” Wajah Ratu kecewa.


“Karena ibumu, tidak akan pernah kembali lagi ... mau seberapa keras kalian mengharapkan nya, itu tidak akan terjadi...”


“Tapi ayah...”


“Ayah masih banyak kerjaan, kalian jangan berkelahi lagi,” ucap Daniel seraya berdiri.


Ratu yang sudah terlanjur kecewa dengan perkataan Daniel, berlari melewati nya. Daniel ingin menyusulnya tapi dia mengurungkan niat tersebut. Mungkin Ratu memerlukan waktu untuk sendiri.


Sedangkan Kaisar, hanya diam diposisinya. Daniel kembali melanjutkan langkahnya menuju pintu. Namun tiba-tiba saja.


BRUK!


Daniel seketika menoleh, matanya membulat.


“Kaisar!” teriak Daniel.


Daniel langsung berlari menghampiri Kaisar yang tergeletak dilantai. Mengangkatnya dari lantai yang penuh pecahan keramik.


“Kaisar, kamu kenapa? Bangun sayang, ayah mohon ... Kaisar! Kaisar!”


Berkali-kali ia memanggil-manggil namanya. Namun tetap tidak ada jawaban dari Kaisar. Tanpa sadar air mata Daniel menetes. Wajah Kaisar semakin pucat pasi, bibirnya membiru. Segera ia menggendong Kaisar keluar dari kamarnya.


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2