
Tidak lama kemudian. Mobil memasuki pekarangan rumah yang tidak asing untuk Freeya dan juga Daniel tentunya. Rumah itu tidak berubah sama sekali bagi Daniel. Karena dulu dia sering mengantar Beby pulang, sebelum dia bertemu dengan Agil.
Freeya pun turun dari mobil dan langsung berjalan menaiki beberapa anak tangga menuju teras rumah tersebut.
“Rumah ini tidak berubah,” gumam Daniel seraya menatap sekeliling ketika baru saja turun dari mobil.
“Apa yang dilakukan pria itu? Seperti tidak pernah melihat rumah orang saja?” desis Freeya menatap sinis Daniel yang masih menatap sekeliling rumah ayahnya.
“Hei, pria!” teriak Freeya.
Daniel menoleh, menatap Freeya dengan dahi mengkerut. Lalu dia berjalan mendekati wanita itu. “Pria?”
“Iya, kamu seorang pria bukan? Masa aku harus memanggilmu wanita?” cetus Freeya jutek seraya kembali menatap pintu besar dihadapan nya. Lalu menekan tombol bel disebelahnya.
Daniel hanya menghela nafas dan geleng-geleng kepala. Cantik tapi sayang sangat berisik, itu pikirnya. “Bagaimana bisa ada pria yang sangat tergila-gila dengan nya?”
“Apa kamu bilang barusan?”
“Tidak, aku tidak bilang apa-apa... tekan saja belnya.”
“Dasar aneh,” desis Freeya membuang muka.
“Kamu yang aneh, wanita berisik,” batin Daniel.
Menunggu beberapa saat pintu pun terbuka. Munculah sosok wanita paruh baya dengan memakai celemek pelayan. Dia tersenyum menyambut Freeya.
“Nona Freeya,” sambutnya.
__ADS_1
“Hai Jenni, apa kabarmu?” Freeya membalas senyuman Pelayan Jenni. Pelayan yang sudah bekerja selama puluhan tahun di rumah tersebut dari Freeya masih kecil. Dia sangat mengenal Freeya berserta keluarganya.
“Baik, Nona. Silahkan masuk...” Pandangan Pelayan Jenni tertuju pada sosok yang berdiri di belakang Freeya, yang tak lain adalah Daniel.
“Oh, dia temanku, apa ayah ada didalam?” ucap Freeya yang sadar dengan tatapan penuh tanya Pelayan Jenni.
Pelayan Jenni kembali tersenyum dan membuka pintu lebih lebar lagi untuk Daniel dan Freeya masuk. “Silahkan masuk Nona, Tuan.”
Saat baru saja sampai di ruang tamu, langkah Freeya terhenti. Mendapati sang ayah yang tengah duduk memangku kaki sambil membaca majalah. Helaan nafas Freeya mengartikan bahwa dirinya tidak ingin bertemu dengan ayahnya itu.
“Ayah,” sapa Freeya berjalan mendekati Tuan Arsyad.
“Kamu sudah datang?” jawab Tuan Arsyad menatap dingin sang putri.
“Siapa dia?” tanya nya saat menatap tajam sosok pria yang berdiri di belakang sang putri.
“Bukankah tadi saya sudah memperkenalkan diri di telpon. Saya Daniel Adichandra,” potong Daniel seraya menjulurkan tangan nya pada Tuan Arsyad.
Tuan Arsyad nampak terkejut sekilas. Tapi matanya yang tajam berubah dingin. Dia tidak menggapai juluran tangan Daniel.
“Ayah...”
Freeya merasa tidak enak karena sikap sang ayah pada Daniel. “Tidak masalah,” ucap Daniel.
“Kamu, mau apa kemari?” tanya Tuan Arsyad.
“Ayah, Daniel ini teman Freeya... kenapa ayah bersikap seperti ini?” sahut Freeya.
__ADS_1
Tuan Arsyad menatap tajam Freeya. “Kamu diam, ayah sedang bicara pada orang ini!”
“Ayah ini apa-apaan sih! Daniel ayo kita pergi, jika sikap ayah seperti ini Freeya tidak suka!” Freeya merasa sangat kesal, dia pun meraih tangan Daniel dan berdiri.
“Freeya, kamu berani melawan ayah?” geram Tuan Arsyad.
“Freeya sudah dewasa, dan Freeya berhak menentukan jalan hidup Freeya sendiri!” ucap Freeya sangat dingin.
“Duduk sekarang juga!” bentak Tuan Arsyad.
Freeya menghela nafas panjang. Dia tidak perduli dengan ucapan sang ayah. Daniel yang melihat perdebatan itu pun menarik tangan Freeya agar kembali duduk.
“Duduklah,” ucap Daniel pelan.
Freeya pun menuruti perkataan Daniel dia kembali duduk. Tuan Arsyad terkekeh dan geleng-geleng. “Kamu bahkan tidak mendengarkan perkataan ayah, tapi kamu malah mendengarkan perkataan pria ini!”
“Ayah, plis! Kenapa ayah bersikap seperti ini pada Daniel, apa salah dia? Apakah ayah seperti ini karena si brengsek Dion Handoko?” geram Freeya.
“Itu salah satunya, tapi yang ayah lebih tidak suka pada pria ini. Karena dia teman si Tuan Ganendra yang sombong itu!”
Freeya tersentak kaget dengan ucapan sang ayah. Dia pun menatap Daniel dengan tidak percaya. Lalu dia kembali menatap sang ayah yang terlihat berapi-api.
“Ayah, kakak ipar bukan orang yang sombong. Dia membantu ayah keluar dari tuduhan palsu yang membuat ayah dipenjara, tapi kenapa ayah masih saja membencinya!” ucap Freeya.
“Tetap saja, ayah tidak suka! Tatapan nya selalu saja seperti merendahkan ayah! Dan orang ini, dia juga sama! Ayah tidak suka kamu berteman dengan nya!” Tuan Arsyad membentak Freeya di depan Daniel.
“Brengsek!” geram Daniel pelan. Sambil mengepalkan tangan nya dengan erat, menahan amarah nya.
__ADS_1
To be continued...