
Nina menutup matanya. Bagas meraih pundak Nina dan memutar tubuh wanita itu menghadap dirinya. Dia mengecup bibir Nina dengan lembut, ketika wanita itu membuka matanya.
“Mau kah kau menjadi kekasihku? Kekasihku seumur hidup?” ucap Bagas menatap intens mata Nina.
“Apakah aku sedang bermimpi?” Nina seperti tidak percaya dengan apa yang dia alami saat ini.
Bagas tersenyum, kemudian mencubit pipi Nina. “Dasar Mochi bodoh,” ucapnya terkekeh.
“Sakit...” Nina memegangi pipinya.
“Cepat jawab aku sekarang, atau aku tidak akan melepaskan mu,”ucap Bagas sembari melingkarkan tangan nya di pinggul Nina.
“Bagas, apa yang kau lakukan?” Mata Nina membulat merasakan tangan Bagas yang menyentuh pinggulnya. “Apakah kau sedang melamar ku?”
“Hmm, bisa dibilang seperti itu. Kenapa? Kau tidak mau?”
“Bukan begitu, tapi...”
“Tapi apa?” Bagas mengerutkan dahinya.
__ADS_1
“Apa aku pantas untuk mu? Aku hanya wanita-”
Bagas menutup mulut Nina dengan tangan nya. “Husst, kau dilarang untuk mengatakan itu ... atau kau akan dihukum.”
“Dihukum?” Nina tidak mengerti.
Bagas pun tersenyum miring kemudian kembali mengecup bibir Nina sekilas. “Itu hukuman nya.”
“Kau!” Nina melotot menutup mulutnya.
“Berapa kali kau sudah mencium ku, dasar mesum!”
Bagas menatap lekat mata Nina. Wanita itu mengerutkan dahinya. Mendengar perkataan Bagas. “Apa maksud mu? Kau kenal dengan Kak Naina? Bagas katakan padaku, sebenarnya apa yang dimaksud oleh Gerry sore tadi? Ada hubungan apa kau dengan Kak Naina dan juga Gerry?”
“Naina adalah mantan kekasih ku saat kami sama-sama kuliah di universitas yang sama, di Amsterdam,” tutur Bagas, suaranya menjadi lirih dan tatapan nya berubah sendu.
Nina menutup mulut dengan tangan nya merasa sangat terkejut. “Tidak mungkin, apa kau pria yang sering diceritakan oleh Kak Naina dulu?”
“Dia pernah bercerita tentang ku?” tanya Bagas
__ADS_1
Nina mengangguk. “Dia bilang bahwa dia merasa bersalah kepada kekasihnya, karena sudah berkhianat sampai dia hamil Gio waktu itu.”
Tanpa sadar air mata Bagas menetes. Nina yang melihatnya langsung mengusap air mata itu dari wajahnya. “Apa kau sangat mencintai Kak Naina?”
“Apakah dia mencintaiku karena mata yang ku miliki adalah mata Kak Naina?” batin Nina bercampur aduk.
Bagas menganggukkan kepalanya. “Aku sangat mencintainya ... tapi itu dulu, perasaan itu sudah lama hilang.”
Nina menegakkan kembali kepalanya. Ia sempat merasa lemas mendengar perkataan Bagas dan pikiran nya yang tidak bisa berpikir jernih.
“Dan sekarang, tidak ada wanita lain yang aku cintai selain dirimu, Mochi.” Bagas menangkup wajah Nina lalu mendekat mengecup kening wanita itu dengan lembut dan penuh kasih.
Nina langsung memeluk Bagas dengan erat. Begitu pun sebaliknya. Bagas menghujami pucuk kepala Nina dengan kecupan hangat.
“Aku siap menerima mu apa adanya, tidak,”-Bagas menyela perkataannya-“tapi maksudku ... aku siap menerima mu dan Gio menjadi bagian dari hidupku.”
Nina semakin mengeratkan pelukan nya dan menenggelamkan wajahnya di dada Bagas. Seakan merasa sangat takut jika ini hanya mimpi yang akan menghilang dalam sekejap. Tapi kenyataan nya ini bukan sebuah mimpi.
Melainkan kenyataan dan balasan dari yang maha kuasa untuknya. Atas kesabarannya selama ini menjalani hidup yang begitu sulit penuh dengan kesedihan. Apakah ini adalah titik terang, bahwa kebahagiaan yang mutlak akan menghampirinya? Nina berharap karunia itu ada. Semoga kedepan nya dia dan Gio bisa merasakan kebahagiaan dengan kehadiran nya Bagas di dalam kehidupan mereka.
__ADS_1
TBC.