
Daniel menatap lurus kearah air mancur yang ada didepan nya. Hati dan matanya seakan berperang. Matanya bersikeras untuk tidak menatap wajah Freeya, tapi hatinya tidak bisa dibohongi, ingin menatap wajah wanita cantik yang tengah duduk disebelahnya.
“Maaf ya, aku tahu pasti sangat sulit untuk mu, mengurus anak-anak selama ini sendiri,” ucap Freeya sembari meraih tangan Daniel dan mengusap lembut punggung tangan itu.
Daniel tertegun dengan perkataan Freeya. Dia tidak bisa menahan lagi untuk tidak menatap wajah Freeya. Wanita itu tersenyum dengan manisnya. Daniel merasakan dadanya yang berdegup kencang.
Seolah-olah ada kilauan cahaya yang menerangi sosok Freeya saat ini di depan nya. Dia terdiam seakan terhipnotis dengan kecantikan dan senyum manis itu.
Freeya mengibas udara di depan wajah Daniel. Hingga membuatnya tersentak dan tersadar dari lamunan nya.
“Apa yang sedan kamu pikirkan?” Freeya tersenyum menyeringai. “Pasti kamu terpukau dengan kecantikan ku, ya? Haha... tentu saja.”
“Dia mulai lagi...” Daniel menghela nafas dan memalingkan wajahnya.
“Wajar saja, kamu seperti itu ... aku tau kok, kecantikan ku itu pasti sudah membuatmu terhipnotis...”
“Diam lah...”
“Kenapa aku harus diam? Memang benar kan.”
“Terserah, aku bilang diam.” Daniel mulai gemas dengan tingkah Freeya yang terlalu percaya diri.
“Kalau aku gak mau?” ucap Freeya seperti menantang.
Daniel menyipitkan matanya menatap Freeya. Tanpa sadar, dia meraih tengkuk leher Freeya. Lalu mendekat kan wajahnya dan menyatukan bibir mereka berdua.
Lama berdiam seperti itu. Freeya sangat terkejut hingga dia tidak bergerak. Dadanya berdegup sangat kencang. Perlahan matanya tertutup, Freeya membalas ciuman Daniel.
Daniel pun tersadar. Seketika matanya membulat merasakan bibir Freeya yang tadinya tegang kini menjadi lembut. Dia memegang kedua pundak Freeya dan dengan cepat melepaskan bibir mereka berdua.
Saling menatap dengan wajah terkejut masing-masing. Daniel menelan saliva, rasa gugup seketika menghampirinya.
__ADS_1
“Kamu ... tidak- maksudku a-aku...” Daniel tergagap.
“Ohh, ****! Jika kamu berisik lagi seperti tadi, aku akan menyumbat kembali mulutmu itu...”
Mengusap wajahnya yang sudah memerah. Lalu beranjak dan segera pergi dengan tergesa-gesa. Meninggalkan Freeya yang masih mematung seperti es. Sambil memegangi bibirnya.
“Apakah dia tadi mencium ku?”
“Akhh, sangat memalukan! Kenapa aku harus menutup mata tadi?” Freeya mengacak-acak rambutnya. “Malu sekali, Freeya kamu sudah gila...”
Selagi dia sibuk menggerutui kebodohan yang barusan dia lakukan. Ternyata ada sepasang mata yang menatap tajam Freeya sedari tadi. Seorang pria bertubuh tegap dan kekar, rahangnya yang tegang, memperlihatkan jelas ketidaksukaan nya pada Freeya dan Daniel. Dialah Dion Handoko pria berusia 38 tahun, pemilik rumah sakit Husada tempat Freeya bekerja.
“Freeya...” panggil Dion pada Freeya yang duduk di bangku taman.
Sontak Freeya terkejut, dia langsung menatap ke arah suara yang memanggilnya. Matanya membulat menatap Dion yang berdiri didepan nya.
“Dokter Dion,” ucap Freeya dengan terbata.
Ia segera beranjak dan menunduk hormat pada Dion. Freeya menarik nafas panjang dan mencoba menenangkan diri. “Apa Dokter Dion tadi melihatnya? Auggh, matilah aku...” batin Freeya.
Freeya terdiam mendengar nama sang ayah disebut. Dia berpikir sejenak lalu tersenyum.
“Maaf, sepertinya aku tidak bisa ... lagi pula ayahku tidak mengundangku makan malam,” jawab nya.
“Aku akan menjemputmu,” ucap Dion kembali.
“Aku tidak bisa, maaf ... aku harus pergi...” tolak Freeya halus dengan senyuman paksa nya. Sebenarnya dia merasa risih dengan sikap Dion yang seolah-olah mengintimidasinya.
“Aku akan menjemputmu, Freeya...” Dion berkata tegas seraya menarik tangan Freeya yang hendak pergi.
Freeya terhuyung kebelakang dan Dion menangkap pinggul nya. Merasa tidak suka disentuh, Freeya tanpa sadar mendorong tubuh Dion menjauh.
__ADS_1
“Dokter Dion, tolong anda tidak bersikap seperti ini lagi! Aku bukan tipe wanita yang bisa kamu atur-atur sesuka hati ... ingat kamu bukan siapa-siapaku, kamu tidak berhak mendikte hal yang harus aku lakukan! Lepaskan tangan ku!” ucap Freeya tegas dan ketus.
“Freeya, maaf. Bukan maksudku seperti itu...” Dion mencoba meraih tangan Freeya kembali.
“Jangan sentuh aku!” Freeya menyingkir dan segera pergi meninggalkan Dion.
Pria itu menatap kepergian Freeya dengan hati yang panas. Sudah kesekian kali Freeya menolaknya mentah-mentah seperti itu. Membuatnya semakin ingin memiliki wanita yang susah diatur itu.
“Sial! Kali ini kau masih bisa bersikap seperti itu padaku ... tapi di lain waktu aku akan membuatmu tidak punya pilihan untuk menerima diriku...” Dion benar-benar terobsesi untuk memiliki Freeya.
“Gila! Dia pikir dia siapa? Memaksaku seperti itu, hanya akan membuat ku semakin tidak suka padanya!” Freeya terus menggerutu.
To be continued...
🌺Freeya🌺
🌺Daniel🌺
🌺Dion Handoko🌺
__ADS_1
Note : Kalau misalkan ada yang salfok, kok nama nya Dion? Bukan nya Dion itu asisten pribadinya Daniel? Memang sama yah kakak-kakak namanya. Kalau yang satu kita panggil Asisten Dion dan yang satu nya lagi Dokter Dion atau Om Dion yah...
Semoga tidak ada yang kebingungan 🙏🏻🙏🏻🙏🏻🙏🏻