Selling My Virginity (Menjual Keperawanan Ku)

Selling My Virginity (Menjual Keperawanan Ku)
Selling My Virginity Ch 110.


__ADS_3

Pagi itu bersamaan dengan Dewa yang datang ke kantor polisi setempat, untuk memastikan Melanie. Bagas dan Agil juga ikut hadir.


Di ruangan yang berbeda dengan halat jendela kaca. Bagas dan Agil mendengar semua perkataan Dewa dan Melanie yang bertengkar. Sangat miris dan disayangkan, dua orang yang pernah menjadi pasangan itu kini malah bertengkar. Terlebih Dewa yang terlihat kalap mata sampai mencekik Melanie.


“Amanda dinyatakan meninggal tadi malam, dia kehabisan banyak darah,” ucap Bagas kepada Agil.


Agil terus menatap ke arah Dewa yang menangis di sudut ruangan. Merasa kasihan, tapi mau bagaimana lagi. Agil juga merasa semua yang terjadi pantas di dapatkan oleh ketiga orang itu. Karma pasti berlaku.


“Kapan pemakaman nya?”


“Sekitar jam 10, apa kamu mau hadir?”


“Entahlah, aku mau mengabari Beby lebih dulu.”


Agil keluar dari ruangan tersebut. Meninggalkan Bagas, yang masih belum puas melihat kehancuran Dewa dan Melanie. Rasa simpatinya sudah hilang, terlebih kepada dua orang itu Melanie dan Dewa. Bagaimana mereka sudah menyakiti Beby selama ini.


Di luar. Agil mencoba menghubungi nomor telpon Beby. Berkali-kali tapi tak kunjung ada jawaban. Agil merasa aneh, biasanya jika dia menelpon Beby dengan cepat mengangkat nya. Tapi kenapa sekarang istrinya itu mengabaikan panggilan nya.


“Apa yang di lakukan nya?” gumam Agil kesal.


***


Disisi lain, Beby yang tengah mandi tidak menghiraukan ponselnya yang berdering diatas nakas. Setelah selesai mandi ia langsung mengenakan pakaian santai. Meraih ponselnya dan berjalan keluar kamar tanpa mengeringkan rambutnya.


Duduk dengan manis di ruangan santai. Menonton tv sambil memakan buah-buahan segar yang fi siapkan oleh pelayan.


“Pembunuhan? Tadi malam di apartemen x? Bukan kah itu apartemen Dewa?”


Beby mengeraskan volume tv, di saluran berita utama. Menayangkan tentang pembunuhan yang terjadi semalam. Sebenarnya dia berencana menonton tv untuk menonton berita mengenai tabrakan yang terjadi kemarin sore. Yang hampir membuat dirinya dan Agil tertabrak, jika tidak ada Bagas yang mengorbankan dirinya sendiri.


Agil dan Bagas sengaja tidak memberitahu Beby tentang prasangka mereka tertuju kepada Melanie. Karena tidak ingin Beby terlalu berpikir, tidak baik untuk kesehatan bayinya.


“Itu memang apartemen Dewa, di unit yang sama! Siapa yang di bunuh? Dewa?”


Beby nampak begitu terkejut. Menutup mulutnya tidak percaya. Dia merasa sedikit mual melihat keadaan disana yang disorot kamera. Penuh darah yang berserakan. Mengerikan sekali bagi Beby.


Pembawa berita menyatakan bahwa seorang wanita korban nya berinisial A dan pelakunya juga seorang wanita berinisial M. Dikatakan disitu juga, korban A adalah istri dari pemilik apartemen berinisial D yang tengah hamil dua bulan.

__ADS_1


Sontak Beby semakin terkejut. “Amanda? Lalu yang membunuh M? Tidak mungkin itu Melanie bukan?”


Seketika bulu kuduk Beby berdiri. Dia merasa tidak percaya karena baru sekitar satu bulan yang lalu bertemu dengan Amanda dan Dewa di klinik kandungan. “Amanda dan bayinya meninggal dunia, kasihan sekali.”


Beby merasa sedih, tanpa sadar air matanya menetes. Dia memang sangat membenci ketiga orang itu. Namun, Beby sendiri masih memiliki hati nurani. Mendengar berita tersebut membuat nya sedih.


Beby tersentak kaget, ketika ponselnya berdering. Dia mengusap air mata dan segera mengangkat panggilan tersebut.


“Halo? Sayang, maaf aku tidak mengangkat panggilan mu ... tadi aku di kamar mandi.”


“Tidak apa-apa.”


“Kamu dimana sekarang? Pagi-pagi sudah gak ada ....”


“Aku dan Bagas ada di kantor polisi, untuk mengurus kasus kecelakaan kemaren sore.”


“Apa kamu sudah melihat berita? Tentang kasus pembunuhan semalam?”


“Aku baru mau mengabari mu ... Amanda sudah meninggal dan akan di makamkan jam 10 pagi.”


“Kasihan sekali nasibnya.”


“Iya, sayang bawel ... tapi, apakah pelaku penabrakan itu sudah tertangkap? Siapa dia? dan apa motifnya melakukan itu?”


“Sebenarnya-”


“Sebenarnya apa?”


“Melanie lah pelakunya ... dia sempat kabur dan datang kerumah Dewa tadi malam. Rupanya dia tidak terima hidup nya susah sedangkan Dewa bahagia bersama Amanda.”


Deg.


Beby tidak bisa berkata-kata lagi. Melanie, tega berpikiran untuk menabrak nya. Bahkan dia juga sudah membunuh Amanda. Beby merasa ngeri dan takut kepada Melanie.


“Moe ... Moe, apa kamu masih mendengarkan?”


“Sayang, sepertinya kepala ku sedikit sakit. Aku mau istirahat.”

__ADS_1


“Baiklah, istirahat sana ... jangan terlalu memikirkan hal itu, aku dan Bagas akan mengurusnya.”


Panggilan pun terputus. Beby menatap saluran berita yang masih terus menayangkan berita tentang pembunuhan tersebut. Terlebih ketika tersangka berinisial M itu di mintai keterangan. Dengan wajah di blur dan suara yang disamarkan. Dia tertawa begitu ngeri dan tidak merasa bersalah sudah melakukan kejahatan itu.


“Dia benar-benar sudah gila.”


Dengan tangan gemetaran Beby mematikan tv menggunakan remote. Beby mengusap jemarinya yang basah akibat keringat dingin. Beby merasa takut dengan Melanie yang nekat berbuat kriminal. Demi balas dendam kepadanya.


🌺🌺🌺


Dua minggu berlalu. Kini Agil, Beby, Bagas, dan Dewa. Sedang berada di ruang sidang mengenai kasus Melanie. Hari ini hakim menjatuhkan hukuman ringan dengan alasan bahwa mental Melanie yang terganggu.


Dewa tidak terima dengan keputusan tersebut. Dia berteriak menunjuk Melanie yang menyeringai. Wajah licik wanita itu membuat Dewa ingin mencabik-cabik nya.


Istrinya telah meninggal karena di bunuh. Tapi Hakim malah menjatuhkan hukuman ringan. “Dia bohong! Dia tidak gila, dia waras dan normal! Dua nyawa yang dia renggut, bagaimana bisa hukuman nya tidak setimpal! Dia harus di hukum mati, jika tidak aku yang akan membunuhnya sendiri!”


Bagas menahan tubuh Dewa sekuat tenaga. Ketika Dewa berusaha menyerang Melanie. Dia sudah tidak perduli dengan hidupnya yang hancur karena kepergian Amanda.


“Hei, sadarlah! Apa kamu mau masuk penjara juga?” ucap Bagas kepada Dewa.


Disisi lain. Beby menangis dan tidak mau menatap wajah Melanie yang menyeringai ke arahnya. Beby berpaling dan masuk kedalam dekapan Agil. Dia takut jika Melanie akan nekat berbuat jahat padanya. Seperti yang dia lakukan kepada Amanda.


Di perjalanan pulang. Bagas yang sedang menyetir melirik adiknya yang duduk di kursi belakang sendirian. Sedangkan suaminya duduk di kursi sebelahnya.


“Beby, kamu tidak apa-apa?” tanya Bagas.


Beby diam dan masih melamun menatap keluar jendela. Memikirkan tentang Melanie yang menjadi gila. Rasa takut nya semakin besar, terlebih diketahui bahwa Melanie masih bisa bebas dari penjara, setelah hukuman nya selesai.


“Moe,” panggil Agil yang menoleh kebelakang dan menyentuh tangan Beby.


Beny tersentak kaget. “Hah? Apa kalian bicara dengan ku?”


“Moe, aku sudah bilang jangan terlalu memikirkan nya.”


Beby menatap Agil dengan wajah cemas dia mengangguk dan tersenyum pasif. “Aku tidak memikirkan apa-apa, sayang.”


“Agil benar, kamu tidak usah khawatir ... ada kami disini yang akan menjaga mu,” sahut Bagas.

__ADS_1


Beby mengangguk dan menatap kedua pria di depan nya. Betapa beruntungnya, dia di kelilingi orang-orang yang sangat menyayanginya. Walaupun begitu, Beby masih tidak bisa memungkiri rasa takutnya itu. Suatu saat Melanie pasti akan kembali untuk membalas dendam kepadanya.


TBC.


__ADS_2